Merinding, Shalawat Badar Dilantunkan Oleh Paduan Suara Anak-Anak di Kanada

Uniknya, Shalawat tersebut dilantunkan untuk menyambut Natal. Simak cerita lengkapnya!

Meski mayoritas penduduk Kanada memeluk agama Nasrani sebagai kepercayaannya, namun itu tidak menghalangi mereka untuk bersikap terbuka dan toleran terhadap pemeluk agama lain, termasuk dengan unsur-unsur kebudayaan yang ada di dalamnya.

Hal ini terbukti dengan viralnya video sekelompok anak-anak sekolah di Kanada yang tengah menyanyikan senandung Islami, Thola’al Badru ‘Alaina (atau biasa dikenal di Indonesia sebagai Shalawat Badar). Uniknya lagi, Shalawat Badar tersebut dinyanyikan untuk menyambut Natal.

Inklusifitas Kanada

Video yang sejatinya muncul pada tanggal 3 Desember 2015 ini diunggah oleh seorang ibu berdarah Arab-Kanada, Dima Kilani. Anak Dima yang berusia 10 tahun turut menjadi bagian dalam paduan suara yang mengesankan itu. Menurut Dima, ide untuk melantunkan Shalawat Badar sebenarnya bertujuan untuk mengajak orang dari latar belakang berbeda untuk sama-sama mempromosikan budaya inklusif di Kanada.

Menurutnya, saat Natal tiba, paduan suara di sana tidak pernah hanya menyanyikan lagu-lagu umat Kristiani, namun juga lagu dari budaya dan agama yang berbeda. Apalagi, Kanada memang dikenal cukup terbuka untuk menerima orang-orang dari berbagai macam latar belakang kehidupan, termasuk menerima gelombang pengungsi dari Suriah yang kebetulan tiba pertama kali di Kanada pada 11 Desember 2015, tepatnya di kota Ontario.

Bukan untuk menyambut pengungsi

Kedatangan para pengungsi Suriah membuat video yang diunggah oleh Dima Kilani tadi jadi terasa lebih dramatis. Pasalnya, ada yang mengunggah ulang dengan memberi judul “Selamat datang di Kanada pengungsi Suriah.” Keterangan yang ada dalam video itu pun menjelaskan bahwa Shalawat Badar menjadi lagu yang dilantunkan saat menyambut Nabi Muhammad ketika hijrah ke Madinah.

Paduan suara anak-anak sekolah di Kanada menyanyikan Shalawat Badar (youtube)

Sontak, video itu pun menjadi viral dan ditonton lebih dari 830 ribu kali dalam tiga hari penayangannya. Sejumlah media bahkan turut membuat video itu kian viral dengan mengutip keterangan dalam video tersebut dan mengatakan bahwa lagu itu digunakan untuk menyambut pengungsi Suriah.

Justin Trudeau saat menemui sejumlah pengungsi Suriah (indianexpress.com)

Kekeliruan bertambah besar karena video itu diunggah pada hari yang sama ketika Perdana Menteri Justin Trudeau menyambut sekelompok pengungsi Suriah. Saat itu, Trudeau ingin menunjukkan pada dunia bahwa Kanada membuka hati bagi para pengungsi dan berjanji akan menerima 25.000 pengungsi hingga akhir Februari 2016.

Pada akhirnya, meskipun terdapat salah persepsi tentang asal mula video ini, setidaknya kita bisa memetik hikmah berharga bahwa sebuah negara dengan tangan terbuka bisa menerima kebudayaan yang berasal dari latar belakang berbeda. Kanada tidak menjadi negara eksklusif dan bersikap intoleran pada kaum minoritas, serta justru membuka lebar-lebar kesempatan bagi para pengungsi yang membutuhkan untuk masuk ke dalam wilayahnya.

Pertanyaannya, kapan Indonesia bisa mulai mencontoh Kanada?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *