Perseteruan Taksi Online VS Taksi Konvensional Adalah Bukti dari Jargon ‘Berubah Atau Punah’

Daripada berseteru, lebih baik sama-sama terus berinovasi dan memperbaiki kualitas pelayanan

95
SHARES

Masih ingat nggak dengan kasus pengemudi taksi online yang ditelanjangi di bandara Adisucipto, Yogyakarta beberapa waktu lalu? Kejadian memprihatinkan ini merupakan salah satu dari sekian banyak kasus serupa yang menimpa para pengemudi taksi maupun ojek online. Alasannya, mereka dinilai menyerobot rejeki pengemudi taksi dan ojek konvensional.


Meski kita semua tahu bahwa rejeki ada di tangan Tuhan, tapi alasan yang demikian itu selalu dijadikan pembenaran oleh oknum taksi dan ojek konvensional untuk melakukan tindakan tak menyenangkan seperti contoh di atas. Nggak sedikit juga yang sampai membuat spanduk berisi larangan transportasi online untuk beroperasi di suatu wilayah tertentu yang menjadi ‘daerah kekuasaan’ pengemudi transportasi umum konvensional.

Turunnya jumlah penumpang, salah siapa?

Para pengemudi transportasi konvensional berulangkali mengeluhkan turunnya jumlah penumpang yang mereka dapatkan. Ini berarti, pendapatan mereka ikut berkurang. Padahal, transportasi umum konvensional macam taksi mengharuskan pengemudinya menyetorkan sejumlah uang pada pemilik angkutan. Wajar jika akhirnya pengemudi transportasi online mencak-mencak karena merasa kalah saing dengan taksi online.

Selisih harga per km yang ditawarkan membuat taksi online ‘lebih murah’ dari taksi konvensional – youtube

Sebenarnya tidak mengherankan kalau masyarakat memilih transportasi umum berbasis aplikasi (online). Selain pemesanannya mudah, harga yang ditawarkan pun lebih murah daripada transportasi umum konvensional. Pemerintah pun sampai turun tangan untuk mengatur batas atas dan batas bawah tarif taksi online agar kecemburuan sosial yang terjadi bisa diminimalisir. Jika sudah diatur sedemikian rupa agar taksi online tidak terlalu berbeda jauh dengan taksi konvensional, tapi taksi konvensional masih kalah bersaing, lalu siapa yang salah?

Pentingnya inovasi

Kasus semacam ini adalah bukti nyata dari jargon ‘berubah atau punah’ di dunia bisnis. Maksudnya jelas: kalau kamu ingin usahamu terus berkembang dengan baik, maka kamu perlu untuk selalu melakukan inovasi. Kamu perlu untuk selalu mengikuti perkembangan zaman. Berada di puncak tak berarti kamu sudah aman. Lihatlah bagaimana Blue Bird yang kadung merasa nyaman di posisi puncak industri pertaksian akhirnya terjungkal oleh kehadiran taksi online. Untungnya, Blue Bird cepat tanggap dan segera berusaha untuk mengejar ketertingalannya dari ancaman nyata di bidang transportasi umum saat ini: transportasi online.

Inovasi amat penting di zaman yang serba teknologi ini – jalantikus.com

Tak hanya soal transportasi, ada banyak contoh lain yang bisa kita temui di dunia ini, mulai dari tumbangnya Yahoo, matinya Friendster, dan masih banyak lagi. Bisnismu boleh jadi tengah digandrungi masyarakat dan berada di puncak kejayaan. Tapi wasapadalah, karena banyak kompetitor lain yang pasti sedang merancang sebuah rencana inovatif agar bisa ikut serta memakan jatah kue yang ada. Sungguh picik kalau kita merasa bisa bertahan di suatu hal dengan prestasi yang begitu-begitu saja.

Hal yang harus dipelajari oleh transportasi umum konvensional

Kembali ke topik transportasi online dan konvensional, sebenarnya mereka-mereka yang merasa kalah bersaing dari transportasi online juga bisa kembali meraih hati masyarakat dengan memberikan pelayanan dan terobosan-terobosan baru lainnya. Keengganan masyarakat untuk menggunakan layanan taksi konvensional biasanya dikarenakan beberapa faktor seperti: mahal, tidak sesuai argo, dan pelayanannya buruk. Hal-hal seperti itu pasti bisa untuk diubah, asalkan penyedia layanan dan pengemudinya memang berniat untuk mau berubah. Kalau manajemennya sudah diperbaiki tapi pengemudinya masih angot-angotan, ya sama saja bohong kan?

Ilustrasi ojek konvensional vs ojek online – happinessistime.blogspot.co.id

Kemudian untuk para pengemudi ojek konvensional, kalau memang kesulitan untuk mendapatkan penumpang, kenapa tidak memutuskan untuk bergabung saja dengan penyedia layanan ojek online? Bagaimanapun juga, perkembangan dan kemajuan zaman tidak akan bisa dibendung. Becak kayuh saja saat ini sudah digantikan keberadaannya dengan becak bermotor. Memprotes perkembangan zaman dan meminta masyarakat tidak menikmati kemudahan yang ditawarkan oleh aplikasi taksi atau ojek online sama saja meminta kita kembali ke zaman batu. Bayangkan, dengan beberapa klik di layar gadget, kita bisa meminta ojek online untuk membelikan makanan saat kita malas beranjak dari tempat tidur. Hal-hal praktis semacam inilah yang membuat masyarakat segera meninggalkan ojek konvensional dan beralih pada transportasi umum berbasis online yang menawarkan banyak kemudahan hidup.

Jadi, ketimbang bertindak barbar dan menganiaya pengemudi transportasi online, bukankah lebih baik segera memikirkan langkah strategis untuk segera mengejar ketertinggalan? Transportasi online juga jangan buru-buru jumawa, karena kalau Pintu Kemana Saja milik Doraemon sudah bisa direalisasikan oleh ilmuwan, maka nasib kalian pun juga bisa kandas begitu saja jika tak rajin berinovasi!

95
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~