Rahasia Paling Terselubung Dibalik Tulisan Dokter yang Bikin Bingung

Sudah saatnya kita tahu, jangan hanya mengandalkan apoteker yang cantik dan unyu-unyu itu

Jika kita membicarakan dunia kesehatan, terkhusus para dokter dan resep obat yang mereka tulis, maka kita akan menemukan satu fenomena unik yang sudah kadung biasa, apalagi kalau bukan literasi menakjubkan berupa deretan nama-nama obat yang Masya Allah.. susah sekali dibaca!

Ya, tulisan seorang dokter merupakan sebuah mahakarya luar biasa, yang berarti hanya segelintir manusia saja yang bisa paham apa maksudnya. Ketidakpahaman kita pada tulisan dokter bahkan sudah sangat membudaya, banyak orang mengalaminya, tak peduli ijazah apa yang mereka punya.

Bukan hal yang memalukan jika kamu sama sekali tak bisa membaca resep obat dari dokter, karena mayoritas orang juga mengalaminya. | kapanlagi.com

Lantas, siapa yang masuk kategori ‘segelintir manusia’ itu? Menurut saya, siapa lagi kalau bukan apoteker-apoteker yang cantik dan unyu-unyu itu. Entah bagaimana caranya, bagi mereka, resep dokter tak ubahnya daftar belanjaan. Sekali membaca, langsung bilang ‘tunggu sebentar ya’.

Mengurangi resiko kematian dan otak yang berkembang

Yang kemudian menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa sih semua dokter harus menulis dengan font style ceker ayam seperti itu? Apa karena pasien tak boleh tahu resep apa yang dia tuliskan? Atau, apa mereka anggap pasien adalah kurir yang hanya mengantar pesanan ke apotek terdekat?

Setelah cukup lama berpikir hingga harus menjomblo untuk sementara waktu, akhirnya saya mendapat kesimpulan bahwa, ada dua alasan penting mengapa tulisan dokter begitu sulit dibaca.

Alasan pertama adalah untuk menyingkat waktu. Percayalah, profesi dokter itu bukan perkara mudah. Setiap hari, ada puluhan orang yang mengantre agar bisa konsultasi dan berobat. Nah, jika dokter harus menulis resep dengan tulisan yang indah, tentu saja, itu akan menyita banyak waktu.

Bahkan dokter yang cantik sekali pun, pasti, tulisan di resep obatnya jelek juga. | meminebeauty.com

Nggak lucu kan, ada pasien yang terlanjur mati sebelum ditangani gara-gara harus antre lama karena dokternya kelamaan nulis resep untuk pasien di depannya? Dalam hal ini, tulisan dokter bisa saja dianggap sebagai solusi hebat untuk mengurangi resiko kematian seorang pasien. Nah kan?

Itu alasan pertama. Yang kedua, adalah untuk mengasah otak kita. Begini maksud saya, jika kamu hanya membaca tulisan-tulisan yang bagus dan tertata rapi, tentu kepintaranmu dalam membaca tidak akan berkembang. Di sinilah peran tulisan ecek-ewer seorang dokter benar-benar diperlukan.

Diperlukan perhatian, kejelian, analisa, dan pemahaman yang mumpuni untuk sekadar bisa membaca tulisan ecek-ewer seperti ini. | dairinews.com

Dengan terbiasa membaca tulisan yang sangat membutuhkan perhatian, kejelian, analisa, dan pemahaman seperti resep dokter, maka secara tidak sadar otakmu akan semakin terasah karena ada semacam tantangan untuk sekadar bisa membacanya.

Sekali lagi, dua kesimpulan di atas hanyalah buah dari analisa saya di waktu-waktu senggang sebagai jomblo dan pernah berstatus sebagai seorang pasien. Maka, tentu saja, tingkat kebenarannya masih bisa dipertanyakan.

Karena itu, jika kamu adalah seorang apoteker yang cantik dan unyu-unyu, dan kebetulan sedang membaca opini saya ini, “kapan kita bisa makan bareng sambil ngepoin resep dokter yang bikin bingung itu?” *Eh…


Rekomendasi #SobatInovasee:

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

2 Pings & Trackbacks

  1. Pingback:

  2. Pingback:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *