7 Tradisi Mencari Jodoh Paling Unik di Indonesia

Tradisi nomor 1 hm…

Memanfaatkan situs-situs kencan, beragam aplikasi smartphone, media sosial, atau pun reality show di TV adalah cara-cara yang dilakukan orang Indonesia untuk mencari jodoh di era modern ini. Lantas, apa yang dilakukan orang-orang terdahulu sebelum adanya internet untuk tujuan yang sama? Apakah hanya menggunakan metode klasik saja? Ternyata tidak.


tradisi-unik-cari-jodoh-di-indonesia

Jauh sebelum ditemukan internet –bahkan komputer, beberapa kelompok masyarakat di Indonesia ternyata sudah mempunyai cara untuk mencari dan mendapatkan jodoh. Bahkan tidak sekadar cara, apa yang mereka lakukan sudah menjadi tradisi yang dilakukan secara turun-temurun hingga sekarang.

Apa saja dan bagaimana uniknya tradisi jodoh itu? Mari kita ulas satu per satu.

1. Omed-omedan, Bali

Salah satu tradisi mencari jodoh yang paling terkenal di Indonesia adalah Omed-omedan. Hanya ada di Bali, tradisi ini diikuti oleh para remaja pria dan wanita berusia 17 – 30 tahun dan belum menikah. Kata ‘Omed-omedan’ sendiri mempunyai makna ‘tarik-tarikan’ dalam bahasa Bali.

thestar.com
thestar.com

Saat Omed-omedan berlangsung, para peserta dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari pria dan wanita saja. Dalam setiap kelompok itu, ada satu orang yang digendong kemudian digiring agar mereka bisa saling bertemu dan berhadapan. Setelah berhadapan, keduanya harus berpelukan atau berciuman sambil disiram air oleh peserta lain.

2. Ngarot, Indramayu

Tradisi Ngarot sebenarnya merupakan acara syukuran para petani Indramayu menjelang dimulainya masa panen. Saat prosesi itu berlangsung, para remaja pria dan wanita akan diarak mengelilingi desa untuk tujuan mencari jodoh masing-masing. Berbeda dengan remaja pria, semua peserta gadis akan memakai hiasan bunga di kepalanya.

jabarprov.go.id
jabarprov.go.id

Kepercayaan yang berlaku dalam tradisi Ngarot ini adalah, jika hiasan bunga yang dipakai salah seorang gadis tampak layu, itu tandanya dia sudah tidak perawan lagi dan otomatis tidak akan dipilih oleh para peserta pria.

3. Jaringan, Indramayu

Masih di Indramayu. Di sana ada sebuah pasar bernama ‘Pasar Jodoh’ sebagai tempat berkumpul bagi pria dan wanita lajang untuk mencari pasangan hidup. Dalam tradisi yang dinamakan Jaringan ini, para pria diharuskan menggunakan sarung.

tvindramayu.blogspot.com

Selama Jaringan berlangsung, para peserta akan berbaur, berkenalan, bahkan saling melamar jika memang sudah merasa cocok. Beberapa pria akan mengajak wanita incarannya jalan-jalan atau makan bersama, diantar pulang untuk kemudian dilamar.

4. Gredoan, Banyuwangi

Tradisi yang dilaksanakan setiap malam peringatan Maulid Nabi ini sudah dilakukan secara turun-temurun dan masih dipertahankan hingga sekarang. Dalam bahasa Banyuwangi, ‘Gredoan’ artinya menggoda. Ya, para pria akan menggoda wanita incarannya sesuai adat yang berlaku di sana.

umarat.wordpress.com
umarat.wordpress.com

Berbeda dengan tradisi Omed-omedan yang terkesan liar, Gredoan dilakukan dengan cara yang sangat sopan. Para pria dewasa yang masih lajang akan mendatangi langsung rumah wanita incaran untuk berkenalan sekaligus menggodanya.

5. Barempuk, Sumbawa

Ada adegan kekerasan yang dilakukan oleh sesama pria dalam tradisi Barempuk ini. Mereka akan saling pukul untuk adu kekuatan selama 3 ronde agar bisa menarik perhatian wanita idamannya. Tradisi ini sempat dibekukan oleh pemerintah setempat karena sering terjadi perkelahian berkelanjutan setelah acara selesai. Namun saat ini, Barempuk sudah mulai dilakukan lagi oleh masyarakat Sumbawa.

kompasmuda.com
kompasmuda.com

6. Kabuenga, Wakatobi

Dalam tradisi Kabuenga, para wanita lajang akan berkumpul di sebuah lapangan terbuka dan menjual makanan serta minuman untuk dijajakan pada para pria lajang yang memang diharuskan datang. Para pria boleh membeli makanan atau minuman yang dijual oleh salah satu wanita. Dari situ, diharapkan mereka bisa saling mengenal satu sama lain yang berlanjut ke pelaminan.

syahrilrupli.blogspot.co.id
syahrilrupli.blogspot.co.id

7. Kamomose, Buton

Para pria yang hadir dalam tradisi Kamomose akan melempar kacang sabil berputar mengelilingi barisan peserta wanita yang masing-masing memegang sebuah wadah untuk menampung kacang yang dilempar peserta pria tadi.

hipwee.com
hipwee.com

Tradisi ini dimaksudkan sebagai ajang perkenalan para pemuda dan pemudi Buton. Setelah itu, mereka bisa memilih untuk melanjutkan ke perkenalan selanjutnya atau membatalkannya.

Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."