Jika Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan, Lalu Apa yang Bisa?

Bukankah kamu selalu merasa senang setiap kali mampu membeli sesuatu?

Pikirkan saat terakhir kali kamu membeli sesuatu yang sangat kamu inginkan. Bagaimana perasaanmu saat itu? Menyenangkan, bukan? Ya, membeli sesuatu itu, apapun itu, adalah salah satu cara untuk membawamu pada kebahagiaan. Lantas, bagaimana dengan keyakinan bahwa ‘uang tidak bisa membeli kebahagiaan’?

Bagaimana perasaanmu setelah membeli sesuatu yang kamu inginkan? Senang, kan? | pexels.com

Alasan nyata mengapa kamu bahagia saat membeli sesuatu

Sejak lahir, manusia sudah dilatih untuk mencari kepuasan instan, yang pada akhirnya, tumbuh sebagai mekanisme bertahan hidup, sekaligus kodrat kita sebagai manusia. Sementara itu, di sisi lain, kita juga harus hidup dalam masyarakat yang dipaksa menikmati kepuasan yang tertunda.

Yang saya maksud dengan kepuasan yang tertunda di sini adalah, ketika kita menginginkan sesuatu, kita dipaksa menunggu untuk merasakan kebahagiaan itu. Di masyarakat kita, adalah hal yang wajar jika kita harus menunggu hari gajian untuk sebuah kebahagiaan bernama belanja, misalnya.

Di masyarakat kita, kita dipaksa untuk selalu menikmati kebahagiaan yang tertunda. | atlantainsuranceschool.com

Kebahagiaan yang tertunda seperti itu, sering menimbulkan respon emosional yang kuat. Ini, terjadi karena adanya pelepasan zat dopamin yang sangat mempengaruhi pusat kebahagiaan di otak kita. Saat kamu senang dengan sesuatu, itu artinya kamu sedang menikmati penyebaran zat dopamin di dalam tubuhmu.

Coba bayangkan, bagaimana perasaanmu beberapa jam setelah kamu membeli sesuatu yang sudah lama kamu inginkan? Perasaan itu, saya yakin tidak sebagus saat pertama kali kamu mendapatkannya. Hal itu wajar, karena memang seperti itulah perilaku kita sebagai manusia.

Dengan kata lain, kebahagiaan yang kamu rasakan saat itu bukanlah kebahagiaan sejati. Hanya sementara. Inilah mengapa, pada akhirnya, kita sampai pada sebuah keyakinan bahwa ‘uang tidak bisa membeli kebahagiaan’. Atau lebih tepatnya, ‘uang tidak bisa membeli kebahagiaan sejati’.

Alternatif lain ‘membeli kebahagiaan’

Yang sekarang menjadi pertanyaan adalah, jika memang uang tidak bisa membeli kebahagiaan, lantas apa yang bisa? Jawabannya, adalah waktu berkualitas. Uang hanyalah alat yang kita gunakan untuk mendapat lebih banyak waktu. Namun pada akhirnya, uang itu tidak perlu.

Semua yang kita butuhkan hanyalah penyesuaian ulang tentang bagaimana kita mengukur waktu. Setiap orang memiliki 24 jam sehari. Harapan hidup untuk wanita adalah 81,2 tahun, dan 76,4 tahun untuk pria. Sayangnya, banyak dari kita justru mengeluh tidak punya banyak waktu untuk me time.

Benarkah kita tidak punya cukup banyak waktu untuk menikmati me time? | pexels.com

Jika kamu selalu sibuk dan merasa tidak punya waktu berkualitas untuk dirimu sendiri, sebaiknya lekas lakukan perubahan agar kamu bisa mendapatkan kebahagiaan. Agar benar-benar merasa bahagia, buatlah waktu berkualitas dan jadikan itu sebagai kebahagiaan sejati dalam hidupmu.

Bukan malah sibuk menunggu hari gajian demi sebuah senyuman.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *