Mari Mengenal Tutut, Keong yang Ramai Diperbincangkan Sebagai Alternatif Daging Sapi Itu

Bergizi tinggi, bervitamin, dan hm.. manis!

Gara-gara digadang bisa menjadi alternatif nutrisi daging sapi oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, tutut —sejenis siput air, sontak menjadi pembicaraan hangat akhir-akhir ini. Harganya pun terus melonjak naik. Pertanyaannya, sudah kenalkah kamu dengan si tutut ini?

Tutut, keong yang sedang ramai diperbincangkan itu. | brta.in

Bergizi, bervitamin, dan.. manis

Makanan olahan keong bukanlah hal yang asing di Tanah Air. Dagingnya memiliki rasa manis seperti kerang, teksturnya kenyal, dan berserat seperti jamur. Tak terkecuali tutut. Keong ini dianggap bergizi karena mengandung protein 12 persen, kalsium 217 mg, rendah kolesterol, 81 gram air dalam 100 gram tutut, dan mengandung energi, protein, kalsium, karbohidrat, dan fosfor.

Tutut dinilai bergizi tinggi, bervitamin, dan punya rasa yang manis. | kaskus.co.id

Kandungan vitaminnya pun cukup tinggi. Dengan dominasi vitamin A untuk mata, vitamin E untuk regenerasi sel dan kecantikan kulit, niacin yang berperan dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, dan folat yang baik untuk ibu hamil supaya bayinya tidak cacat tabung syarafnya.

Selain itu, tutut juga mengandung zat gizi makronutrien berupa protein dalam kadar yang cukup tinggi pada tubuhnya, dan mikronutrien berupa mineral —terutama kalsium yang sangat kita butuhkan.

Racun dan kolesterol

Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum kamu mengonsumsi tutut. Pertama, soal zat racun yang terkandung di dalamnya. Yang kedua, kandungan kolesterol dalam keong juga perlu diwaspadai, meskipun memang tak setinggi kolesterol yang ada pada jeroan.

Kandungan racun dan kolesterol yang ada di dalam tutut harus benar-benar diperhatikan. | antarafoto.com

Kemudian, berbeda dari daging sapi, pengolahan tutut cenderung lebih sulit, karena lendir dan kotorannya harus dipisahkan dulu. Jadi bukan tidak mungkin, tanpa proses pembersihan yang tepat, mengonsumsi tutut justru bisa menyebabkan penyakit seperti cacingan.

Rebus, goreng, tumis

Kamu harus mencuci tutut dengan air dingin beberapa kali untuk menghilangkan bau lumpurnya. Setelah itu, rendam di dalam air selama 5 menit, kemudian rebus selama 5-7 menit dan siap disajikan.

Alternatif lain, kamu bisa menggoreng atau bahkan menumisnya dengan tambahan sayuran, karbohidrat (seperti pasta) atau jenis daging lainnya. Namun ingat, dengan digoreng, tutut akan mengandung zat lemak jenuh yang tidak baik bagi kesehatan.

Banyak cara memasak tutut, bisa direbus, digoreng, ditumis, hingga dijadikan sate. | tokomesin.com

Yang jelas, tutut harus dimasak hingga benar-benar matang. Karena kalau tidak, ada beragam parasit yang siap mengancam kesehatanmu. Dengan pengelolaan yang tepat, tutut bisa dijadikan sumber protein hewani yang bermutu dengan harga yang jauh lebih murah daripada daging sapi, kambing, atau ayam.

Dan kabar baiknya adalah, tutut si keong sawah ini ternyata tak merusak padi, tak seperti saudaranya, keong mas. Jadi, win win solution bagi para petani, karena budidaya tutut juga bisa menambah pendapatan mereka.

Bagaimana.. suka dengan apa yang baru saja kamu baca? Kalau iya, maka jangan ragu untuk membagikannya kepada teman dan orang-orang tercinta.

Salam, dan jangan lupa bahagia!

Tulis Komentarmu

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Bukan Berarti Nakal, 5 Kelakuan Anak Kecil Ini Justru Tanda Jika Ia Cerdas

Setiap Hari yang Kamu Lalui Menjadi “Kejutan” yang Harus Diterima dengan Bahagia