Bukan Nasi, Melainkan Sagu yang Sebenarnya Menjadi Makanan Pokok Bangsa Indonesia

Sagu bahkan lebih baik daripada nasi

879
SHARES

Sudah sejak lama kita terjebak pada stereotipe bahwa makanan pokok bangsa Indonesia adalah nasi. Padahal, di beberapa wilayah Indonesia, masih ada yang mempertahankan makanan pokok lainnya macam jagung ataupun sagu. Saking kuatnya budaya makan nasi di Indonesia, kita sering mendengar ungkapan “belum kenyang makan kalau belum pakai nasi”.


Namun faktanya, ternyata nasi bukanlah makanan pokok asli Indonesia. Masyarakat Nusantara di zaman purba memenuhi kebutuhan pangan melalui cara berburu, dan tidak mengenal bercocok tanam. Itulah sebabnya nasi tidak mungkin menjadi makanan pokok asli Indonesia karena baru dikenal setelah kedatangan para pedagang dari India beberapa abad silam.

Sagu dikenal lebih dulu daripada nasi

Sebelum beras menjadi hasil tani utama di masa Kerajaan Majapahit, masyarakat Nusantara lebih dahulu mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Hal ini dibuktikan dari salah satu relief di Candi Borobudur yang menggambarkan palma kehidupan, mulai dari nyiur, lontar, aren dan sagu.

Salah satu relief di Candi Borobudur yang menggambarkan kehidupan masyarakat Nusantara sebelum era bercocok tanam – goodnewsfromindonesia.id

Fakta ini didukung oleh cadangan pohon sagu alami di Indonesia yang mencapai 1,4 juta hektar dan tersebar di hutan tropis Sumatera, Kalimantan, Maluku hingga Papua. Selama ini, Papua dikenal sebagai salah satu pengkonsumsi sagu terbesar di Indonesia. Hal ini bisa dipahami, karena lahan sagu di Papua dan Papua Barat mencapai 1,2 juta hektar dan membuat masyarakat Papua lebih mudah menemui sagu ketimbang beras untuk kemudian diolah sebagai sumber karbohidrat.

Sagu lebih sehat daripada nasi

Selain menjadi makanan pokok asli bangsa Indonesia, sagu juga sebenarnya lebih sehat dan punya lebih banyak manfaat daripada nasi. Walaupun memiliki kandungan karbohidrat yang hampir sama dengan nasi, namun karbohidrat dalam sagu lebih kompleks dan lebih lama terurai. Tak heran jika setelah menyantapnya, kita tidak cepat merasa lapar. Ini berbeda dengan nasi yang mudah terurai menjadi gula sehingga punya potensi besar sebagai penyebab diabetes jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Pengolahan sagu oleh warga Papua – skpkame.com

Selain itu, dalam 100 gram sagu terkandung 13 mg mineral fosfor yang merupakan salah satu komponen penting penyusun struktur tulang dan gigi. Kandungan mineral fosfor dalam sagu juga membantu memperlancar buang air kecil sehingga tubuh lebih mudah mengurangi kelebihan garam, air, asam urat maupun zat-zat lain yang membahayakan kesehatan ginjal.

Papeda, salah satu hidangan dari sagu – dream.co.id

Dengan rajin mengkonsumsi sagu, kita juga bisa mengurangi resiko terkena kanker usus. Hal ini dikarenakan sari pati dalam sagu tidak dicerna oleh usus halus manusia, melainkan langsung difermentasi oleh bakteri di kolon (ujung dari saluran pencernaan manusia yang terdiri dari usus besar, rektum dan anus). Sagu juga dikenal baik bagi jantung, karena mampu mengurangi kemungkinan terjadinya penggumpalan darah yang bisa berdampak pada buruknya aliran darah ke jantung dan menyebabkan orang terkena serangan jantung atau stroke berat.

Bagaimana, apakah kamu mulai tertarik untuk beralih ke sagu? Mungkin agak aneh di awal, namun percayalah, sagu juga enak kok untuk dikonsumsi sehari-hari.

 

879
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~