Problematika Remaja: Idealnya, Menikah Itu di Usia Berapa?

20, 25, atau berapa?

Pernikahan tidak hanya bertujuan untuk menyalurkan hasrat biologis secara sah, namun juga harus disertai kesanggupan mengelola keluarga dengan sepenuh hati. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, pada usia berapa kita berkompeten membangun keluarga dengan baik dan sepenuh hati?

blushandberyl.com

Beberapa waktu lalu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengajak para santri yang menempuh pendidikan di pesantren di seluruh Indonesia untuk tidak menikah muda. Alasannya sederhana, “Alangkah lebih baik jika menikah pada usia matang dan tidak pada usia dini.”

Ajakan ini muncul karena kasus pernikahan dini masih sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia (khususnya di lingkungan pesantren), di mana banyak remaja berusia 16 hingga 19 tahun sudah melepas masa lajang mereka.

Mengapa menikah dini?

Salah satu alasan pernikahan di usia muda adalah untuk menghindari perbuatan dosa. (Lagi-lagi) di kalangan santri misalnya, mereka diajarkan untuk konsisten menghindari pacaran dan pergaulan bebas, karena itu akan mendekatkan pada perbuatan zina yang sangat dilarang dalam agama.

rappler.com

Sementara di sisi lain, mereka juga sedang mengalami masa pubertas yang mengakibatkan timbulnya rasa ketertarikan pada lawan jenis yang sangat kuat. Dan ini tentunya berbahaya.

Alasan lain, adalah karena adanya budaya pergaulan yang sedemikian ‘gaul’ di kalangan remaja Indonesia pada umumnya. Derasnya arus informasi akibat teknologi yang semakin maju sangat berperan atas berkembangnya masa pubertas yang sedemikian cepat di antara mereka.

Tentu, hal ini menimbulkan sejumlah kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua. Jadi ketika melihat anak mereka mulai tertarik pada lawan jenis, dia akan segera ‘dipaksa’ untuk melanjutkan hubungan itu secara sah dan bertanggung jawab dengan melaksanakan akad nikah.

Dilema usia dan kejiwaan

Alasan-alasan di atas memang masuk akal. Namun akan timbul masalah lain: Apakah mereka sudah cukup matang dan berkompeten menjalani kehidupan keluarga dengan segala macam masalahnya, pada pernikahan di usia sedini itu?

youtube.com

Karena kalau tidak didasari dengan kedewasaan pikiran, dikhawatirkan yang terjadi hanyalah upaya mencegah perbuatan maksiat, namun tidak disertai dengan visi yang kuat untuk membangun rumah tangga. Suami belum punya sifat kebapakan, istri juga belum paham bagaimana berperilaku keibuan.

Meski begitu, tetap sulit memberi batas kematangan pikiran seseorang. Apakah usia 19 tahun itu matang? Ataukah usia 21, 24, atau berapa?

Bagaimana kalau ada anak yang baru berusia 16 tahun namun sudah memiliki kematangan pikiran? Sudah mampu berproduksi secara ekonomi, memiliki sifat tanggung jawab, kebapakan, kepemimpinan yang menonjol, dan berbagai sifat yang diperlukan sebagai seorang suami.

Anak seperti itu mungkin ada. Namun walau bagaimana pun, usia 16 tahun itu masih sangat muda. Kalau anak semuda itu harus menikah dini, maka dia harus rela meninggalkan dunia remaja saat itu juga, dan akan berstatus sebagai orang tua dalam waktu yang lama.

Dia akan kehilangan masa-masa remaja yang merupakan lahan luas untuk bebas mengekspresikan potensi.

Kejelasan visi

Pada kasus lain, ada juga remaja yang sudah berusia 25 tahun namun belum dewasa, belum mempunyai visi yang jelas mengenai keluarga. Jadi apa intinya? Usia itu relatif. Yang sangat diperlukan dalam membangun keluarga adalah kejelasan visi.

antokphography.com

Pernikahan harus dilandasi dengan visi yang sangat jelas mengenai peran-peran suami, istri, orang tua, anak, dan berbagai tanggung jawab yang ada pada masing-masing peran itu.

Jadi kemungkinan besar, yang dikhawatirkan BKKBN adalah perbuatan zalim dan tidak bertanggung jawab akibat pernikahan yang terjadi tanpa adanya kejelasan visi.

Karena masih terlalu muda, sangat mungkin seseorang belum memiliki kematangan pikiran dan kejiwaan, sehingga rumah tangganya mudah mengalami guncangan, bahkan berantakan karena belum siap menanggung beban permasalahan.

Oleh karena itu.. yang diperlukan adalah kesiapan diri yang memadai, terlepas dari banyaknya perdebatan soal di usia berapa tepatnya kita harus menikah.

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Diantara 7 Tipe Cewek ‘Jones’ Berikut Ini, Kamu Termasuk yang Mana Mblo?

Dianggap Musik Kampungan dan Seronok, Dangdut Tetaplah Kebanggaan Indonesia yang Mendunia