‘Jangan Ke Mana-Mana’, Bujuk Rayu Paling Romantis di Pertelevisian Indonesia

Apa kamu juga jadi nggak ke mana-mana?

Meskipun saya bukan orang yang suka menonton TV, namun ada satu hal luar biasa yang membuat saya kagum dengan pertelevisian Indonesia. Itu, adalah kepiawaian para penyiarnya yang begitu romantis mengucapkan permintaan kepada pemirsanya sebelum iklan dengan kalimat yang tidak berubah dari dulu kala. Bunyinya sangat mudah diingat: “jangan ke mana-mana!”

Baca juga : Remaja “Jaman Now” Nggak Bakal Tahu Gregetnya Gaya Pacaran Ala Generasi 90an

Glory Rosary Oyong, penyiar TV yang sering merayu pemirsa TV dengan kalimat maut ‘jangan ke mana-mana.’ – youtube.com

Andai saja opsir penjara dan polantas yang bicara

Kalau saja permintaan itu disampaikan oleh sipir penjara atau jajaran polisi lalu-lintas yang pasti merindukan bebas tugas, hasilnya pasti akan lebih menarik. Polantas yang ganteng dan ayu itu tentu senang andai banyak orang memilih tinggal di rumah ketimbang bermacet-macetan di jalan. Dan pak sipir pun pasti gembira bukan main andai para narapidana tidak punya niat melompati dinding penjara.

Bagaimana kalau ‘jangan ke mana-mana’ disuarakan oleh polantas seperti mereka? – klikkabar.com

Dan bayangkan juga andai rayuan manis itu tidak terlontar dari rongga suara para pembawa acara, pasti para pemirsa yang tidak setia seperti saya memilih keluyuran, dan kampanye di luar musim pemilu dari salah satu partai politik itu pasti tidak ada yang menonton. Mubazir, kan?

Melihat tanpa mendengar suaranya

Dulu, sebelum saya sadar, saran para penyiar TV itu memang benar-benar saya jalankan, terlebih ketika ada siaran langsung pertandingan sepak bola seperti AFF dan ISC. Dengan begitu, saya bisa melihat pertandingan final Timnas melawan Thailand di Bangkok beberapa waktu lalu, dimana Timnas Garuda begitu menghormati tuan rumah yang memang jelas ingin berpesta pora.

Namun semakin lama, kebiasaan mau saja dirayu seperti itu membuat saya mati gaya, hingga saya mencari ide untuk menonton TV dengan cara yang tidak biasa. Akhirnya, saya pun mendapatkan ide itu setelah membaca buku karya Raymond Williams berjudul Television: Technology and Cultural Forms. Buku ini pertama kali terbit tahun 1974, ketika TV masih menjadi hal baru dalam kebudayaan manusia.

Buku Television: Technology and Cultural Forms karya Raymond Williams. – amazonaws.com

Dalam buku itu, ada penjelasan mengenai hubungan antara televisi dan bentuk-bentuk ekspresi budaya yang mendahuluinya, juga penjelasan mengenai keunikan TV itu sendiri. Nah, untuk mencermati keunikan televisi, Williams kemudian menyarankan untuk menonton TV dengan mematikan suaranya.

Merasa mendapatkan pencerahan, saya lalu mencobanya. Dengan modal remote control di tangan, saya pencet tombol mute dan seketika itu juga si cantik Glory Rosary Oyong menjadi bisu. Dengan cara demikian, sepertinya saya bisa memikirkan dengan seksama apa kira-kira yang dimaksud oleh Williams dengan visual mobility, contras of angle, dan variation of focus.

Sejak saat itu, saya pun berhenti mengagumi bujuk rayu paling romantis ‘jangan ke mana-mana’ dan bebas pergi ke mana saja.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: “Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal.”

Woww!!! Dalam Satu Tahun Bayi yang Lahir di Indonesia, Sama dengan Jumlah Penduduk Singapura

Kamu yang Ekstrovert, Inilah 4 Hal yang Para Introvert Inginkan Darimu. Tolong Pahamilah!