Luangkan Waktu Sejenak untuk Merapikan Lagi Stigma Miring Soal Cowok Tidak Rapi

Gondrong dan bertato nggak melulu berandalan, kan?

422
SHARES

‘Jangan melihat orang dari penampilan luarnya saja’. Seberapa sering kamu mendengar ungkapan ini? Dan kalau harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, apakah bisa semudah itu diterapkan? Jawabannya mungkin sangat tergantung pada situasi dan kondisi. Karena nyatanya, penampilan masih menjadi hal yang paling dipertimbangkan dalam menilai seseorang, khususnya cowok.

Meskipun kurang tepat, namun menilai seorang cowok dari penampilannya masih saja dilakukan banyak orang hingga sekarang. || pexels.com

Bahkan, penampilan sering menjadi penyebab utama diterima atau tidaknya seorang cowok di sebuah lingkungan. Mereka yang bertato, penuh tindik, rambut gondrong, dan baju acak-acakan, kerap mengalami perlakuan berbeda dalam masyarakat, meskipun Indonesia sangat menjunjung tinggi adat ketimuran yang bisa dibilang cukup toleran soal penampilan.

Kebebasan berekspresi

Tak seperti di kota yang berpenduduk majemuk seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan yang punya ‘koleksi’ cowok tidak rapi sangat banyak hingga dianggap lumrah, di daerah-daerah lain mereka tidak bisa semudah itu diterima. Masih ada berbagai stigma miring tentang cowok tidak rapi, yang menurut pendapat masyarakat, seorang cowok seharusnya tampil sederhana dan tidak perlu neko-neko.

Di banyak tempat di Indonesia, masih banyak stigma miring yang menyudutkan penampilan-penampilan tidak rapi seperti ini. | deviantart.net

Tentu kamu masih ingat dengan razia rambut gondrong di bangku SD hingga SMA, kan? Bisa jadi, kebijakan ini merupakan momok paling mengerikan bagi para siswa yang ingin memanjangkan rambut layaknya rocker idola mereka. Padahal kalau dipikir pakai logika, rambut gondrong bukanlah tolak ukur apakah seseorang bisa bersikap disiplin atau tidak. Gaya rambut tidak ada kaitannya dengan perilaku.

Saya bisa menjamin, bahwa sampai kapan pun, setiap orang akan tetap memiliki kebebasan dalam berpendapat dan berekspresi. Ini juga menyangkut cara berpenampilan para cowok yang sedang kita bahas di sini. Setiap cowok berhak mengenakan apa saja yang dia mau, selama itu tidak melanggar norma kesopanan dan hukum agama yang dianut, misalnya.

Memilih yang rapi merupakan naluri

Karena itu, kamu yang punya pandangan lain soal berpenampilan mungkin harus sedikit mengalah. Bukan karena semua orang harus bergaya sopan dan rapi, namun agar kamu bisa belajar menjaga prasangka orang lain dari rasa risih.

Sebab, prasangka buruk seseorang terhadap orang lain memang sangat mungkin terjadi. Ketika seseorang tersesat dan ingin bertanya, maka dia akan cenderung menghampiri mereka yang terlihat rapi ketimbang yang gondrong, bertato, dan semacamnya. Ini adalah sifat alami manusia, dimana kita akan merasa lebih aman ketika berinteraksi dengan orang yang rapi.

Sebagai manusia, merupakan hal yang wajar ketika kita cenderung menghindari cowok-cowok yang tidak berpenampilan rapi. | thecut.com

Sampai titik ini, mungkin saya sependapat bahwa penampilan sedikit banyak akan mewakili karakter seseorang. Hanya saja, kita tidak boleh serta merta menghakimi orang lain hanya berdasarkan apa yang terlihat oleh mata. Koruptor yang tampil begitu rapi dan berwibawa saja bisa mencuri uang rakyat, masak mereka yang gondrong dan tidak rapi harus kehilangan hak untuk naik haji?

422
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."