Sunat Perempuan: Pro, Kontra, dan Hal-Hal Ambigu di Dalamnya

Lebih dari 13,4 juta perempuan Indonesia mungkin sudah pernah menjalani sunat yang entah apa manfaatnya ini

Hingga saat ini, sunat perempuan masih menjadi pro kontra. Jika kita mengintip dari perspektif kontra, apa sih manfaatnya? Sedang dari sisi netral, kita akan menemukan satu pertanyaan yang cukup sulit dijawab: sebenarnya, seperti apa peraturan yang berlaku di Indonesia?

Sunat perempuan mungkin akan terus menjadi pro-kontra di Indonesia. | hellosehat.com

Faktanya, sebagian besar orang tua di Indonesia menyunat anak perempuan karena anjuran agama (96 persen), anjuran adat atau budaya (94,3 persen), dan karena mayoritas warga lain melakukan hal tersebut (93,1 persen).

13,4 juta perempuan

Sedang menurut UNICEF, tradisi sunat perempuan di Indonesia paling banyak terjadi di Gorontalo (83,7 persen), menyusul Bangka Belitung (83,2 persen), Banten (79,2 persen), Kalimantan Selatan (78,7 persen), Riau (74,4 persen), Papua Barat (17,8 persen), selanjutnya Yogyakarta (10,3 persen), Bali (6 persen), Papua (3,6 persen), dan terakhir NTT (2,7 persen).

Dalam skala yang lebih luas, Indonesia menduduki posisi ketiga sebagai negara dengan angka sunat perempuan tertinggi setelah Gambia dan Mauritania. Perkiraannya, 13,4 juta perempuan Indonesia berusia atau kurang dari 11 tahun mungkin sudah pernah menjalani sunat.

Ada lebih dari 13,4 juta perempuan Indonesia yang diperkirakan pernah menjalani sunat. | maisyafarhati.wordpress.com

Namun sayangnya, dunia medis tidak mengenal yang namanya sunat perempuan karena memang sama sekali tidak memiliki efek yang baik untuk kesehatan. Sebaliknya, sunat perempuan justru bisa mengakibatkan trauma, infeksi, perdarahan, juga rasa nyeri dan tentu saja bekas luka.

Dalam prakteknya, sunat perempuan sendiri terbagi menjadi empat:

  1. Clitoridectomy, yaitu tindakan pemotongan sebagian atau seluruh klitoris, atau selaput di atasnya.
  2. Excision, yaitu pemotongan sebagian atau seluruh klitoris dan atau labia minora dengan atau tanpa memotong labia majora.
  3. Infibulation, yaitu mempersempit lubang vagina dengan selaput penutup, dengan memotong atau mengubah bentuk labia majora dan labia minora. Sedangkan klitoris tidak disentuh sama sekali.
  4. Tindakan lain yang melukai vagina tanpa tujuan medis, seperti menggaruk, menusuk, atau menggores area genital.

Pemerintah vs MUI

 

Negara-negara di Eropa dan Amerika dengan tegas menentang sunat perempuan. Alasan mereka logis, berhubungan dengan kesehatan dan HAM. Bahkan, beberapa negara di Timur Tengah pun ada yang melarang sunat perempuan karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama.

Australia juga dengan keras melarang. Di Negeri Kanguru itu berlaku ancaman pidana 14 tahun bagi siapa pun warga yang melanggar. Sementara di Singapura, pemerintah tidak punya landasan hukum untuk melarang sunat perempuan, namun warga diimbau untuk menghindarinya.

Sedangkan di negara kita, pemerintah pernah mengeluarkan larangan terkait praktek sunat perempuan pada tahun 2006 melalui Kementerian Kesehatan. Namun setelah menerima protes dari sejumlah kalangan, termasuk Majelis Ulama Indonesia, pemerintah pun akhirnya melunak.

Indonesia pernah melarang sunat perempuan, namun pada akhirnya dicabut juga. | dw.com

Empat tahun kemudian, terbit Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2010 tentang praktek sunat perempuan. Isinya, pemerintah memberi izin kepada tenaga medis seperti dokter dan bidan untuk melakukan sunat perempuan, serta mengatur rinci tentang metode sunat perempuan.

Sunat dilakukan dengan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris dengan menggunakan ujung jarum steril sekali pakai dari sisi selaput ke arah kulit, tanpa melukai klitoris. Namun, lagi-lagi, aturan ini harus sirna di tangan masyarakat pada tahun 2013.

Pemerintah pun jadi abu-abu menangani sunat perempuan. Kalau kamu, bagaimana pendapatmu tentang sunat yang tidak wajar ini? Atau, kamu justru pernah menjalaninya?

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *