Nikah Muda Emang Menggoda, Tapi Hati-Hati dengan Resiko Besarnya

Apalagi kalau fase remaja yang terlewat justru ‘minta jatah’ di kemudian hari

Pernikahan sepasang siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama) beberapa waktu lalu sungguh sangat menarik perhatian publik. Sontak saja, kabar menghebohkan itu langsung menjadi viral di media sosial begitu salah seorang mempelai mengunggah foto-foto upacara pernikahannya.

Pernikahan sepasang anak SMP yang beberapa waktu sempat menghebohkan Indonesia. | songgolangit.net

Mengingat umur mereka yang masing-masing masih 15 tahun, pernikahan itujelas melanggar UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sampai saat ini, menurut hukum di Indonesia, batas usia minimal untuk melaksanakan pernikahan adalah 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki.

Pernikahan bukan hanya sekadar menghindari zina

Dan yang lebih mengejutkan, berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2012, sebanyak 45 persen perempuan menikah di bawah usia 20 tahun, dengan perincian 4,2 persen menikah di usia antara 10 sampai 14 tahun, dan 41,8 persen menikah pada usia 15 sampai 19 tahun.

Menanggapi hal itu, Wolipop mengadakan survei terhadap 1.422 responden, tentang pro dan kontra keputusan anak-anak SMP ini melakukan pernikahan. Hasilnya, 88 persen menyatakan tidak setuju dan hanya 12 persen menyatakan setuju.

Soal pernikahan di bawah umur, tetap saja, banyak orang yang menolaknya. | youtube.com

Mereka yang setuju kebanyakan beralasan lebih baik menikah daripada berzina. Tapi masalahnya, bukankah makna pernikahan bukan hanya sekadar menghindari zina saja?

Pernikahan membutuhkan kesiapan dan kematangan secara emosi dan finansial agar tujuan pernikahan yang luhur bisa tercapai. Apalagi, pada umumnya, remaja berusia 15 tahun masih belum cukup matang secara emosional untuk mampu memahami tanggung jawab yang diembannya.

Jika alasannya untuk menghindari zina, hal ini membuktikan bahwa sangat penting untuk memberikan pendidikan seksual kepada anak dan remaja agar terhindar dari perilaku seks yang tidak sepantasnya.

Resiko besar pada pihak perempuan

Lagipula, pernikahan di usia muda akan berdampak lebih besar pada pihak perempuan, baik dari aspek kesehatan fisik maupun psikologis. Sistem reproduksi perempuan di bawah 20 tahun masih belum siap untuk memiliki anak. Inilah salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu di Indonesia.

Menikah muda juga jelas akan mengganggu pendidikan, apalagi kalau sampai terjadi kehamilan. Karena umumnya, sekolah tidak mau menerima siswa yang sedang hamil. Akibatnya, pihak perempuan akan putus sekolah dan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak.

Resiko besar nikah muda justru harus ditanggung pihak perempuan. | wanitaindonesia.co.id

KDRT juga menjadi dampak lain yang harus diwaspadai. Karena faktanya, hasil riset pada tahun 2011 silam menunjukkan bahwa sebesar 44 persen anak yang menikah dini mengalami KDRT dalam frekuensi tinggi, sementara sebesar 56 persen mengalami KDRT dalam frekuensi rendah.

Selanjutnya, resiko kesehatan, terutama jika pihak perempuan mengalami kehamilan, baik kesehatan ibu maupun bayi. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa sistem reproduksi yang belum matang dan belum siap menerima kehamilan akan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kehamilan.

Resiko komplikasi kehamilan sangat rawan dialami oleh perempuan-perempuan muda. | skata.info

Salah satunya adalah preeklampsia. Preeklampsia merupakan salah satu faktor penyebab keguguran maupun kematian ibu melahirkan. Resiko lain adalah ketuban pecah dini yang mengharuskan bayi dilahirkan secara prematur, yang menyebabkan timbulkan risiko berat lahir rendah dan stunting.

Dengan begitu banyaknya resiko dari menikah di usia muda, maka kita harus mengingat-ingat lagi, bahwa usia remaja merupakan fase pencarian jati diri, memperluas pergaulan, dan pengembangan diri. Pernikahan jelas akan membuat fase-fase penting itu terhenti.

Masa muda bukanlah fase untuk menikah, apalagi mengurus bayi. | jateng.bkkbn.go.id

Akibatnya, para pelaku pernikahan dini akan kehilangan salah satu tahap perkembangan dalam hidupnya. Inilah, yang kemudian menyebabkan banyak perceraian pada pernikahan yang dilakukan di usia muda.

Ketika fase hidup yang belum terpenuhi itu kembali ‘minta jatah’ di kemudian hari, maka menjadi sangat wajar kalau masing-masing pasangan akan bergerak mencari jati diri mereka sendiri-sendiri.

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Perdebatan yang Tak Pernah Usai: Ibu yang Bekerja VS Ibu Rumah Tangga

Misteri Jembatan Nabi Adam, Jembatan Tertua yang Membelah Laut India dan Sri Lanka