Belajar Bijak Menggunakan Media Sosial,Karena Jempolmu Adalah Harimaumu

Karena tidak semua harus dipublikasi dan dikomentari!

Sepertinya masyarakat kita masih sangat suka menyebarkan kebencian, cacian, dan berita bohong di media sosial. Padahal jika kita melihat kebelakang, sudah banyak orang yang harus berurusan dengan hukum akibat terlalu “liar” dalam menggunakan media sosial.

Tentu kita masih ingat dengan kasus Florence Sihombing, mahasiswi S2 UGM yang pernah berurusan dengan kepolisian akibat ulahnya menghina Kota Yogyakarta melalui media sosial. Atau kita juga masih ingat dengan Annisa Madaniyah, seorang perempuan yang ditangkap pihak kepolisian karena mengunggah foto yang menghina Presiden Jokowi di akun facebooknya.

Florence sihombing harus berurusan dengan polisi akibat postingannya yang menghina warga dan kota Jogja (krjogja.com)

Berurusannya seseorang dengan pihak kepolisian terkait penggunaan media sosial yang tidak bijak, tidak hanya terjadi pada mereka orang biasa. Bahkan orang yang berpendidikan seperti Florence juga bisa tertimpa kasus akibat ulanya di media sosial. Tidak hanya masyarakat biasa dan orang berpendidikan, kasus seperti ini juga kerap terjadi di kalangan artis.

Terbaru tentu masih jelas di benak kita bagaimana Uus komika harus mendapatkan sanksi sosial akibat cuitannya di twitter. Nasib serupa juga dialami oleh komika yang lain, Ernest yang sampai Wakil Presiden ikut mengomentarinya. Dan yang terheboh ialah kasus dari postingan Buni Yani yang menggunggah video Ahok yang kontroversi dengan caption yang dinilai melanggar UU ITE.

Komika Uus dihujat netizen akibat cuitannya di twitter yang dianggap menghina ulama (m.youtube.com)

Terlepas dari semua kejadian diatas, kita sebagai pengguna media sosial mungkin bisa menyimpulkan, jika ada semacam puberitas bermedia sosial di masyarakat kita. Layaknya anak puber maka kita pengguna media sosial akan tergila-gila dengan media sosial. Apapun ia posting, sedikit-sedikit mengomentari. Sampai-sampai karena tindakannya yang berlebihan itu menyinggung orang lain dan berujung masalah.

Puberitas teknologi memang kerap terjadi saat adanya transisi model teknologi terbaru. Mungkin bagi anak 90an masih ingat saat awal berkenalan dengan televisi, setiap hari selalu di depan Tv. Saat ada Hp, setiap hari melakukan SMSan bahkan sampai berjam-jam. Dan sekarang dengan adanya media sosial, masyarakat kita sedang mengalami puberitas media sosial.

Puberitas media sosial menjadikan seseorang terlalu berlebihan mengunggah dan mengomentari sesuatu di media sosial (ributrukun.com)

Adanya puberitas dengan hal yang baru bukanlah sebuah masalah, namun jika akibat terlalu berlebihan menanggapinya ini yang akan merugikan. Akibatnya pengguna media sosial mudah menyebarkan isu, mudah terprovokasi, dan mudah menghujat. Sepertinya mulai sekarang sudah sepatutnya masyarakat kita dewasa dan bijak dalam menggunakan media sosial.

Sebab, bagaimanapun juga awal diciptakannya media sosial ialah untuk menyambungkan kembali networking kita terhadap orang-orang yang tidak bisa kita temui secara langsung, atau sudah lama tidak bertemu. Jadi tidak tepat jika kamu menggunakan media sosial untuk menghujat, menyebar berita hoax, atau memposting hal-hal yang bisa memunculkan perselisihan.

Saatnya kita menjadi pengguna media sosial yang bijak, mana yang harus di posting dan mana yang harus di komentari (galuhramadany.blogspot.co.id)

Jika dahulu kita mengenal peribahasa mulutmu adalah harimaumu, maka untuk sekarang kita mengenal istilah jempolmu adalah harimaumu. Sebab dengan melalui ketikan jari saja kita bisa berurusan dengan orang banyak dan kepolisian.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amin Aulawi (Aw)

Amin Aulawi (Aw)

Penikmat Dunia, Perindu Surga,

Dari Memex Sampai Peju, Nama 6 Teknologi Keren Ini Benar-Benar Bikin Malu

7 Destinasi Wisata Baru di Jogja yang Masih ‘Rahasia’ Ini Akan Membuat Liburanmu Seru Tak Terkira!