Soal Keuangan Rumah Tangga, Gaji Istri Adalah Hak Istri, dan Gaji Suami Adalah Hak Suami Istri

Uang suami juga uang istri, namun uang istri tetaplah milik istri.

Sudah menjadi hal yang lazim di zaman modern, seorang istri tidak hanya menjadi seorang ibu rumah tangga, namun ia juga menjadi seorang wanita karir yang memiliki penghasilan sendiri. Bahkan tidak sedikit yang ternyata dalam hubungan rumah tangga, penghasilan sang istri lebih besar dibandingkan dengan suami.

Baca juga : Inilah Penyebab Kenapa Wanita Makin Susah Bahagia di Usia 20an

Istri berpenghasilan, suami tidak berhak atas gaji istri (okezone.com)

Namun meskipun sang istri sudah berkerja, kebutuhan rumah tangga tidak lantas dibebankan kepada sang istri. Sebab penghasilan dari sang istri merupakan mutlak hak sang istri, tidak ada hak sang suami atas penghasilan sang istri. Jadi anekdot “uang suami adalah uang istri, dan uang istri adalah uang istri” memang bukan hanya sekedar pepesan kosong belaka, sebab memang itulah yang seharusnya.

Status gaji istri dilihat dari sudut pandang agama

Mayoritas ulama menyepakati jika harta istri merupakan hak mutlak dari seorang istri. Sedangkan harta yang dimiliki suami, di dalamnya ada hak istri untuk menggunakannya. Hal ini tentu sangat masuk akal, sebab sebagaimana yang di ikrarkan sang suami saat ijab qabul, jika suami akan menafkahi istri baik lahir maupun bathin. Artinya saat menafkahi secara lahir, sang istri berhak mendapatkan bagian dari harta suami.

Kewajiban menafkahi ada di tangan suami (minggublog.blogspot.co.id)

Kewajiban menafkahi bagi suami juga terdapat dalam kitab suci Al Qur’an yang artinya, “Kaum lelaki itu adalah pemimpin kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lain (kaum wanita), dan karena mereka (kaum lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. [an Nisaa`/4 : 34].

Atas dasar ayat itulah mayoritas ulama menyepakati jika kebutuhan dalam rumah tangga, serta nafkah rumah tangga ada di tangan suami. Adapun gaji istri tidak wajib untuk digunakan sebagai pemenuh kebutuhan rumah tangga.

Gaji istri milik istri dan gaji suami milik suami istri

Saat seorang istri memiliki penghasilan, maka status harta milik istri mutlak menjadi haknya seorang istri. Ini sama halnya dengan harta istri dari mas kawin, sepenuhnya dimiliki oleh istri dan suami tidak memiliki hak atas mas kawin (harta) yang dimiliki istri.

Meskipun suami istri bekerja, namun gaji istri sepenuhnya hak istri (media.ihram.asia)

Namun sebaliknya, merujuk dari beberapa fatwa mayoritas ulama diatas, yang sepakat jika suami bertanggung jawab atas papan, sandang, dan pangan istri, maka gaji suami di dalamnya ada hak seorang istri. Artinya sang istri berhak meminta bagian dari gaji suami.

Jika gaji istri dipakai untuk kebutuhan memenuhi keluarga

Sudah kita sepakati, segala kebutuhan rumah tangga menjadi tanggung jawab seorang suami. Hal ini sesuai dengan ikrar ijab qabul untuk menafkahi lahir bathin suami kepada istrinya. Namun jika terpaksa istri bekerja dan menggunakan gaji istri untuk kebutuhan rumah tangga, maka hal itu akan menjadi sedekah seorang istri.

Jika gaji istri terpaksa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, maka akan dihitung sebagai sedekah (wajibbaca.com)

Artinya tidak ada kewajiban untuk menggunakan gajinya sebagai pemenuh kebutuhan rumah tangga. Sebab gaji istri merupakan mutlah milik istri, adapun jika digunakan untuk membantu meringankan beban suami, maka hal itu merupakan sedekah dari seorang istri.

Namun perlu diingat, meskipun sang istri berpenghasilan, hal itu tidak menggugurkan kewajiban suami untuk menafkahi istri dan anak-anaknya.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amin Aulawi (Aw)

Amin Aulawi (Aw)

Penikmat Dunia, Perindu Surga,

Bendera Kita Sama dengan Monaco, Sebenarnya Gimana Sih Sejarahnya?

Surat Kecil dari Rahim; Bunda Kenapa Kau Bunuh Aku dalam Rahimmu