Warung Tenda dan Parkir Mahal, Aji Mumpung di Musim Liburan yang Merugikan Pariwisata Lokal

Tergiur untung cepat, tapi tidak berpikir efek jangka panjang

160
SHARES

Musim libur Lebaran yang baru saja berlangsung menyisakan banyak cerita menarik. Salah satunya yang kemudian viral adalah soal tarif makan di warung tenda di Malioboro, Yogyakarta yang kelewat mahal dan karcis parkir objek wisata yang tak sesuai dengan peraturan pemerintah daerah.

Meski beberapa orang menganggap hal tersebut lumrah terjadi di musim liburan (apalagi libur Lebaran), pada akhirnya praktik menyimpang tersebut justru bisa mematikan potensi wisata lokal yang telah berkembang.

Warung tenda dengan harga kebangetan

Kawasan Malioboro dikenal sebagai jujugan wajib bagi wisatawan yang melancong ke Yogyakarta. Sudah sejak puluhan tahun pula umum diketahui bahwa makan di warung tenda lesehan di sepanjang jalan Malioboro adalah pilihan yang kurang tepat. Kenapa begitu? Ya karena harganya suka kebangetan mahalnya. Bukan nggak mungkin, seporsi menu pecel lele bisa setara dengan harga sekali makan di restoran mewah! Hal ini bisa terjadi karena dulu warung-warung tersebut nggak mencantumkan daftar harga. Sekali ketebak kamu bukan warga lokal, harga yang diberikan bisa nggak masuk akal. Itu semua mulai berubah saat pemerintah daerah Yogyakarta meminta para pedagang lesehan untuk mencantumkan daftar harga di warung tendanya. Pelan-pelan, praktik menaikkan harga makanan secara nggak wajar pun mulai berkurang. Meski begitu, ada momen-momen tertentu yang membuat para pedagang kembali ‘nakal’, yakni di musim liburan.

Ilustrasi warung tenda lesehan Malioboro – krjogja.com

Kasus terbaru terjadi di musim libur Lebaran beberapa waktu lalu, dimana Lesehan Intan terpaksa ditutup sementara oleh UPT Malioboro karena kedapatan mematok harga tidak wajar. Melalui akun sosial media, salah seorang pembeli di Lesehan Intan mengeluhkan harga yang diberikan. Dalam nota yang diterimanya, tertulis harga tiga porsi bebek goreng sebesar Rp 96 ribu, ayam goreng empat porsi Rp 120 ribu, gudeg ayam dua porsi Rp 90 ribu, nasi putih tujuh porsi Rp 80 ribu, 1 gelas lemon tea Rp 9 ribu, 2 gelas es jeruk Rp 18 ribu dan 4 gelas teh panas Rp 32 ribu. Total ia harus membayar Rp 490 ribu, yang berarti biaya makan per orang mencapai Rp 70 ribu jika dirata-rata.

Karcis parkir objek wisata yang diubah-ubah seenaknya

Tidak hanya perkara makanan saja, namun juga persoalan parkir kendaraan. Meningkatnya intensitas pengunjung di kawasan objek wisata menjadi momentum yang tentunya tak mau dilewatkan oleh warga setempat. Namun bukannya kreatif menjual cenderamata atau buah tangan lainnya, warga setempat justru memanfaatkan lahan parkir sebagai tempat mengeruk pundi-pundi Rupiah.

Jangan sampai banyak orang melakukan perbuatan tidak benar mencoret-coret uang karena kesal dengan ulah juru parkir nakal – dikidi.com

Pemerintah daerah sebenarnya telah mengatur secara jelas tarif parkir untuk berbagai kawasan, termasuk daerah objek wisata. Katakanlah biaya parkir kendaraan roda dua Rp 2.000, roda empat Rp 5.000 dan kendaraan travel atau bus Rp 10.000. Besaran harga tersebut bisa naik berkali lipat karena momen liburan. Coba bayangkan seandainya kamu diharuskan membayar Rp 20.000 untuk parkir mobil di sebuah objek wisata. Bukannya bersenang-senang, bisa-bisa kamu malah marah-marah, kan? Soalnya, kadang kita menjumpai karcis resmi yang berharga normal telah dicoret-coret sesuai ‘harga liburan’ yang diinginkan oleh si juru parkir. Harganya kelewat mahal pula!

Mental yang berbahaya bagi industri pariwisata

Orang-orang yang mengambil untung dari momen liburan tersebut boleh jadi bisa mendulang Rupiah dengan cepat dalam beberapa waktu. Tapi mereka tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya itu justru mengancam kehidupannya sendiri berikut dengan kawasan di sekitar yang menggantungkan perekonomian dari pariwisata.

Ada banyak hal yang bisa dikembangkan daripada sekedar mematok harga makanan dan tarif parkir yang mahal di kawasan wisata – bisniswisata.co.id

Dengan melakukan pungutan liar diluar ketentuan, wisatawan cenderung menaruh stigma buruk. Mereka jadi enggan untuk kembali lagi, bahkan bisa membagi cerita buruknya pada calon wisatawan lain. Penutupan lesehan Intan oleh UPT Malioboro karena mematok harga tak wajar juga bisa jadi pelajaran, bagaimana seorang konsumen yang kecewa bisa membuat karier berdagang pemilik lesehan Intan harus tamat begitu saja jika tidak kapok untuk mematok harga tak wajar.

Kalau mau kreatif, sebenarnya warga setempat bisa memanfaatkan banyak hal lain ketimbang menaikkan harga makanan atau karcis parkir, mulai dari menawarkan jasa hingga berjualan cenderamata. Namun sayang, mereka lebih tergiur dengan pendapatan yang cepat lagi instan….

160
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~