Meski Terlihat Sepele, Profesi Pelawak Menjadi Profesi yang Butuh Kecerdasan Tingkat Tinggi

Jangan anggap mudah menjadi seorang pelawak.

Dulu, dibandingkan dengan profesi dokter, polisi, atau pilot, mungkin menjadi seorang pelawak kalah jauh soal prestiseHal itu bisa dilihat jika kita bertanya pada anak-anak soal cita-citanya, mungkin belum ada anak kecil yang jika ditanya cita-cita jawabnya ingin jadi pelawak. Jawaban paling lumrah, kalau bukan polisi, dokter, pilot, mungkin guru.

Baca juga : Kisah Almarhum Triman Srimulat dan Ratmi B-29 yang Dimakamkan di Makam Pahlawan Meski Profesinya Pelawak

Dulu dipandang sebelah mata, profesi pelawak justru kini berlimpah harta (selebtube.com)

Pelawak profesi masyarakat pinggiran?

Pelawak di Indonesia memang masih dipandang sebelah mata, dianggap sebagai profesi yang tidak menjanjikan, bahkan lebih jauh banyak yang menganggap pelawak sebagai pekerjaan orang-orang konyol, orang-orang bodoh, dan mereka yang tidak memiliki pendidikan tinggi. Awalnya, pelawak di Indonesia hanya tampil dari panggung-panggung desa, atau saat sedang ada acara hajatan. Bisa dibayangkan honornya seberapa bukan?

Dulu lawak tampil dari panggung ke panggung di kampung (ngagel1.blogspot.co.id)

Melawak model inilah yang dilakukan oleh pelawak-pelawak di Indonesia untuk merangkak naik ke dunia hiburan nasional. Setidaknya ada beberapa pelawak yang berangkat dari tampil di panggung-panggung desa, seperti grup lawak Teamlo yang mengangkat musik dan humor, Warkop DKI yang merintis karir dari panggung acara sekolah, dan Srimulat yang berangkat dari grup lawak yang biasa manggung di acara-acara kampung.

Ternyata menjadi pelawak harus memiliki otak cerdas.

Meskipun sempat identik dengan profesi masyarakat pinggiran, namun perlahan tapi pasti profesi pelawak mendapatkan tempat tersendiri di masyarakat. Ini terbukti dengan maraknya acara-acara Tv yang mengangkat tema humor.

Cak Lontong pelawak yang identik dengan kata “MIKIR” (kitabijak.com)

Hal lain yang perlu diperhatikan ialah soal latar belakang seorang pelawak. Meskipun terlihat sepele, namun siapa sangka menjadi pelawak harus memiliki kecerdasan yang tinggi. Bagaimana tidak, membuat orang tertawa bukanlah persoalan yang mudah. Butuh kombinasi antara rasa percaya diri, kecerdasan spontanitas, dan kekonyolan.

Pelawak tanpa kecerdasan = Garing!

Tanpa percaya diri, seorang pelawak akan tampil canggung dan hal ini akan membuat lawakannya terasa hambar. Soal kecerdasan, pelawak juga harus memiliki kecerdasan dalam berbagai hal. Sebab agar membuat orang tertawa, pelawak butuh kecerdasan yang bersifat spontanitas. Lawakan yang tanpa spontanitas dan sudah melalui settingan sebelumnya, maka akan terasa garing.

Facebookers salah satu acara komedi di Indonesia (mbigroup.co.id)

Bahkan dewasa ini banyak model lawakan yang mengutamakan kecerdasan, seperti model lawakan stand up comedy. Lawakan model ini memang membutuhkan kecerdasan dan kepekaan sosial, sebab tema yang dibanwakan banyak bertemakan persoalan sosial. Contoh lain lawakan yang membutuhkan kecerdasan ialah lawakan model Cak Lontong, meskipun kadang konyol namun lawakan Cak Lontong dikenal memutar otak dan berfikir out of the box.

Mereka yang akademisi dan menjadi pelawak

Banyak pelawak yang ternyata memiliki latar belakang akademisi bergengsi, mungkin sebagaian kita sudah tahu jika Dono merupakan mahasiswa Universitas Indonesia jurusan sosiologi. Bahkan pelawak yang bernama asli H. Wahjoe Sardono ini pernah menjadi asisten dosen Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UI (1974- 1980), dan menjadi Dosen Jurusan Sosiologi – Fakultas Ilmu Sosial UI.

Wakrkop DKI merupakan gabungan mahasiswa Universitas Indonesia dan Universitas Pancasila Jakarta (pitaloka.id)

Dono selain dikenal sebagai dosen dan pelawak, ia juga dikenal sebagai aktivis kampus bersama teman se-grupnya, Kasino, yang kuliah di Fakultas Ilmu Sosial – Jurusan Administrasi Niaga, Universitas Indonesia. Sedangkan Indro merupakan mahasiswa Universitas Pancasila Jakarta. Melihat latar belakang pendidikan mereka tentu mereka memiliki kecerdasan tersendiri. Inilah yang membuat lawakan mereka selalu lucu.

Selain dikenal sebagai dosen di UI, komedian, Dono juga dikenal sebagai aktivis kampus (goodnewsfromindonesia.id)

Selain di Indonesia, pelawak dunia yang dikenal sebagai Mr Bean juga ternyata memiliki latar belakang akademisi yang mumpuni. Meskipun di layar kaca ia terlihat konyol dan bodoh, namun ternyata komedia yang bernama asli Rowan Sebastian Atkinso ini, merupakan seorang mahasiswa teknik elektro di Newcastle University.

Sering tampil konyol, siapa sangka Mr Bean pernah sekelas dengan Toni Blair (townnews.com)

Bahkan waktu ia masih bersekolah, Mr Bean pernah satu kelas dengan mantan perdana menteri Toni Blair. Rowan Sebastian Atkinso atau Mr Bean pun mendapatkan gelar M.sc. di Queens College, Oxford. Inilah bukti jika menjadi pelawak bukan profesi sepele, profesi ini membutuhkan kecerdasan yang luar biasa.

 

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amin Aulawi (Aw)

Amin Aulawi (Aw)

Penikmat Dunia, Perindu Surga,

Jika Hubungan Kamu Mulai Hambar, Lebih Baik Teruskan atau Udahan?

Pondok Pesantren Waria Jogja, Bukti Nyata Bahwa Hak Beragama Itu (Masih) Ada