Sebentar Lagi, Warnet Hanya untuk 18+. Terus Mereka yang Masih Sekolah Bagaimana?

“Pak, terus saya harus ngerjain tugas sekolah di mana?”

Apa yang akan segera terjadi di Indonesia ini mungkin menjadi fenomena satu-satunya di dunia. Sebentar lagi, warnet (warung internet) hanya boleh dinikmati oleh mereka yang sudah berusia 18 ke atas. Pertanyaannya, kalau jadi terealisasi, terus adik-adik kita yang masih sekolah harus bagaimana?

Kalau warnet hanya untuk 18 tahun ke atas, lalu bagaimana nasib mereka yang masih sekolah? | newshub.id

Sudah mulai diberlakukan

Peraturannya pun akan diperketat. Selain hanya untuk kalangan 18+, waktu operasional warnet akan disamakan dengan mal. yaitu pukul 09.00-22.00. Akan ada sanksi berupa peringatan tertulis, penghentian sementara, pembekuan, hingga pencabutan izin bagi warnet mana pun yang melanggar.

Akan ada berbagai sanksi bagi warnet mana pun yang terbukti melanggar. | polri.go.id

Pemerintah tidak berhenti sampai di situ, karena penutupan akses ke situs-situs berbau porno, SARA, dan kekerasan juga akan diberlakukan. Bahkan, mereka berencana akan menghubungkan semua unit PC ke dalam satu server. Jadi kalau ada yang mengakses situs terlarang, bisa langsung ketahuan.

Meski peraturan pemerintah ini terkesan dipaksakan dan sedikit gila, tapi nyatanya, sudah mulai diterapkan Pepkot Samarinda, Kalimantan Timur. Dan menurut saya, ini jelas akan menimbulkan pro kontra, soal pembatasan usia, misalnya. Karena seperti PC, warnet pun harusnya untuk semua umur.

Persoalan yang ‘nggak penting’

Kita sudah hidup di era yang maju, internet ada di mana-mana, perangkat untuk mengaksesnya pun sudah banyak orang yang punya. Tapi ingat, banyak itu tidak berarti semua. Bagaimana dengan adik-adik kita yang masih sekolah, yang tidak punya PC di rumah, tapi harus mengerjakan tugas sekolah?

Tidak semua anak sekolah seberuntung mereka yang hidup di kota, yang bapak-ibunya orang kaya, yang semua kebutuhan tinggal minta. Adik-adik kita yang hidup di desa, pegunungan, atau perbatasan negara, harus mencari warnet beramai-ramai agar bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah mereka.

Ingat, tidak semua anak sekolah punya PC untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah di rumah. | kokosenoz.blogspot.com

Hal semacam ini, apa pemerintah lupa? Atau, mereka justru menganggapnya sebagai persoalan yang ‘nggak penting’ demi mewujudkan Indonesia yang bebas pornografi, SARA, dan kekerasan? Kalau memang ketiga hal itu persoalannya, maka pembatasan usia pelanggan warnet bukan solusianya.

Pemerintah punya wewenang dan kapabilitas untuk menutup semua situs terlarang di Indonesia. Jadi, mengapa harus adik-adik kita yang masih sekolah, yang masih harus bangun pagi setiap hari, yang masih harus minta uang orang tuanya agar bisa menyewa satu PC di warnet, yang menjadi korban?

Atau bagi pemerintah, menghentian sementara, membekukan, hingga mencabut izin operasional warnet, dan mengesampingkan hak-hak anak sekolah adalah hal yang jauh lebih mudah ketmbang harus memberantas segala macam situs terlarang yang secara terang-terangan online di Indonesia?

Sobat Inovasee yang cantik, tampan, dan budiman, bagaimana menurut kalian?

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Ternyata, Penderita Depresi Bisa Diketahui dari Foto Apa yang Dipostingnya di Instagram

Pantang Menyerah, Cowok Ini Tetep Semangat Nembak Cewek Meskipun Ditolak Berulang Kali