Selama Suporter Bola Masih Beringas, Percuma Indonesia Punya Stadion Berkelas Internasional Sekalipun

Katanya pengen punya stadion bertaraf internasional? Tapi kok…..

Pasca pertandingan Piala Presiden 2018 yang menampilkan Persija lawan Bali United Sabtu (17/2/2018) lalu, linimasa media sosial dan headline berita di berbagai media konvensional ramai oleh berita rusaknya Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang disebabkan oleh ulah oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Padahal, stadion ini baru diresmikan kembali oleh Presiden Joko Widodo pada bulan Januari lalu setelah mendapatkan wajah baru. Ironisnya, beberapa saat setelah diresmikan pun SUGBK sudah langsung mengalami kerusakan di sana-sini karena banyak suporter yang tidak menggunakan bangku penonton sebagai mana mestinya ketika menonton pertandingan persahabatan Indonesia kontra Islandia (14/1/2018).

Tidak punya rasa memiliki

Kita tahu, bukan sekali – dua kali ini saja muncul berita pengrusakan stadion oleh oknum suporter. Mulai dari bangku yang patah karena diinjak-injak, hingga gerbang yang jebol karena massa yang membludak memaksa ingin masuk tanpa tiket. Sungguh mengherankan jika tindakan seperti itu dilakukan oleh mereka yang mengaku cinta sepakbola.

Ketika muncul wacana ada promotor konser ingin menggelar sebuah pertunjukan musik di stadion, para suporter bola menolak keras dengan alasan kualitas rumput dan tanah lapangan bisa rusak karena terinjak ribuan orang. Ironisnya, banyak dari oknum suporter tak bertanggung jawab yang justru malah turut merusak fasilitas stadion dengan melakukan hal-hal yang sudah disebutkan di atas tadi.

Beginikah kelakuan suporter yang mengaku cinta sepakbola? (dok. Istimewa)

Saya paham bahwa tidak semua suporter berkelakuan seperti itu, dan jumlahnya pun pasti tak banyak. Tapi inilah yang dinamakan karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena kelakuan sejumlah orang, lantas suporter bola se-Indonesia Raya jadi sasaran kemarahan masyarakat. Belum lagi saat tingkah polah tak bertanggung jawab para oknum tersebut jadi pembicaraan di dunia internasional. Makin pesimis lah dunia melihat persepakbolaan Indonesia ini.

Rasanya, tindakan anarkis maupun kebiasaan tidak mempedulikan efek jangka panjang dari merusak fasilitas umum timbul dari pikiran bahwa fasilitas tersebut bukanlah miliknya sehingga tidak ada rasa untuk menjaga dan merawatnya. Padahal, berbagai macam fasilitas stadion bisa ada karena rakyat membayar pajak. Dengan kata lain, si perusak pun sebenarnya punya andil untuk merasa memiliki stadion itu. Sayangnya, banyak yang memiih untuk tidak peduli karena tidak merasakan langsung dampak kerugian dari kerusakan tersebut pada diri masing-masing.

Mimpi punya stadion bertaraf internasional

Saya yakin, kita semua ingin menyaksikan Indonesia berlaga di panggung yang lebih besar dari taraf ASEAN. Salah satunya tentu saja mimpi bisa berlaga di ajang piala dunia, atau bahkan menjadi tuan rumah penyelenggara piala dunia.

Namun untuk bisa ke arah sana bukanlah hal yang mudah. Selain kualitas tim nasional yang perlu ditingkatkan, kita juga perlu terus mengedukasi suporter agar tidak memelihara budaya anarkis dan senang merusak fasilitas umum di stadion. Apalagi, sudah sejak lama kita pun memimpikan punya banyak stadion lokal bertaraf internasional.

Banyak daerah yang ingin membangun stadion bertaraf internasional di daerahnya (dok. Istimewa)

Untuk membangunnya mungkin bukan hal yang terlalu sulit asalkan dananya ada. Tapi yang lebih sulit adalah menjaga stadion tersebut tetap layak pakai tanpa ada kerusakan-kerusakan yang timbul karena suporter kita banyak yang gemar berubah jadi beringas tiap kali tim kesayangannya kalah atau tidak bisa masuk ke dalam stadion karena tidak ingin membayar tiket.

Jadi, sudah siapkah kita untuk menjadi suporter yang budiman dan tertib?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *