Sejak Kecil, Wanita Memang Merasa Tak (Akan) Sepintar Pria

Ini semua merupakan imbas dari seksisme dan stereotip gender yang benar-benar menjerumuskan

Yakin pada diri sendiri bukanlah omong kosong belaka. Sama seperti pria, wanita yang percaya diri akan kemampuan mereka punya kesempatan besar untuk sukses. Hanya saja, sangat disayangkan bahwa seksisme begitu mudah menghalangi para wanita untuk sampai pada titik puncak tersebut.

Seksisme begitu mudah menghalangi para wanita untuk mencapai kesuksesan. | ncadd.org

Korban stereotif gender

Bagi wanita, ada waktu sekitar enam tahun sejak dilahirkan sebelum terpengaruh stereotip gender dan akhirnya meragukan kecerdasan mereka sendiri. Di sekolah mereka lebih berani mengambil resiko. Nilai ujian mereka juga lebih tinggi. Mereka, selangkah lebih maju dalam menjalani hidup.

Tanpa adanya stereotip gender, sebenarnya wanita bisa benar-benar bersaing dengan pria, bahkan sejak usia dini. | shutterstock.com

Namun sekali lagi, hanya karena stereotif bahwa dalam hal apapun pria selalu berada di atas wanita, semua kecerdasan dan rasa percaya diri yang dimiliki wanita bisa tiba-tiba hilang begitu saja. Seksisme yang merebak di mana-mana membuat mereka merasa tidak akan sepintar pria.

Lebih parah lagi, kurangnya rasa percaya diri pada wanita akan kemampuan mereka dalam hal memecahkan soal sains dan matematika akhirnya justru memperburuk nilai, dan membuat mereka enggan menimba ilmu di bidang ilmu pengetahuan, teknik, teknologi dan matematika.

Wanita meremehkan gender mereka?

Semua fenomena di atas, terjadi bukan karena wanita meremehkan gender mereka, namun karena pria punya anggapan yang berlebihan akan diri mereka. Masyarakat yakin bahwa kecerdasan itu hanya milik pria, sehingga wanita cenderung menjauhi pekerjaan yang memerlukan otak encer.

Masyarakat percaya bahwa kecerdasan itu hanya milik pria, bukan wanita. | studentworldonline.com

Sebagai bukti, jika dibandingkan pria, hingga saat ini hanya sedikit sekali wanita yang memiliki gelar akademis yang tinggi pada bidang-bidang yang dianggap membutuhkan kecerdasan lebih. Ini, menunjukkan betapa stereotip gender telah mempengaruhi pilihan wanita di usia yang begitu muda.

Mengubah bias menjerumuskan

Lantas, solusi apa yang mungkin bisa merapikan kekacauan yang sudah lama terjadi ini? Pertama, orangtua dan guru adalah pihak yang seharusnya sama-sama berusaha untuk mengubah bias menjerumuskan bahwa pada dasarnya pria lebih cerdas dari wanita.

Orangtua dan guru harus bisa mengubah bias menjerumuskan yang menganggap bahwa pria lebih cerdas dari wanita. | shutterstock.com

Pada faktanya, wanita lebih responsif dengan apa yang disebut psikolog sebagai pertumbuhan pola pikir. Apa itu? Bahwa kunci utama kesuksesan itu adalah belajar dan berusaha, bukan sekadar keberuntungan genetika. Dengan kata lain, kerja keras lebih penting dibandingkan kecerdasan.

Solusi selanjutnya, secara konsisten menceritakan kisah-kisah keberhasilan para wanita di dunia juga bisa membantu melawan stereotip gender yang begitu menyengsarakan kaum wanita ini.

Menyengsarakan dalam arti nyata, bukan hanya omong kosong belaka.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *