Review AADC 2, Film Paling Dinanti yang (Ternyata Tak) Sesuai Ekspektasi

Di luar dugaan, film yang dinanti banyak orang ini malah merusak harapan penonton tentang film yang sempurna

Manusia terbiasa dituntut harapan-harapan. Ketika kita sudah merasa cukup dan tidak memerlukan apa-apa lagi, orang lain datang memberi harapan tinggi yang memuncak menjadi sebuah paksaan. Sekuat apapun melawan, kita sudah terlanjur berdiri di lubang takdir yang tak mungkin terkalahkan.

Tak ada yang menyalahkan Riri Riza dan Mira Lesmana ketika mereka berusaha membangun lagi kenangan generasi lama tentang sosok Cinta dan tentu saja.. Rangga yang melegenda. Mencoba menguak kembali kisah cinta mereka berdua dan persahabatan klasik antara Cinta, Alya, Karmen, Maura, juga Milly. Mungkin malah jadi sebuah keharusan bahwa cerita menggantung AADC harus dituntaskan. Tapi kalau film AADC 2 sengaja diciptakan karena tuntutan semua orang (yang mengenal Cinta, Rangga, dan uang), tunggu dulu…

Apakah cerita AADC 2 seperti yang diharapkan oleh banyak kalangan? Sepertinya tidak (Via mojok.co).

Film yang dibuat dengan alasan kebutuhan dan tuntutan itu berbeda. Film karena kebutuhan akan mementingkan isi cerita, tidak peduli akan seperti apa tanggapan masyarakat. Film karena tuntutan? ceritanya akan mengikuti apa yang penonton harapkan. Dan, AADC 2 adalah contoh ter-gres dari jenis film kedua.

Pertanyaannya, mengapa?

1. Karena tidak ada yang lebih buruk dari film kejar tayang

Ada selisih 14 tahun antara AADC dan AADC 2, dan berjarak sembilan tahun ketika Rangga meninggalkan Cinta, dalam cerita. Dengan waktu selama itu, harusnya AADC 2 bisa dikemas dengan lebih sempurna. Ini tidak membicarakan soal kostum pemain dan tata artistiknya yang memang luar biasa untuk ukuran film Indonesia. Yang kurang dari AADC 2 adalah jalan cerita. Terlepas dari misi untuk mempertemukan lagi Cinta dan Rangga, banyak momen yang terkesan “ini harus seperti ini”. Banyak scene di sana-sini yang patah-patah, adegan-adegan yang mendadak kontras, tidak mengalir deras.

Dalam banyak adegan, alur cerita AADC 2 masih jauh dari kesan rapi (Via bookmyshow.com).

Entahlah, mungkin ada banyak tuntutan di balik semua itu. Tuntutan dari berbagai pihak agar film ini bisa rilis secepatnya. Sehingga, Mira Lesmana dan Riri Riza melupakan satu hal penting dalam seni dan sastra, yaitu alur. Ketika itu terjadi –dan memang terjadi, AADC 2 menjadi semacam short film yang dikejar tayang. Mereka bahkan tak memikirkan bahwa pertemuan Cinta dan Rangga harusnya dikemas dalam satu adegan spektakuler, adegan yang bisa membayar tuntas kerinduan mereka dan penonton selama 14 tahun! Bukan di galeri seni penuh iklan seperti itu…

2. Karena film kejar tayang selalu mementingkan uang

Ada hal yang membuat penonton nyinyir menyaksikan AADC 2. Bukan tentang absen-nya Alya, bukan alasan mengapa Rangga mau kembali pulang ke Indonesia, dan bukan soal kota Magelang yang tidak pernah disebut dalam satu dialog pun (halo Indonesia, Cinta dan Rangga menghabiskan satu malam di Magelang! Kamu tahu itu?). Kita, para penonton, dibuat heran dengan banyaknya scene yang menampilkan promo di sana-sini. Memang sebisa mungkin dibuat menyatu dengan cerita, namun sepertinya itu berlebihan.

(Via bookmyshow.com).
Kita tidak pernah melihat “iklan” apapun di film AADC 14 tahun lalu. Di AADC 2 ini, kita banyak sekali menemukannya (Via bookmyshow.com).

Seperti ketika Cinta mengajak Rangga ke sebuah kedai kopi, kita malah dibuat kagum dengan originalitas kopi di tempat itu. Alih-alih memikirkan apa yang akan dilakukan mereka berdua, kita hanya memikirkan bagaimana cara paling cepat keluar dari bioskop kemudian mencari kedai kopi itu. Kalau sampai hal di luar cerita utama bisa membuyarkan ekspektasi para penonton, itu sebuah kegagalan. Apalagi, kalau hal di luar cerita itu berhubungan dengan apa yang disebut.. ya, iklan.

3. Karena uang tak akan mempedulikan kelemahan

Konsekuensi dari mengekploitasi promo di sana-sini adalah, promo harus bisa masuk dalam alur cerita. Kalau tidak bisa, berarti jalan cerita yang harus menyesuaikan iklan. Separah itu? Ya. Akibatnya? Cinta harus melewatkan janji makan malam bersama teman-temannya hanya untuk menemani Rangga mengelilingi Jogja (dan Magelang) di malam hari. Rangga harus menjadi seorang “kriminal” yang berani mengajak seorang cewek baik-baik pergi sampai pagi hari. Kalian ingat, mereka berdua tidak pernah punya sifat seperti itu di AADc pertama. Benar, ini adalah kelemahan besar yang timbul ketika cerita harus mengikuti tuntutan. Ayolah.. tak ada yang suka dengan perubahan sikap Cinta dan si pendiam Rangga.

(Via bookmyshow.com).
Dengan alasan apapun, seharusnya AADC 2 tidak boleh mengubah sikap baik yang melekat pada diri Cinta dan Rangga (Via bookmyshow.com).

4. Karena kelemahan (untungnya) masih bisa dimaafkan

Terlepas dari banyaknya hal yang tidak semestinya ada dan terjadi di AADC 2, film produksi Miles Film ini untungnya sedikit membuat lega. Terlepas dari hilangnya si protagonis Alya, Cinta, Karmen, Maura, dan Milly masih bisa mengajarkan pada kita bahwa persahabatan adalah harta yang harus dipertahankan, apapun hal buruk yang terjadi pada diri masing-masing. Bahwa ada orang-orang di sekitar kita yang selalu bisa membuat tertawa, dengan kejujuran dan keluguannya.

Setidaknya, kita masih bisa membawa pulang beberapa pesan yang bisa diterapkan di kehidupan nyata (Via bookmyshow.com).

Meskipun label “kriminal” terlanjur melekat, namun Rangga berhasil mencontohkan bahwa ada alasan luar biasa mengapa seseorang memilih untuk melupakan orang tercinta, kemudian kembali dengan alasan yang tak kalah luar biasanya. Dan si cantik Cinta, sukses menyadarkan kita bahwa maut bisa menjemput kapan saja. Sebelum itu terjadi, jujur pada diri sendiri tentang perasaan kita pada seseorang tak bisa lagi ditunda. Dan akhirnya, Cinta dan Rangga yang melegenda membuktikan bahwa, mencintai banyak orang jauh lebih mudah dibanding melupakan satu orang. Ketika itu terjadi, maka terus mengingatnya adalah keputusan paling masuk akal.

AADC 2 membawa banyak kekurangan. Tentu saja, semua orang punya hak yang sama untuk menilai. Yang perlu diperhatikan adalah, selama masih ada orang-orang yang belum bisa mengapresiasi baik sebuah karya, berarti masih ada yang perlu disempurnakan, sesempurna apapun karya itu.

Kalau kamu, bagaimana melihat film AADC 2 ini? Dari sudut manapun kamu menilai, jangan ragu untuk berdiskusi di kolom komentar.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Review Captain America: Civil War, Film Superhero Terbaik yang Pernah Dibuat Manusia

Karena Aku Begitu Mencintaimu, Maka Jujurlah Tentang 5 Hal Ini Padaku