Gara-Gara Aplikasi Fake GPS, Sekarang Banyak Tuyul Berkeliaran Jadi Driver Ojek Online

Pokoknya hati-hati!

378
SHARES

Anggaplah saat ini kamu ingin memesan ojek online. Dari layar smartphone, kamu melihat pengojek yang posisinya tidak jauh darimu. Tentu, kamu bisa memperkirakan berapa lama harus menunggu. Namun ternyata, pengojek itu tiba lebih lama dari perkiraanmu, bahkan bisa tiga kali lipat lamanya. Lho, kok bisa ya?


Ada yang aneh dengan perilaku para pengojek online akhir-akhir ini. | alazharpeduli.com

Tuyul berbasis aplikasi

Itu, karena sebenarnya pengojek yang terdeteksi di smartphone-mu bukanlah pengojek sungguhan, melainkan tuyul yang ikut-ikutan mangkal mencari orderan. Jangan kaget dulu, karena yang dimaksud tuyul di sini bukanlah tuyul dari alam gaib. Sekarang kan kita sudah hidup di era digital.

Aplikasi Fake GPS, salah satu aplikasi yang kemudian disebut tuyul ojek online itu. | itcoinsarticles.blogspot.co.id

Tuyul ojek online itu hanya istilah yang merujuk pada aplikasi tambahan yang dipasang pada smartphone pengojek, seperti aplikasi Fake GPS dan beberapa aplikasi pendukung lainnya.

Pro-kontra di kalangan pengojek sendiri

Pro dan kontra mengenai tuyul itu sampai saat ini memang masih sering diperbincangan oleh sebagian besar pengemudi ojek online. Bahkan, tidak jarang menimbulkan perdebatan di antara mereka yang setuju dan yang menolak aplikasi itu.

Fenomena tuyul ojek online justru menimbulkan perdebatan di kalangan pengojek sendiri. | indonesiakita.co

Mereka yang pro berpendapat bahwa dengan memakai tuyul bisa membuat pengojek tidak perlu lagi ngetem di pinggir jalan, stasiun, mal, dan tempat-tempat strategis lain yang tak jarang menyebabkan terjadinya kemacetan. Karena, fenomena ojek online yang mangkal memang sudah biasa terlihat di pusat-pusat keramaian.

Sedangkan salah satu alasan yang sering dilontarkan oleh mereka yang kontra adalah, penggunaan tuyul bisa merugikan pengojek polos yang tidak menggunakan tuyul. Karena mereka, para pengojek polos itu, sering kalah orderan dari rekan-rekannya yang terang-teraangan memakai tuyul.

Hal itu karena titk GPS pengguna tuyul terbaca lebih dekat dengan lokasi pelanggan, meskipun sebenarnya dia tidak berada di titik itu. Seperti kasus di awal tulisan ini.

Butuh modal dan melanggar aturan

Namun meskipun orderan yang masuk bisa berkali-kali lipat, ternyata untuk ‘memelihara’ tuyul juga membutuhkan modal. Pengojek minimal harus menggunakan smartphone yang sudah mendukung sinyal 4G. Sebab, dengan internet berkecepatan tinggi mereka bisa dengan cepat menangkap pesan ketimbang ketika hanya menggunakan paket internet standar dari provider GSM.

Untuk bisa ‘memelihara’ tuyul, minimal smartphone yang digunakan sudah harus mendukung sinyal 4G. | ngakses.com

Dan terlepas dari pro-kontra di kalangan pengojek online itu, penggunaan tuyul sendiri sebenarnya melanggar aturan perusahaan. Selain itu, juga bisa menyebabkan akun pengojek yang bersangkutan di suspend dari kemitraan. Dengan kata lain, para pemakai tuyul harus siap dengan segala resiko yang mungkin terjadi.

Karena alasan-alasan itulah, sampai saat ini masih banyak pengojek online yang tetap bertahan untuk tidak memakai tuyul. Bagi pengojek-pengojek polos ini, tidak masalah kalau pada akhirnya hanya akan mendapat orderan sedikit.

Karena sejalan dengan alasan orang-orang jaman dulu yang enggan memelihara tuyul alias pesugihan, rejeki itu sudah ada yang mengatur, kan?

378
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."