Petekan, Tradisi Tes Keperawanan Paling Ampuh Ala Desa Ngadas, Malang

Gimana kalau tradisi unik ini diberlakukan di seluruh Indonesia ya?

Kamu mungkin berpikir bahwa tes keperawanan hanya bisa dilakukan melalui cara medis saja. Namun, siapa sangka jika kita juga bisa melakukannya dengan cara tradisional yang tak kalah ampuhnya. Masyarakat di desa Ngadas, Malang memiliki tradisi unik bernama Petekan, sebuah metode kuno untuk mengetahui apakah seorang gadis masih perawan atau tidak.


malangkab.go.id
malangkab.go.id

Teknik yang sama dengan palpasi di dunia perbidanan

Istilah ‘Petekan’ berasal dari kata ‘dipetek’ yang berarti ditekan. Uniknya, tradisi ini hanya boleh dilakukan oleh dukun bayi yang sudah diakui ahli dengan cara menekan perut wanita yang ingin dipetek, tepatnya pada bagian antara pusar dan kemaluan. Cara ini sangat mirip dengan teknik palpasi di dunia perbidanan.

maduraexpose.com
maduraexpose.com

Dengan cara yang terlihat sederhana itu, ternyata dukun bayi itu bisa mengetahui apakah wanita yang di-petek-nya masih perawan atau tidak!

Demi menekan angka pergaulan bebas

Hampir tidak ada satu pun tradisi di Indoneisa yang dilakukan tanpa adanya tujuan baik, Petekan pun demikian. Di balik uniknya tradisi itu ternyata ada satu tujuan yang luar biasa mulia, apalagi kalau bukan untuk menekan angka pergaulan bebas dan kehamilan di luar nikah.

willy-christ.blogspot.co.id
willy-christ.blogspot.co.id

Bahkan dalam prosesnya, Petekan tidak hanya dilakukan untuk mengetes keperawanan seorang remaja putri, namun juga untuk memberi semacam hukuman bagi mereka yang sudah tidak perawan lagi.

Apa hukumannya?

Jika dalam prosesi Petekan tersebut ternyata ada yang hamil di luar nikah, maka hukum adat akan segera dilakukan. Jika pesertanya masih gadis, maka dia akan langsung dinikahkan. Sementara untuk pria yang menghamili, akan dijatuhi denda 50 sak semen untuk disumbangkan pada desa.

cloudfront.net
cloudfront.net

Hukuman akan menjadi lebih berat jika peserta Petekan hamil dengan pria yang sudah berkeluarga. Menyumbang 100 sak semen bagi pria dan 50 sak bagi si gadis menjadi hukuman yang tidak boleh ditawar, apalagi dilanggar. Masih belum cukup, hukuman masih ditambah dengan mempermalukan keduanya dengan mamaksa mereka menyapu seluruh jalanan desa hingga bersih.

Rutin setiap tiga bulan sekali

Hingga sekarang, tradisi kuno Petekan masih tetap diselenggarakan setiap tiga bulan sekali di desa Ngadas. Para persertanya pun beragam, mulai dari gadis yang beranjak dewasa hingga para janda yang masih berusia subur.

iwanuwg.wordpress.com
iwanuwg.wordpress.com

Sebelum Petekan dimulai, sesepuh desa akan mengumumkannya terlebih dahulu secara mendadak. Dilakukan di salah satu rumah warga yang tertutup, prosesi ini biasanya dilakukan antara jam tujuh hingga jam sembilan malam.

Bagaimana jika tradisi Petekan diberlakukan di seluruh Indonesia?

Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa tujuan utama dari tradisi Petekan adalah untuk menekan angka pergaulan bebas. Dengan adanya tradisi ini, status keperawanan para gadis di desa Ngadas dan sekitarnya tak lagi dipertanyakan. Nah.. pertanyaannya, bagaimana jika Petekan diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia?

ngadas-negerikahyangan.blogspot.co.id
ngadas-negerikahyangan.blogspot.co.id

Kita semua tahu, di era modern ini banyak sekali orang yang terlanjur meragukan keperawanan seorang wanita. Di sisi lain, tes keperawanan adalah hal yang kontroversial karena selain (mungkin) bertentangan dengan HAM, juga berdampak pada psikologis orang yang bersangkutan.

Jadi sebagai pembaca, menurutmu bagaimana jika tradisi Petekan yang sudah lama berlangsung di desa Ngadas, Malang ini dilakukan serentak di seluruh Indonesia?

Ditunggu pendapatmu di kolom komentar ya!

Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."