Sejarah Dibalik Kata “Cheese” yang Sering Terdengar Saat Berfoto Ria

“1.. 2.. 3.. cheese!”

Di zaman sekarang, berfoto ria adalah bagian penting dari kehidupan, entah itu selfie atau foto dengan cara biasa. Yang unik, ketika kita foto bersama teman atau keluarga, kita sering mendengar kata “cheese” keluar dari mulut si pemegang kamera atau handphone. Mengapa bisa begitu?

“1.. 2.. 3.. cheese!” | kennorphan.com

Sudah ada sejak era Franklin D. Roosevelt

Ternyata, kebiasaan berkata “cheese” saat berfoto ada sejarahnya. Kata yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kuliner ini pertama kali muncul di Big Spring Herald, sebuah surat kabar lokal di daerah Texas, Amerika Serikat, pada tahun 1943.

Meski begitu, tak ada yang tahu secara pasti siapa orang yang pertama kali menggunakan kata itu, dan mengapa kata itu digunakan. Yang jelas, mengucapkan kata “cheese” bisa membuat seseorang tampak tersenyum.

Menurut sejarah, surat kabar Big Spring Herald-lah yang pertama kali menggunakan kata “cheese”. | bigspringherald.com

Namun belakangan, situs berita The Sun menyebutkan adanya satu teori tentang dugaan bahwa Franklin D. Roosevelt, presiden ke-32 Amerika Serikat (1933 – 1945) adalah orang yang pertama kali menggunakan kata “cheese”.

Saat itu, dia mengatakan bahwa formula untuk mengambil foto yang bagus adalah dengan mengatakan “cheese”. Bunyi “ch” mengharuskan kita merapatkan gigi, dan bunyi “ee” (atau “i” dalam bahasa Indonesia) yang panjang akan melebarkan bibir, membuat ekspresi wajah yang menyerupai senyuman.

Tersenyum saat difoto merupakan hal yang tabu

Sebelum adanya budaya “cheese”, hanya anak-anak, para petani, dan para pemabuk saja yang tersenyum saat difoto. Pada masa itu, menjaga wajah tetap netral dan lurus dianggap sangat menarik dan bermartabat.

Tentu saja, hal itu bukanlah satu-satunya alasan. Karena pada masa itu juga, untuk membuat satu foto saja dibutuhkan waktu beberapa jam. Bayangkan, betapa beratnya mempertahankan ekspresi senyum selama proses pemotretan.

Sebelum adanya budaya “cheese”, foto sambil tersenyum dianggap tak bermartabat. | uiowa.edu

Belum lagi, kebersihan gigi bukan menjadi prioritas utama masyarakat abad ke-19, sehingga tak ada seorang pun yang ingin memamerkan senyum dengan gigi yang rusak, atau ompong. Kecuali anak-anak, para petani, dan para pemabuk.

Pasa zaman itu, kebanyakan orang hanya memiliki satu atau dua foto seumur hidup mereka karena biaya pembuatannya yang mahal. Nah, karena dianggap sebagai peristiwa penting, maka mereka akan berusaha menjaga tingkah laku sebaik-baiknya, dan menampilkan ekspresi yang aman.

Namun setelah ditemukannya kamera 1 dolar dari Kodak, serta kebangkitan industri film Hollywood, maka semakin banyak momen sehari-hari yang bisa diabadikan. Dan sejak saat itu, tersenyum ketika difoto menjadi hal yang penting.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *