Hakim Ini Mengusulkan Adanya Tes Keperawanan Sebelum Menikah, Apa Alasannya?

Setuju nggak?

Pernikahan bukanlah hal sederhana seperti yang kamu bayangkan saat ini. Pasangan yang memutuskan untuk menikah, seharusnya sudah memikirkan apa saja konseskuensi dari pernikahan dan siap lahir batin untuk menjalaninya. Namun nampaknya, orang-orang sekarang sangat mudah melakukan “pernikahan” hanya didasarkan rasa cinta. Nggak heran kalau akhirnya banyak terjadi kasus perceraian yang disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT.

KDRT dalam perkawinan (jurnalsumut.com)

Kekerasan rumah tangga ini sangat banyak macamnya. Nggak cuma suami yang memukuli istri, suami yang tak memberikan nafkah, menelantarkan istri dan anak, perkosaan terhadap anak oleh ayahnya hingga orang tua yang rela menjual anaknya sendiri dan dijadikan PSK. Jika sudah begini, biasanya perceraian menjadi jalan keluar.

Padahal pernikahan adalah “kerajaan agung” yang didalamnya kelak muncul tunas-tunas baru penerus keturunan dan masa depan bangsa negara. Menanggapi banyaknya kasus perceraian karena KDRT ini, Hakim Binsar Gultom menuangkan pendapat dalam bukunya “Pandangan Kritis Seorang Hakim” yang berhasil dikutip dari detikcom. Hakim Binsar ini mulai dikenal publik saat menangani kasus Jessica Kumala Wongso.

Harus ada revisi UU Perkawinan

Dalam halaman 213, Hakim Binsar menyebutkan sebanyak 230 perkara perceraian yang telah dia tangani sejak tahun 1996. Banyaknya masalah perkawinan, menjadi pengingat bagi pemerintah untuk merevisi UU Nomor 1/1974 tentang Perkawinan.

Harus ada revisi UU Perkawinan (dakwatuna.com)

Menurut pendapat Hakim Binsar, usia minimal pernikahan harus diubah. Bagi perempuan minimal berusia 21 tahun, sedangkan bagi pria minimal berusia 25 tahun dengan syarat salah satu pihak memiliki penghasilan tetap. Selain itu Binsar juga menjelaskan, bila perlu sebelum menikah harus diatur persyaratan yang tegas.  Misalnya calon mempelai harus dalam keadaan suci, artinya masih perawan atau tidak yang nantinya dibuktikan dengan tes keperawanan dan tes keperjakaan.

Bukan tidak boleh menikah, jika memang sudah tidak perawan atau tidak perjaka maka harus ada tindakan preventif dan represif dari pemerintah. Barangkali pernikahan bisa ditunda atau berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak dan kebijakan pemerintah terkait.

Lalu, kenapa harus ada tes perawan dan perjaka?

Disadari atau tidak, salah satu faktor yang melatarbelakangi perpecahan dalam rumah tangga adalah karena perkawinan dilakukan dalam keadaan terpaksa. Biasanya si calon mempelai perempuan sudah hamil terlebih dahulu sehingga pernikahan harus segera dilakukan sebelum perut terlihat membesar.

Lalu, kenapa harus ada tes perawan? (huffpost.com)

Atau bisa juga karena pihak laki-laki merasa telah dibohongi hingga merasa berhak berbuat semena-mena terhadap istrinya dan kemudian menelantarkan anak-anaknya pula. Ini juga menjadi penyebab terjadinya KDRT dan berujung perceraian.

Tes ini bukanlah ketentuan negara hingga tak ada prosedur resmi. Usulan ini lebih ditujukan kepada keluarga yang hendak menggelar pernikahan. Para orang tua diminta untuk memastikan bahwa anaknya yang akan menikah benar-benar atas dasar cinta. Bukan karena menutupi aib. Jadi harus benar-benar yakin terlebih dulu sebelum menikah. Agar makin yakin, orang tua bisa menindaklanjuti dengan melibatkan tim medis dengan tes perawan atau perjaka.

Dari sini orang tua bisa mengambil kesimpulan. Jika ada indikasi niat pernikahan dilandasi dengan keterpaksaan lebih baik tidak dilanjutkan. Karena pada umumnya rumah tangga hancur karena pernikahan tidak dilandasi rasa cinta. Jika tetap dipaksa, bahkan KDRT, perceraian hingga pembunuhan bisa terjadi kapan saja.

Kamu setuju dengan usulan Hakim Binsar? Yuk bagikan pendapat kamu di kolom komentar.

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Erinda

"You can if you think you can"

Faktanya, Susu Khusus Ibu Hamil Adalah Kebohongan Industri yang Tak Perlu Dipercaya

Kisah Mengharukan Seorang Ayah yang Rela Makan Mie Selama 7 Tahun Demi Sekolahkan Anaknya