Viral Cerita Sopir Truk Soal Bisnis Mayat yang Mampu Berikan Keuntungan Jutaan Rupiah Sekali Angkut

Kisah ini menjadi bukti bahwa fasilitas kesehatan di Indonesia memang belum bisa dinikmati oleh setiap orang

Sebuah thread di Twitter baru-baru ini menghebohkan netizen Indonesia. Pasalnya, kisah yang dicuitkan oleh akun @Destyadarmawan itu menceritakan pengalaman ngeri-ngeri sedap yang dirasakan ayahnya saat pulang mudik Lebaran lalu dengan menumpang truk kawannya.

Bukan perkara ngebut atau ugal-ugalan di jalan raya yang menjadi penyebab kengerian itu, melainkan sebuah pengetahuan baru yang didapat oleh sang ayah: tidak semua yang duduk di dalam truk adalah manusia hidup, melainkan ada yang sudah menjadi mayat! Bagaimana kisahnya?

Thread yang dicuitkan oleh @Destyadarmawan (twitter)

Destya bercerita bahwa pekerjaan sang ayah membuatnya sering bolak-balik Jakarta-Jawa Timur. Transportasi yang biasa digunakan pun jika tidak kereta, maka bus yang jadi pilihan. Namun berhubung tiket habis menjelang Lebaran, sang ayah pun terpaksa mudik dengan menumpang truk pengangkut barang dengan kawannya.

Saat tiba waktunya untuk istirahat makan, ayah Destya pun turun dan melihat ada satu truk yang sudah berhenti agak lama dengan berisi tiga orang penumpang. Dua dari tiga penumpang tersebut turun dan pergi makan, sedangkan yang seorang tetap diam di dalam truk bak orang tidur, dan mengenakan kacamata.

Ilustrasi penumpang truk (hipwee)

Sang ayah pun curiga dan mulai bertanya-tanya, kenapa dua orang penumpang truk tadi tidak mengajak serta orang yang tidur itu. Ia pun menanyakan hal tersebut pada kedua orang yang sudah turun dan pergi makan tadi. Jawaban mereka tak disangka-sangka, karena ternyata orang yang berada di dalam truk tadi adalah mayat yang sengaja didandani layaknya orang hidup!

Sang ayah mulai curiga (twitter)

Dengan diliputi rasa bingung, ia pun bertanya-tanya kenapa mereka membawa mayat? Kenapa mayat itu tidak dimasukkan ke dalam peti, tapi justru didudukkan seperti penumpang biasa? Dan yang lebih penting, mayat siapakah itu?

Mayat siapa? (twitter)

Usut punya usut, ternyata kedua orang sopir dan kenek tadi memang dibayar untuk membawa pulang mayat tersebut ke kampung halamannya di Surabaya. Kenapa tidak menggunakan ambulans? Menurut pengakuan sang sopir, biayanya mahal dan bisa mencapai belasan juta jika membawa jenazah dari Jakarta ke Surabaya. Oleh karena itu membawa mayat dengan truk menjadi alternatif yang ternyata cukup banyak dilakukan. Tentunya dengan syarat kondisi mayat masih ‘bagus’.

Lebih murah dengan truk daripada sewa ambulans (twitter)

Hal ini dikarenakan mayat bakal didandani layaknya orang yang masih hidup sehingga bisa didudukkan di bangku penumpang sambil dipakaikan kacamata. Mayat tersebut tidak bisa dimasukkan ke peti mati karena setiap truk barang harus dicek muatannya di tempat penimbangan, sehingga bisa repot urusannya jika ketahuan ada peti mati di belakang. Dengan mendandani mayat layaknya orang hidup, mereka bisa mengurangi resiko soal peti mati sekaligus menghindari pemeriksaan polisi.

Bisnis mengantarkan mayat ini memberikan tambahan pemasukan bagi sopir dan keneknya (twitter)

Untuk mengangkut mayat tersebut, sopir dibayar Rp5 juta sekali jalan. Tak jarang mereka bahkan tidak tahu mayat siapa yang diangkutnya. Mereka hanya tahu harus minta uang ke siapa dan mengantar mayatnya kemana. Menurut pengakuan sang sopir, ia pun sebetulnya tak ingin melakukan pekerjaan semacam ini. Namun dorongan untuk mendapatkan tambahan pemasukan dengan cara yang terbilang mudah membuat banyak sopir lain juga bersedia melakukannya.

Dari kisah ini, kita bisa menyimpulkan pesan bahwa fasilitas kesehatan di Indonesia memang masih belum bisa dijangkau oleh semua kalangan. Meskipun ada lembaga-lembaga yang menyewakan ambulans secara gratis, namun toh tetap saja praktik pengantaran mayat ini bisa ditemukan.

By the way, kalau suat ketika kamu lihat ada truk berisi tiga orang penumpang dan yang duduk di tengah terlihat tidur sembari memakai kacamata, mungkin yang kamu lihat itu adalah…….

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *