Karena Romantis Itu, Tak Bisa Menjamin Langgengnya Sebuah Hubungan

Sebab, yang namanya romantis itu hanya bersifat sementara

Banyak orang percaya, bahwa hubungan yang langgeng itu hanya bisa terwujud jika pelakunya mau bersikap romantis. Hm.. benarkan seperti itu? Saya rasa tidak. Karena semua pasangan, punya peluang yang sama untuk melanggengkan hubungan tanpa perlu embel-embel romantis.

Tidak semua orang bisa bersikap romantis

Beberapa kali, mungkin kamu sering iri melihat banyak pasangan romantis yang berseliweran di jalan-jalan. Jalan berdua sambil bergandengan tangan, makan berdua sambil suap-suapan, mendadak memberi kejutan, atau, hal-hal lain yang berlandaskan pada asas romantis lainnya.

Sama, saya juga pernah iri seperti kamu. Tapi itu dulu, sebelum saya memahami bahwa romantis sebenarnya tidak bisa menjamin kebahagiaan sebuah hubungan. Atau dengan kalimat yang sedikit drama, ada kalanya, romantis justru menjadi penyebab terkuat sebuah hubungan berakhir tragis.

Romantis tidak bisa dijadikan patokan kelanggengan sebuah hubungan. | desktopbackgrounds4u

Karena, tidak semua pasangan di dunia ini bisa benar-benar bersikap romantis. Ada banyak pasangan yang hanya ingin terlihat romantis di depan orang-orang, saling bergandengan tangan, saling suap-suapan. Tapi dibalik kemesraan itu, hubungan mereka justru benar-benar bobrok.

Selain itu, mengapa romantis tidak bisa dijadikan patokan kelanggengan sebuah hubungan adalah karena tidak semua orang bisa romantis. Tak usah jauh-jauh, saya contohnya. Saya ini, bukan tipe orang romantis. Tapi nyatanya, saya masih tetap bisa kok hidup bahagia dengan pasangan saya.

Romantis itu bersifat sementara

Bagi saya, romantis itu adalah perasaan yang sebenarnya. Tak perlu mengumbar kemesraan, yang penting hati. Ketika saya menyayangi pasangan saya, itu sudah saya anggap sebagai hal yang sangat romantis. Karena percayalah, romantis yang ‘dibuat-buat’ itu tidak akan bisa bertahan lama.

Contoh sederhana saja. Saat masih pacaran, sepasang kekasih benar-benar membanggakan keromantisan mereka, saling bergandengan tangan, saling suap-suapan, dan tak pernah lepas satu sama lain. Tapi setelah menikah, apakah sikap mereka akan tetap seperti itu? Saya yakin tidak.

Bagaimana pun bentuknya, yang namanya romantis itu tidak akan bertahan lama. | pixabay.com

Mengapa bisa begitu? Sebab, yang namanya romantis itu hanya bersifat sementara. Terlebih, jika keromantisan itu dilakukan hanya untuk menutupi bobroknya sebuah hubungan. Tak perlu menunggu waktu lama, semua kemesraan itu, semua kebohongan itu, pasti akan bobrok juga.

Karena itu, mari, kita sama-sama sepakat bahwa langgengnya sebuah hubungan, kualitas sebuah hubungan, dan pondasi terkuat sebuah hubungan, tidak terletak pada yang namanya keromantisan. Yang terpenting adalah jujur, setia, dan saling percaya. Fokus saja pada ketiga hal itu. Bisa?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *