Menyinggung Hingar-Bingar Ramadhan dan Geliat Islam-Islam Amatiran

Siapa yang amatiran?

Bagi sebagian orang, berziarah ke Menara Kudus adalah sebuah keistimewaan. Kudus, merupakan kota para wali yang tidak bisa didatangi dengan satu-dua langkah saja, namun harus dirembug dan direncanakan dengan matang. O ya.. bagi kamu yang ingin melawan lupa, Menara Kudus adalah peninggalan Sayid Ja’far Shodiq Azmat Khan atau yang lebih dikenal dengan Kanjeng Sunan Kudus.

Baca juga : Softex dan 8 Merek Lain yang Justru Dipakai untuk Mengganti Nama Sebenarnya

Menara Kudus merupakan situs peninggalan Sayid Ja’far Shodiq Azmat Khan atau Kanjeng Sunan Kudus. – abouturban.com

Sensasi yang cetar membahana

Bila perlu, orang-orang akan mempersiapkan traveling islami itu setahun sebelumnya, dengan menabung terus-terusan, misalnya. Makanya, setelah kesampaian berziarah ke Menara Kudus, luapan kegembiraan pun benar-benar tak terkira, dan menghadap Kanjeng Sunan menjadi satu kenikmatan batin yang luar biasa besarnya.

Adalah sebuah kebanggaan luar biasa ketika seseorang berkesempatan ziarah ke pusara Sunan Kudus. – ustadzsolehsofyan.com

Apalagi, kalau kedatangan ke Menara Kudus adalah yang pertama kali, bisa jadi sensasinya semacam kerinduan sepasang kekasih yang akhirnya bertemu di kursi pelaminan. Dahsyatnya bukan lagi termasuk golongan kelas ringan, melainkan ‘cetar membahana’ kalau mbak Syahrini bilang. Lantas, bagaimana suasana di Menara Kudus sebenarnya?

Sunan Kudus dan semua keluarbiasaannya adalah hal yang biasa

Kalau kamu pernah sekali saja ke sana, kamu pasti bisa melihat banyak sekali warung dan toko yang membelanjakan dagangan khas Menara. Selain itu, di sana juga bertebaran para juru foto yang menyediakan jasanya. Pengemis duduk-duduk di sepanjang jalan menuju Menara, sedangkan bapak-bapak tukang ojek menunggu pelanggannya persis di pelataran parkir Menara.

Mereka, para penjual, juru foto, pengemis, dan bapak-bapak tukang ojek itu adalah orang-orang yang setiap hari berada dekat dengan Menara Kudus, bahkan sering berada dekat dengan pusara Sunan Kudus. Lha wong tiap malam saja ngopi berjamaah di sepanjang emperan Menara Kudus kok.

Bagi para penjual ini, Menara Kudus dan semua keistimewaannya adalah sesuatu yang biasa. – isknews.com

Maka, para penjual akan lebih bahagia ketika dagangannya laris dibeli para peziarah, para juru foto akan lebih bahagia ketika banyak peziarah menyewa jasanya, para pengemis akan lebih bahagia ketika banyak para peziarah yang memenuhi kaleng bekas mereka, dan para bapak tukang ojek itu.. akan lebih bahagia ketika bolak-balik mengantarkan peziarah setiap harinya.

Bukannya mereka tidak takjub dengan Menara Kudus dan pusara Kanjeng Sunan Kudus, hanya saja mereka sudah terlalu terbiasa berkumpul di Menara Kudus dan menghadap Kanjeng Sunan. Mereka berbeda dengan para peziarah yang mayoritas baru melakukan debut menginjakkan kaki di tanah Jerusalem-nya Indonesia itu.

Karena sudah terbiasa, mereka tidak kagetan. Karena tidak kagetan, mereka tidak lagi pantas disebut amatiran. Bisa dibilang, mereka adalah para profesional yang tetap kalem di tengah hingar-bingarnya para peziarah yang masih amatiran.

Islam profesional dan Islam amatiran

Cerita berbelit-belit di atas hanyalah sebuah perumpamaan yang diambil dari kisah nyata di Menara Kudus sana. Sekarang mari kita ganti Menara Kudus dan pusara Sunan Kudus dengan puasa, kemudian ganti para penjual, juru foto, pengemis, dan bapak-bapak tukang ojek dengan alim ulama, dan para peziarah amatiran itu dengan kita.

Sebagai informasi, banyak alim ulama yang menjalankan puasa bertahun-tahun tanpa henti. Dan meskipun sedang menahan lapar dan dahaga, mereka tetap menjalankan semua aktivitas seperti biasanya orang yang tidak berpuasa.

Meskipun berpuasa selama bertahun-tahun, para alim ulama tetap bisa menjalankan aktivitas seperti biasa. – irajnews.com

Selama berpuasa, mereka tidak pernah melarang orang lain untuk makan dan minum di depan mereka. Mereka tidak melarang warung mana pun untuk buka. Mereka juga tidak pernah sekali pun berteriak di tengah keramaian untuk minta dihormati selama berpuasa.

Mereka, para Islam profesional itu, adalah orang-orang yang terbiasa dengan spirit berpuasa. Perjumpaan mereka dengan tagline ‘menahan lapar dan dahaga’ sudah lebih dari profesional. Tidak lagi amatiran.

Sedangkan kita berbeda. Banyak dari kita yang tidak pernah berpuasa 11 bulan sebelum Ramadhan tiba, bahkan puasa Senin-Kamis pun tidak. Maka kita yang masih polos dan terlalu amatiran ini, suka sekali menjadi sok ulama setiap bulan puasa tiba. Dan sekali saja hilal terlihat, level keislaman kita juga ikut-ikutan sok terlihat. Kita ini Islam-Islam amatiran, kalau mendiang Gus Dur bilang.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Dalam Satu Gedung Ini, terdapat Tiga Waktu Berbuka Puasa yang Berbeda. Kok Bisa?

Ayam Kremes Sambal Uleg dan Menu Gagal McDonald’s Lainnya