Ngaku Saja, Ternyata Kita Semua Penista Agama dan Pelanggar Pancasila!

Instrospeksi diri dulu yuk.

Beberapa bulan belakangan Indonesia diramaikan dengan beberapa kejadian yang sangat menguras tenaga, dari soal Pilkada DKI, kasus penistaan agama, kasus dugaan makar, sampai fenomena pembubaran organisasi yang tidak sehaluan dengan pancasila.

Pemilihan Gubernur DKI mewarnai sosial politik masyarakat (fakta.co.id)

Banyaknya isu yang berkembang di masyarakat terkait hal-hal tersebut, membuat masyarakat pecah menjadi beberapa kelompok menanggapi beraneka ragam isu tersebut. Meskipun pada akhirnya hanya dua permasalahan yang sangat meresahkan masyarakat, yaitu terkait soal penistaan agama dan penolakan terhadap pancasila sebagai ideologi negara.

Dua persoalan itulah yang membuat masyarakat “gaduh” dengan saling menuduh. Saling menduga jika kelompok lawan adalah penista agama sebenarnya, dan saling menunjuk jika kelompok yang di seberang sana merupakan kelompok anti pancasila. Lucunya, diantara kelompok tersebut tidak ada yang mengakui hal itu dan menyatakan jika kelompoknya paling toleran, nasionalis, pancasilais, dan setia terhadap NKRI harga mati. Lalu siapa sebenarnya yang menistakan agama dan melanggar pancasila?

Mungkinkah jika kita penista agama dan pelanggar nilai pancasila yang sebenarnya?

Ketegangan di masyarakat Indonesia tidak akan pernah padam selagi api prasangka, dugaan, bahkan fitnah antar kelompok masih menyala terang. Untuk memadamkan api tersebut salah satu caranya ialah dengan saling introspeksi diri, apakah diri kita dan sikap kita dalam bernegara yang sudah sesuai pancasila? Ataukah sikap kita dalam beragama yang justru menistakan agama kita sendiri?

Zaskia Gotik duta pancasila (vidio.com)

Ternyata kita juga penista agama dan pelanggar pancasila!

Jika sudah mengintrospeksi diri, maka kita tahu kualitas diri kita terhadap perintah agama dan nilai-nilai pancasila. Jika berbicara tentang penistaan agama, kita bisa mendefinisikan terlebih dahulu tentang pengertian menistakan agama. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, menistakan bermakna, menganggap nista, merendahkan, menyepelekan atau menghina. Jadi menistakan agama ialah orang yang merendahkan, menyepelekan atau menghina agama.

Sekarang coba kita lihat diri kita, apakah kita tidak pernah menyepelekan perintah dan larangan agama? Saat agama melarang kita bermaksiat apakah kita menjauhinya? Apakah ketika agama melarang kita untuk berbohong apakah kita sudah jujur? Apakah tatkala agama memerintahkan kita untuk menghormati orang tua, memberikan zakat kepada fakir miskin, dan berbaik kepada sesama, apakah kita sudah melakukannya? Yang terakhir, apakah kita sudah sholat tepat waktu? Jika jawabannya belum, maka kita tergolong orang yang menyepelekkan ajaran agama serta merendahkan perintah dan larangannya.

toleransi umat beragama (aktual.com)

Bentuk menistakan agama juga bisa terlihat dengan menggunakan nama agama untuk kepentingan dunia semata. Semisal kita meminta sumbangan atas nama pembangunan mesjid namun ternyata uangnya untuk foya-foya. mengatasnakaman penegakkan terhadap ajaran agama, ternyata tujuannya hanya untuk kekuasaan dan politik.

Apakah kita juga seorang pelanggar nilai pancasila?

Kita kadang terlalu menomorsatukan simbol dan penampilan tanpa menilai isi dan nilai dari simbol tersebut. Termasuk dalam soal kesetiaan terhadap pancasila. Kita selalu merasa tidak terima jika burung pancasila yang menempel di dinding dihina, diacungi jari tengah, atau dibakar. Namun kita merasa biasa saja ketika kita melanggar nilai-nilai pancasila yang justru itulah hakikat falsafah bangsa.

Kita masih sering acuh terhadap sila Ketuhanan yang Maha Esa. Sebab ternyata Tuhan kita tidak Esa, karena kita tidak hanya menyembah dan mengabdi kepada Tuhan yang Esa, tetapi juga mengabdi kepada Jabatan, menyembah kepada uang, dan melakukan apa saja demi kekuasaan. Itulah Tuhan baru kita yang membuat kita tunduk dan patuh kepadanya. Bahkan melalaikan perintah dan larangan Tuhan yang sesungguhnya.

menyembah kepada jabatan dan uang (slidesharecdn.com)

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Apakah selama ini kita sudah berbuat adil dan beradab? Berbuat adilkah jika kita hanya mau mendengarkan pendapat dari orang yang segolongan dengan kita, dan menutup telinga saat golongan lain berpendapat? Beradabkah kita jika kita masih suka mengolok-olok orang yang tidak sependapat dengan kita, menghujat golongan lain, bahkan mengkafir-kafirkan kelompok lain?

Kita mengaku sebagai pancasilais sejati, nasionalis sedari hati, dan lantang menyuarakan NKRI harga mati. Namun kita masih suka mengadu domba, mencaci maki yang menimbulkan perselisihan, menjauhkan dari persatuan. Kita lebih suka berdebat kusir di media sosial, daripada duduk bersama bermusyawarah seperti yang diamanatkan pancasila.

Yang terpenting dari pancasila ialah nilainya, bukan hanya simbolnya (infoedukasi.net)

Kita juga masih suka merasa sebagai warga negara paling kuat karena jumlahnya banyak, menafikan hak-hak kaum minoritas, teriak-teriak toleransi namun menolak perbedaan. Sudahkah kita menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa harus pandang suku, ras, golongan, dan agama?

Mungkin kita selama ini terlalu sibuk menilai orang lain, terlalu bersemangat mencari kesalahan kelompok lain, sehingga kita lalai terhadap nilai dan kualitas diri kita sendiri. Bukankah Indonesia besar karena perbedaan? Luhur karena budaya, nilai, dan falsafahnya? Mari kita jaga!

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amin Aulawi (Aw)

Amin Aulawi (Aw)

Penikmat Dunia, Perindu Surga,

Meskipun Asli Indonesia, 7 Agama Ini Tak Pernah Diakui Oleh Pemerintah

Girls, Ternyata Ini 4 Alasan Mengapa Cowokmu Nggak Pernah Bisa Peka