Tampil di America’s Got Talent, Demian Jadi Bukti Matinya Dunia Sulap Indonesia

Tak dihargai di negeri sendiri dan jadi cibiran saat memukau di negeri orang

1.4k
SHARES

Belakangan ini, masyarakat Indonesia ramai memperbincangkan aksi Demian Aditya di ajang America’s Got Talent (AGT). Pesulap kelahiran 19 Juni 1980 ini sukses memukau para juri dan penonton AGT melalui penampilan perdananya di ajang tersebut 30 Mei lalu. Bahkan, video aksinya di Youtube menjadi trending nomor 1 di Indonesia sekaligus menjadi video yang paling banyak ditonton dibandingkan video peserta audisi AGT lainnya. Hingga artikel ini ditulis, video penampilan Demian di AGT telah meraih lebih dari 13 juta views.

Sayangnya, ada hal menyedihkan yang bisa kita jumpai di kolom komentar video aksi Demian tersebut. Ya, seperti sudah kita ketahui, aksi Demian di AGT ternyata mendapat banyak cibiran dari netizen Indonesia. Mulai dari cemoohan soal trik yang digunakan Demian hingga reaksi istri Demian, Sara Wijayanto, yang dinilai terlalu berlebihan. Demian pun sempat ‘curhat’ melalui media sosialnya terkait minimnya apresiasi masyarakat Indonesia terhadap seni sulap yang ditekuninya. Bahkan Demian nyaris frustasi dan meyakini bahwa seni sulap di negeri ini akan segera lenyap seiring berjalannya waktu.

Sulap tak lagi dianggap sebagai hiburan

Melalui curhatannya, Demian mengeluhkan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap seni sulap. Menurutnya, kini sulap tak lagi dianggap sebagai hiburan, melainkan penipuan. Tak heran jika mereka yang menyaksikan suatu pertunjukan sulap lebih memilih untuk memecahkan trik yang digunakan oleh si pesulap daripada menikmatinya sebagai sebuah pertunjukan yang menghibur.

Curhat Demian di media sosial – Facebook Demian

“Era jaman sekarang ini pun gw merasa penonton di Indonesia tercinta ini mayoritas tidak lagi bisa menghargai dan menikmati sulap sebagai hiburan, mereka selalu menganggap sulap itu adalah penipuan… (*fa*-lah!!).
Tapi semua orang pergi ke bioskop dan beli tiket (*bayar) untuk nonton film yg jelas2 isi ceritanya hanyalah rekaan, animasi 3D dan tipuan cinematografi tapi mereka semua bisa terhibur tanpa komplain ‘Wah boongan ini ceritanya!!’…. why??” ungkap Demian melalui media sosialnya.

Teguran KPI

Hal lain yang turut dikeluhkan Demian adalah adanya teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang dinilainya justru membatasi kreatifitasnya untuk menyajikan pertunjukan sulap yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Untuk urusan KPI, lembaga yang punya otoritas tinggi di dunia penyiaran Indonesia ini memang kerap membuat masyarakat jengah, terutama dengan adanya sensor yang terlalu ketat untuk sebuah adegan yang menampilkan bagian tubuh tertentu.

Berkarya sepenuh hati, tapi setiap karya yg gw pertunjukkan mayoritas mendapatkan teguran dari KPI (*komisi penyiaran Indonesia). Segala gerak gerik dibatasi dalam pertunjukan yang akan gw persembahkan untuk penonton di Indonesia, seakan2 tidak bisa berkutik lagi untuk gw pekerja seni sulap dalam memperkenalkan seni yg gw cintai sampe mati ini” keluh Demian.

Minim apresiasi

Senada dengan Demian, Deddy Corbuzier yang juga dikenal sebagai seorang mentalist ikut berkomentar melalui video yang diunggah di kanal pribadinya. Menurut Deddy, kultur orang Indonesia yang tak mengapresiasi sebuah seni (termasuk sulap) sudah berlangsung sejak dirinya masih aktif sebagai pesulap. Inilah salah satu hal yang membuat Deddy memilih mundur dari dunia mentalis Indonesia dan banting setir jadi seorang host di sebuah acara talkshow.

“Hal seperti ini udah dari jaman saya main sulap. Saya main sesuatu yang bagus. Dari hinaan cacian, makian dari pesulap (orang) yang nggak suka dengan saya, banyak sekali. Saya tak pernah gubris sama sekali. No, i dont have time for you,” ungkap Deddy melalui video yang diunggahnya. Jika keadaan berlangsung terus seperti ini, bukan tak mungkin nantinya kita juga akan melihat matinya seni-seni lain yang ada di Indonesia karena tidak ada lagi yang mengapresiasi.

1.4k
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~