Memaksa Istri Hamil Adalah Satu dari Sekian Banyak Kekerasan dalam Rumah Tangga

Meskipun enak, tetep aja nggak enak kalau dipaksa. Iya, kan?

Belum banyak yang tahu, ternyata hal-hal sepele seperti ketika istri sengaja menggunakan pil KB tanpa sepengetahuan suami, atau suami mendesak istrinya untuk segera hamil merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga yang lazim disebut reproductive coercion. Kamu juga baru tahu, kan?

Baca juga : Demi Pinggang Seramping Tokoh Kartun, Wanita Ini Rela Pakai Korset Selama 7 Tahun

Entah itu dilakukan oleh suami atau pun istri, memaksakan kehamilan adalah salah satu bentuk KDRT. | mommiesdaily.com

Secara umum, reproductive coercion bisa menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, dan tekanan psikologis, yang pada akhirnya menimbulkan trauma berat pada korban. Dan kalau kamu berpikir hanya wanita saja yang pasti menjadi korban, salah. Karena pria juga punya resiko yang sama.

Tidak sadar melakukan reproductive coercion

Pada prakteknya, banyak pasangan yang tidak sadar telah melakukan reproductive coercion, yang merupakan tindak kekerasan mental untuk menunjukkan kekuasaan dan mengontrol pihak yang lebih lemah, hingga mengendalikan fungsi tubuh wanita secara eksklusif, seperti kehamilan, tentu saja.

Sayangnya, banyak pasangan yang tidak sadar telah melakukan reproductive coercion. | webviralrd.com

Ada dua karakteristik berbeda dari reproductive coercion. Pertama, pemaksaan agar segera hamil, dan yang kedua adalah manipulasi kondom atau alat kontrasepsi lainnya. Jika satu atau bahkan kedua hal itu terjadi pada pasangan suami-istri, maka jelas, kepedulian dan pertolongan sangat dibutuhkan.

Tabu dan takut kehilangan

Sayangnya, aktivitas seksual adalah topik yang tabu dan jarang dibahas secara terbuka di Indonesia. Bahkan tidak peduli jika seseorang menjadi korban reproductive coercion, dia tidak akan membeberkan hal itu terang-terangan karena takut mendapat penilaian buruk di mata masyarakat.

Tabu dan malu adalah penghambat terbesar yang membuat banyak kasus reproductive coercion di Indonesia sulit terbongkar. | huffingtonpost.com

Karena itu, sangat sulit mendeteksi adanya kekerasan dalam rumah tangga berbalut reproductive coercion di Indonesia. Para dokter dan psikolog akan menemui jalan buntu ketika harus berbicara dengan pasien yang non-konfrontatif, sulit diajak kerjasama, dan malu-malu dalam berbicara.

Rasa takut kehilangan dan ketergantungan emosional pada hubungan juga menjadi alasan lain mengapa hanya sebagian kecil orang-orang Indonesia yang mau mengakui adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga mereka. Entah itu reproductive coercion atau pun jenis KDRT lainnya.

Lupakan ketabuan!

Oleh karena itu, mari, kita sama-sama mendalami lagi apa itu makna kekerasan dalam rumah tangga yang sebenarnya. Bahwa ternyata KDRT bukan hanya soal menampar, memukul, dan menyiksa pasangan, tapi memaksa istri hamil secara sepihak atau istri memaksa suami agar segera menghamilinya juga termasuk di dalamnya.

Apapun jenisnya, KDRT harus dihentikan. | flipboard.com

Ketika hal seperti itu benar-benar terjadi, maka satu-satunya jalan untuk menyelesaikan adalah dengan jujur dan terbuka pada siapa pun yang berkompeten membantu. Dokter dan psikolog, misalnya. Lupakan dulu ketabuan demi hubungan rumah tangga bahagia. Begitu, kan?

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: “Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal.”

Buat Kamu Pendaki Gunung Abal-Abal, Ini Loh Alasan Kamu Ga Boleh Petik Edelweiss Sembarangan

Kamu yang Sedang Cari Calon Suami Terbaik, Temukan Mereka Dalam 4 Zodiak Ini