Begini Cara Salat di Luar Angkasa, Lihat Sendiri Videonya

Jika suatu saat nanti perjalanan ke luar angkasa sudah memungkinkan untuk dilakukan setiap orang, setidaknya umat muslim sudah tahu bagaimana cara salat di luar angkasa

Bagi umat muslim, salat adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, bahkan meski kita sedang tidak menapak di Bumi sekalipun. Hal ini lah yang dirasakan oleh Sheikh Muszapar Shukor, seorang astronot berkebangsaan Malaysia yang video salatnya di luar angkasa ramai jadi perbincangan.

Shukor adalah astronot pertama Malaysia yang dikirim ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS) pada tahun 2007 silam. Sambil menjalani misi riset selama sepuluh hari, ia juga menyempatkan diri untuk merekam bagaimana salat dilakukan di luar angkasa yang tanpa gravitasi.

Seperti sudah kita ketahui, nihilnya gravitasi di luar angkasa tentu tak memungkinkan manusia untuk menapakkan kaki atau bahkan bersujud secara normal layaknya salat di Bumi. Oleh karenanya, perlu ada sejumlah penyesuaian agar Shukor tetap bisa menjalankan kewajibannya itu selama berada di stasiun antariksa.

 

Menanggapi hal ini, Dewan Fatwa Nasional Malaysia pun mengeluarkan beberapa aturan tentang tata cara salat di luar angkasa sebelum Shukor berangkat. Menurut para Dewan, waktu siang dan malam selama 24 jam harus disesuaikan dengan zona waktu tempat peluncuran.

Waktu siang dan malam selama 24 jam harus disesuaikan dengan zona waktu tempat peluncuran (youtube)

Sedangkan untuk arah kiblat, jika sulit menghadap ka’bah, maka diharuskan menghadap ke Bumi sebagai kiblat. Perkara wudu, boleh menggunakan tisu atau handuk basah. Shukor juga diperbolehkan untuk salat tanpa berlutut karena terbentur masalah gravitasi nol yang tidak memungkinkannya melakukan hal tersebut.

Misi antariksa yang diemban Shukor kala itu kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadan, sehingga juga menjadi tantangan tersendiri bagi Shukor untuk bisa menjalankan ibadah puasa di luar angkasa. Masalahnya, ISS mengorbit pada Bumi selama 16 kali setiap harinya sehingga ia akan menjumpai matahari terbit dan tenggelam tiap 90 menit sekali. Artinya, sulit untuk bisa menjalankan ibadah puasa seperti layaknya di Bumi.

Meski diperbolehkan untuk mengganti puasanya di Bumi, namun Shukor tetap ingin mencoba puasa di luar angkasa (nurhafidahdahalandec5g.blogspot.co.id)

 

Untuk menjawab pertanyaan ini, Menteri Sains Malaysia saat itu, Jamaluddin Jarjis, menyatakan bahwa Shukor sebetulnya tidak diwajibkan untuk berpuasa selama berada di stasiun antariksa, terlebih karena waktu matahari terbit dan terbenam yang sangat cepat. Ia bisa mengganti puasanya saat sudah kembali ke Bumi. Shukor sendiri mengatakan bahwa dirinya berharap tetap bisa berpuasa selama bertugas di luar angkasa. Apalagi, ia mengaku sudah mendapatkan pelatihan puasa di antariksa.

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *