Tuhan Baru Itu Bernama Jempol, dengan Like Share & Comment Sebagai Amal Ibadahnya

Akuilah, kita ini sedang men-dualisme-kan Tuhan

459
SHARES

Di zaman dinasti media sosial seperti sekarang, percayalah, kita tidak akan pernah lagi sendirian. Kita, akan selalu terhubung dengan orang lain di mana pun kita berada. Syaratnya cuma tiga: punya gadget, punya tabungan kuota, dan ter-cover jaringan internet yang baik. Begitulah, media sosial sangat ampuh dalam hal mendekatkan yang jauh, sekaligus menjauhkan apa yang ada di sekitar kita.

Media sosial sangat ampuh mendekatkan yang jauh, sekaligus menjauhkan apa yang ada di sekitar kita | pexels.com

Media sosial telah menyediakan ruang yang sebesar-besarnya bagi kita untuk menciptakan hubungan yang bukan lagi sebatas keluarga, gang senggol, kampung, kota, namun seluas dunia. Secara sadar, kita telah membangun hubungan virtual yang berlandaskan pada citra semata.

Foto profil sebuah akun media sosial, misalnya, bisa kita buat dengan citra seperti apapun yang kita mau. Sementara ucapan dan gaya bicara, bisa kita tuangkan dalam berbagai jenis font dan emoticon. Ya, dalam dunia media sosial, segalanya adalah soal citra, bukan lagi tentang hal yang sebenarnya.

Sharing is caring

Lalu, demi merawat hubungan virtual itu, kita lantas mempunyai kebiasaan baru. Kebiasaan virtual dengan prinsip ‘sharing is caring’, atau yang dalam bahasa kita bermakna ‘berbagi berarti peduli’. Kita jadi terbiasa membagikan apa-apa yang kita anggap perlu dibagi kepada sahabat virtual kita, tanpa peduli apakah mereka membutuhkan itu atau tidak sama sekali.

Kita terbiasa berbagi tanpa peduli dengan apa yang sedang dibutuhkan orang lain | pexels.com

Kita juga terbiasa membagikan segala hasil pemikiran kita, mulai dari politik kontemporer, kehidupan di sekitar kita, berita-berita bernada bule, hingga ekspresi-ekspresi keagamaan. Di media sosial, kita beragama dengan cara yang penuh kepentingan pamer. Kita selfie ketika sedang umrah atau menunaikan ibadah haji, lalu mempertontonkannya kepada sahabat-sahabat virtual kita.

Pada awalnya mungkin hanya sekadar ingin berbagi, namun lama kelamaan kita menjadi ketagihan. Karena, apa-apa yang sebelum adanya media sosial begitu sunyi, privasi, dan eksklusif, kini tidak lagi. Semua orang bisa melihat dan mengomentari amal kebaikan kita. Sebab dengan semangat ‘sharing is caring’, apa-apa yang sebelumnya adalah urusan pribadi telah menjadi hak milik warga dunia maya yang merdeka.

Heroik, jihadis, sekaligus brutal

Begitulah, lewat media sosial kita ingin beragama, meraih kembali hasrat mendekati Tuhan dengan semangat berjamaah dan penuh propaganda. Tuhan tidak cukup dinikmati sendirian, karena seperti kebahagiaan, Dia harus dibagikan kepada sahabat virtual kita.

Namun dalam prakteknya, kita sering lupa bahwa sahabat virtual kita sangatlah beragam, baik karakter maupun harapan akan media sosial itu sendiri. Saat kita membagikan itu semua, kita buta apakah yang mereka perlukan adalah pencerahan agama, lowongan kerja, kata-kata cinta, atau bukan itu semua.

Saat berbagi, kita sering lupa bahwa media sosial dihuni oleh orang-orang yang sangat beragam | pexels.com

Adapun sorga, atau segala kenikmatan yang kita bayangkan akan kita raih di kemudian hari, menjadi semakin dekat dan nyata. Sementara neraka dan segala kengeriaannya terasa makin mengancam kita.

Maka kita mengecap, mengecam, mengancam, dan menghujat mereka yang kita labeli ‘kafir’ sebagai orang yang tidak berhak atas sorga yang kita bayangkan. Kita menghujani mereka dengan ayat, hadits, dalil, dan segala kata bijak, agar mereka yang kita bayangkan masih tersesat itu kembali ke jalan lurus (menurut kita).

Kita menjadi lebih heroik, lebih jihadis, sekaligus lebih brutal di media sosial ketimbang di kehidupan sehari-hari kita. Pribadi kita berubah seratus persen begitu jempol kita menguasai layar smartphone kita masing-masing. Kita seakan-akan punya dua atau lebih kepribadian, sesuai dengan akun media sosial yang kita punya, dan citra yang sudah kita bangun sebelumnya.

Men-dualisme-kan Tuhan

Pada titik ini, sebenarnya kita telah menggunakan media sosial bukan hanya untuk menyalurkan rindu kita akan Tuhan dan sorga, namun juga kebencian kita terhadap mereka yang tidak sama atau berlawanan dengan kita. Kita telah menggunakan kekuatan kata-kata untuk menggiring orang ke jalan yang kita inginkan, bukan dengan menggunakan tangan yang lembut dan penuh kasih sayang.

Nyatanya, kita juga menggunakan media sosial untuk menyalurkan kebencian-kebencian | pexels.com

Maka dari itu, mari kita mengkaji ulang dan merenungkan lagi apa-apa yang sudah kita lakukan di media sosial, hingga menjawab satu pertanyaan ini menjadi hal yang sangat gampang: mengapa di media sosial kita gampang menjadi nasty? Kata ‘nasty’ merupakan bahasa Inggris yang punya beragam makna dalam bahasa Indonesia: buruk, sangat tidak menyenangkan, mesum, keji, menjijikkan, kotor, dan parah.

Akuilah, sebenarnya, di media sosial kita sedang menuju Tuhan dengan cara-cara yang tidak pantas sama sekali. Lebih parah, kita sedang men-dualisme-kan Tuhan dengan menjadikan jempol kita sendiri sebagai Tuhan.

459
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."