Uang Panai’, Tradisi Bugis yang Bisa Bikin Calon Pengantin Gagal Nikah

Membangun rumah tangga ternyata nggak cukup modal cinta!

862
SHARES

Bagi kamu yang tinggal di daerah Sulawesi Selatan khususnya dari suku Bugis, Makassar dan Mandar, pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah Uang Panai’ atau Panaik. Banyak orang dari luar Sulawesi Selatan yang menganggap Uang Panai’ sebagai uang untuk membeli calon mempelai wanita dari orang tuanya. Padahal bukan itu maknanya. Uang Panai’ merupakan penanda bahwa seorang pria yang kelak akan menjadi suami mampu menafkahi istrinya. Mampu memberikan Uang Panai’ berarti telah siap lahir batin untuk membangun bahtera rumah tangga.


Inilah sebabnya saat seorang lelaki tidak mampu memberikan Uang Panai’ ketika akan menikahi calon mempelai wanita, maka ia dianggap tidak mampu pula menafkahi dan bisa berbuntut penolakan dari keluarga perempuan. Secara sederhana, Uang panai’ dapat pula diartikan sebagai uang belanja atau uang untuk membiayai pesta yang akan digelar keluarga calon mempelai perempuan. Sayangnya, kini makna Uang Panai’ mulai bergeser menjadi simbol prestise dan gengsi.

Makin tinggi nilai Uang Panai’, makin tinggi pula martabatnya

Saat ini, Uang Panai’ banyak dimaknai sebagai simbol status seseorang. Besarnya nilai uang yang diserahkan pada keluarga calon mempelai wanita menjadi penanda status bagi kedua belah pihak, baik yang meminang maupun yang dipinang. Inilah yang membuat sebuah pernikahan di kalangan sebagian orang Bugis, Makassar, dan Mandar, menjadi bukan perkara yang mudah dan murah. Sebelum terjadi akad nikah, dilakukanlah prosesi tawar-menawar mengenai jumlah Uang Panai’ yang diberikan.

Status sosial turut mempengaruhi besarnya nilai Uang Panai’ yang diminta – dwinandrong.blogspot.co.id

Besarnya Uang Panai’ ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari kecantikan, keturunan bangsawan, pendidikan, hingga pekerjaannya. Harga Panai’ gadis yang memiliki gelar sarjana strata 1 tentu lebih tinggi dari gadis tamatan SMA. Demikian pula jika calon mempelai wanita merupakan keturunan bangsawan, maka Uang Panai’nya bisa mencapai miliaran Rupiah. Pada dasarnya, besaran nilai Uang Panai’ bisa didiskusikan secara kekeluargaan oleh kedua keluarga, terutama kalau keduanya memang telah memiliki kedekatan.

Tidak ada kata sepakat, maka penolakan yang terjadi. Kawin lari solusinya?

Jika tawar-menawar nilai Uang Panai’ tak kunjung mencapai kata sepakat, bukan tidak mungkin jika keluarga calon mempelai wanita memutuskan untuk menolak pinangan pihak calon mempelai pria. Karena mahalnya Uang Panai’, tak sedikit pasangan kekasih yang batal melangsungkan pernikahan. Ingatkah kalian tentang Risna, wanita yang mendatangi pernikahan mantan calon suaminya sambil menangis tersedu-sedu? Hal itu terjadi karena Uang Panaik yang disanggupi pihak lelaki dirasa kurang dan berujung pada penolakan oleh pihak keluarga Risna. Akhirnya, si lelaki pun menikahi gadis lain, walaupun ia dan Risna masih saling mencinta. Sedih ya…

Risna, salah satu korban dari besarnya Uang Panai’ – youtube.com

Beratnya tradisi ini telah banyak mendapat penentangan. Bahkan, tak jarang pasangan yang sudah kadung cinta akhirnya memilih untuk mengambil jalan pintas dengan kawin lari atau disebut dengan “Silariang”. Padahal, Silariang dianggap sebagai peristiwa yang sangat memalukan bagi orang Bugis Makassar, karena menyangkut dengan aib yang menjadi beban keluarga sepanjang hidupnya. Mereka yang melakukan Silariang dianggap telah mati, bahkan beberapa generasi setelahnya tidak akan diterima untuk kembali ke keluarganya selamanya dan seterusnya. Jika sudah begini, pelaku Siliriang biasanya memilih untuk pergi merantau membuang diri dan tidak akan kembali lagi seumur hidup sampai beranak cucu.

Tradisi Uang Panai’ jadi terasa amat dilematis ya? Di satu sisi, ia merupakan adat warisan leluhur yang perlu dilestarikan karena sarat makna dan filosofi. Di sisi lainnya, banyak pasangan yang terpaksa kandas di tengah jalan karena keterbatasan kemampuan.

862
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~