Terkadang “Puasa” dari Media Sosial Perlu Kamu Lakukan, Ini Alasannya

Jika kamu mau melakukannya, ada banyak manfaat yang bisa kamu dapat

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa di era millennial ini, gadget dan media sosial menjadi kebutuhan yang tak bisa ditinggalkan. Bahkan bagi beberapa orang, kedudukannya sama penting dengan papan, sandang dan pangan. Gadget dan media sosial seakan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan dan aktivitas sehari-hari.

Puasa dari media sosial (mediaindia.eu)

Hampir semua orang memiliki smartphone yang bisa digunakan secara bebas, salah satunya untuk mengakses media sosial seperti Instagram, Facebook, hingga Twitter. Demi eksistensi diri, aktivitas “scrolling” di media sosial bahkan bisa berlangsung selama berjam-jam. Meski terkadang merasa lelah dan bosan, namun perlu diakui banyak yang tidak bisa berhenti melakukannya.

Bahkan ketika bangun tidur yang pertama dicari adalah smartphone dan kemudian melihat notifikasi apa saja yang berhubungan dengan medsos. Kebiasaan ini lama-kelamaan bisa mempengaruhi dan memperburuk kesehatan. Untuk itu ada kalanya kamu harus “puasa” dari media sosial karena beberapa alasan berikut ini.

Mencoba fokus dengan diri sendiri

Media sosial memang menyajikan berbagai hal menarik dari lingkungan terdekat sampai ke berbagai belahan dunia. Menampilkan aktivitas berupa foto maupun informasi yang bisa membuat orang iri ketika melihatnya. Semua sajian di dunia maya ini akhirnya membuat orang-orang tidak fokus dengan hidupnya. Mereka hanya melihat dan fokus kepada kehidupan dan kebahagiaan orang lain.

Mencoba fokus dengan diri sendiri (popsugar.com)

Dengan menerapkan “puasa” terhadap media sosial, kamu bisa mencoba untuk fokus dengan diri sendiri dan tak perlu membandingkan hidup dengan orang lain. Kamu bisa lebih fokus dengan apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu sukai. Fokus dengan tujuan yang hendak dicapai tanpa harus terprovokasi dengan postingan orang lain.

Lebih bisa memanfaatkan waktu

Selama ini, berapa banyak sih waktu yang kamu gunakan untuk scrolling dan kepo-kepo medsos? Mungkin beberapa menit, beberapa jam tapi bisa juga seharian. Semakin banyak medsos yang dimiliki maka akan semakin banyak waktu yang terbuang hanya untuk melihat apa saja isinya.

Lebih bisa memanfaatkan waktu (Leafly)

Banyak sekali kesempatan berharga yang seharusnya digunakan untuk hal-hal penting, justru terbuang hanya untuk membuka medsos. Misalnya saja ketika bosan, waktu istirahat, menunggu teman hingga saat pelajaran. Jika semua waktu yang kamu gunakan untuk membuka medsos di total, maka akan cukup untukmu belajar dan menguasai skill baru yang lebih bisa dinikmati secara nyata.

Bisa lebih percaya diri

Semua hal yang kamu posting di media sosial, seperti status dan juga foto, merupakan bentuk lain dari keinginanmu mendapatkan penilaian orang lain. Penilaian ini bisa berupa like, komen atau mungkin share. Buktinya, siapa sih yang nggak senang ketika fotonya banyak mendapat like, atau di komen oleh gebetan? Setidaknya ini akan membuatmu tersenyum cerah.

Bisa lebih percaya diri (catherinemoorenelson.com)

Namun sebaliknya, ketika mendapat sedikit like maupun komentar, kamu menyimpulkan bahwa apa yang kamu unggah tidak menarik. Hingga akhirnya kamu merasa tidak percaya diri. Merasa kamu bukan apa-apa dibanding mereka yang bisa mengumpulkan ratusan hingga ribuan like dalam sekali posting.

Padahal jumlah like, komentar dan juga share tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap kehidupan nyata. Media sosial hanya mengubahmu menjadi makhluk yang butuh “pengakuan” berupa like dan komentar dari orang lain. Dengan berpuasa dari medsos, akan membantumu untuk mendapatkan kembali rasa percaya diri dan tidak bergantung kepada penilaian orang lain. Bisa menjadi diri sendiri dan bahagia dengan apa yang kamu lakukan.

Jadi, kapan kamu mau “puasa” dari media sosial yang mengerikan itu?

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Bagaimana Menurutmu?

Written by Erinda

"You can if you think you can"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *