Pernah Jadi Imam di Masjidil Haram, 3 Ulama Indonesia Ini Lebih dari Mengagumkan

Siapa mau jadi orang keempat?

466
SHARES

Mekkah Al Mukaromah adalah tempat terbaik bagi umat Islam di seluruh dunia untuk menimba ilmu. Namun bukan hanya menimba ilmu, karena ada beberapa ulama Indonesia yang bahkan pernah menjadi imam di Masjidil Haram. Tingginya ilmu dan akhlak tentu menjadi alasan mengapa mereka mampu meraih kedudukan tinggi di jantung umat Islam dunia itu.

Merupakan sebuah prestasi besar bisa menjadi imam di Masjidil Haram | wordsinquran.wordpress.com

Dalam catatan sejarah, ada tiga orang Indonesia yang pernah menjadi Imam Masjidil Haram. Ketiganya merupakan ulama yang menjadi panutan dan mempunyai banyak murid. Jejak pemikiran mereka juga kelak turut mengilhami kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Siapa saja mereka?

Syekh Junaid Al-Batawi

Lahir di Pekojan, Jakarta Barat, beliau dikenal sebagai seorang pendidik yang tangguh. Hingga akhir hayatnya di Mekah pada tahun 1840 pada usia 100-an tahun, dihabiskan untuk mengajar. Syekh Junaid dikenal sebagai syeikhul masyayikh madzhab Syafii. Berkat jasa beliau, nama Betawi untuk pertama kalinya diperkenalkan di mancanegara.

Syekh Junaid Al-Batawi | direktori-ulama-sedunia.blogspot.co.id

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi

Salah satu murid Syekh Junaid Al-Batawi yang kemudian masyhur adalah Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Lahir di Kampung Tanara, Serang, Banten tahun pada tahun 1815, nama beliau tetap dikenal hingga sekarang karena banyaknya karya yang diciptakan.

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi | direktori-ulama-sedunia.blogspot.co.id

Ayahnya, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani merupakan seorang ulama lokal di Banten, sekaligus menjadi guru agama pertama beliau. Syekh Muhammad Nawawi juga belajar kepada sejumlah ulama lokal sebelum akhirnya memutuskan hijrah Mekkah pada usia 15 tahun.

Di Mekkah, beliau memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya selama kurang lebih 30 tahun. Namanya kemudian tersohor sebagai Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi yang artinya Nawawi dari Banten, Jawa. Puncaknya ketika beliau ditunjuk sebagai pengganti Imam Masjidil Haram. Syekh Nawawi meninggal di Mekkah tahun 1897.

Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi

Ulama Indonesia terakhir yang pernah menjadi imam Imam Masjidil Haram adalah Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi. Beliau lahir di Sumatra Barat, di Koto Tuo, Kabupaten Agam, pada 26 Juni 1860.

Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi | direktori-ulama-sedunia.blogspot.co.id

Sejak kecil kecerdasan beliau sudah terlihat. Kala itu, ayahnya, Syekh Abdul Latif mengajaknya ke Mekkah pada usia 11 tahun (1871) untuk menunaikan ibadah Haji. Namun setibanya di tanah suci, beliau tidak ingin pulang demi menuntaskan hafalan Al-Qur’an-nya.

Selain menghafal Al-Qu’an, Ahmad juga berguru pada beberapa ulama seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy. Kealiman Syekh Ahmad Khatib pun akhirnya dibuktikan ketika diangkatnya beliau menjadi imam dan khatib sekaligus staf pengajar di Masjid Al Haram.

Syekh Ahmad Khatib mempunyai banyak murid dan menjadi ulama-ulama besar, diantaranya Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul, ayah dari Buya Hamka), K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

Dengan prestasi luar biasa besar yang berhasil diukir ketiga ulama di atas, bukankah seharusnya kita termotivasi untuk berlomba-lomba menjadi alim dan pintar? Dengan begitu, siapa tahu diantara kita akan ada yang ditunjuk menjadi orang keempat dari Indonesia yang untuk mengimami shalat di Masjidil Haram. Amin.

O ya ngomong-ngomong, siapa sangka pendiri NU dan Muhammadiyah adalah dua ulama yang pernah berguru pada guru yang sama. Pertanyaannya, mengapa dua aliran Islam terbesar di Indonesia ini sekarang bisa sedemikian berselisihnya?

466
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."