Cerita Nyata Dibalik Nama Ngayogyakarta, Yogyakarta, Jogja, dan Djogdja yang Perlu Kamu Tahu

Meskipun asli Yogyakarta, belum tentu kamu mengetahui fakta ini

747
SHARES

Dari seluruh kota di Indonesia, Yogyakarta bisa dibilang sebagai kota yang paling unik. Selain status “keistimewaan”-nya, kota ini juga pemilik dari sekian banyak julukan yang beredar di masyarakat. Kota gudeg, kota pelajar, kota keraton, dan sebutan-sebutan lain selalu terdengar di telinga kita. Namun selain itu, sadarkah kamu kalau Yogyakarta juga kaya dengan nama lain (bukan julukan)? Tidak hanya “Yogyakarta”, kota yang pernah menjadi ibukota Indonesia ini juga punya nama “Ngayogyakarta”, “Jogja”, “Djogdja”, dan masih banyak lagi.

(Via jogjangangeni.com).
Yogyakarta adalah kota terunik yang mempunyai banyak nama berbeda (Via jogjangangeni.com).

Sejarah apa yang membuat Yogyakarta bisa mempunyai nama sebanyak itu? Daripada membuat argumen yang belum tentu benar, yuk simak penjelasan di bawah ini.

Ngayogyakarta

Dari semua nama kota Yogyakarta, “Ngayogyakarta” adalah nama resmi pertama yang dipakai. Mulai digunakan pada tahun 1755, saat Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keraton tersebut berdiri di atas Alas Bering (wilayah Yogyakarta sekarang) yang merupakan wujud Perjanjian Giyanti yang beliau sepakati bersama Pakubuwono III dari Surakarta. Namun sekarang nama ini mulai ditinggalkan, bisa jadi karena pengucapannya yang sedikit panjang dan susah. Terhitung hanya orang-orang keraton dan para seniman yang masih sering melafalkan “Ngayogyakarta”.

(Via flickr.com).
Nama “Ngayogyakarta” merupakan nama pertama yang dipakai dalam sejarah kota Yogyakarta, mulai dipakai sejak tahun 1755 silam (Via flickr.com).

Yogyakarta

Walaupun tidak ada bukti sejarah yang jelas, nama “Yogyakarta” bisa jadi muncul karena pemenggalan nama “Ngayogyakarta” menjadi “Yogyakarta” saja sehingga lebih simpel dan mudah diucapkan. Nama ini sudah dipakai masyarakat ketika Yogyakarta menjadi ibukota Indonesia pada tahun 1949. Sri sultan Hamengku Buwono IX juga menggunakan nama yang sama ketika mengumumkan bahwa keraton ini merupakan bagian dari Republik Indonesia. Sampai saat ini, nama “Yogyakarta” menjadi nama paling “resmi” yang dipakai di buku-buku, catatan pemerintahan, dan website serta percakapan formal sehari-hari.

((Via alrido.deviantart.com).
Dari sekian nama kota Yogyakarta, “Yogyakarta” adalah nama yang paling banyak dipakai ((Via alrido.deviantart.com).

Jogja

Tahukah kamu, nama “Jogja” sebenarnya diciptakan semata-mata untuk kepentingan bisnis. Nama yang sangat easy listening (enak didengar) ini semakin terkenal setelah digunakan dalam tagline “Jogja Never Ending Asia”. Slogan tersebut dibuat untuk membangun citra Yogyakarta sebagai kota wisata yang kaya akan pesona alam dan budaya. Nama “Jogja” dipilih karena mudah dilafalkan banyak orang, termasuk para wisatawan asing. Saking booming-nya, bahkan beberapa institusi kemudian mengganti “Yogyakarta” menjadi “Jogjakarta” pada nama dan alamat mereka.

(Via flickr.com).
Nama “Jogja” diciptakan untuk menarik perhatian para wisatawan, baik dalam maupun luar negeri (Via flickr.com).

Djogdja

Nama “Djogdja” diperkenalkan oleh yogyes.com dalam sebuah rubrik bernama Tour de Djokdja. Nama ini dipilih untuk memberi kesan klasik dan mengajak para pembaca website tersebut bernostaligia. Namun “Djogdja” bukanlah nama yang dibuat tanpa alasan, karena nama ini pernah dipakai pada masa kolonial Belanda. Saat itu ada hotel bernama Grand Hotel de Djokdja yang berdiri di ujung utara jalan Malioboro, yang sekarang berganti nama menjadi Inna Garuda. Meskipun tidak se-familiar “Jogja’, namun nama “Djogdja” sudah mulai digunakan oleh beberapa kalangan di kota Yogyakarta.

(Via dapoernjonja.wordpress.com).
Contoh penggunaan “Djogdja” dalam nama sebuah produk kuliner khas Yogyakarta (Via dapoernjonja.wordpress.com).

Dengan keempat nama di atas, dapat dipastikan kota Yogyakarta merupakan kota yang mempunyai variasi nama terbanyak. Ini masih belum termasuk nama-nama seperti “Yogja”, “Jogya” dan “Yogya” yang lahir karena perbedaan pengucapan orang-orang di seluruh Indonesia. Dan jangan lupakan juga nama “Togua” yang sempat trending di tahun 2014 silam (masih ingat?). Jakarta yang saat ini berstatus sebagai ibukota negara saja hanya mempunyai satu nama lain, Jayakarta. Selain itu, nyaris tidak ada lagi kota “sekreatif” Yogyakarta.

Nah, kamu asli Yogyakarta atau kebetulan tinggal di Jogja? Tunjukkan rasa banggamu dengan membagikan tulisan ini ke teman dan keluarga Ngayogyakarta. Tunjukkan pada mereka bahwa Djogdja adalah kota kreatif yang penuh sejarah dan budaya.

747
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."