Pro-Kontra PAUD: Benarkah Anak Perlu Mendapatkan Pendidikan Usia Dini?

Perdebatan mengenai hal ini masih akan panjang dan terus berlangsung….

Baru-baru ini, jagad maya dihebohkan oleh cuitan kontroversial dari seorang dokter bernama Jiemi Ardian. Pasalnya, dr. Jiemi mengatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukanlah pendidikan anak, melainkan sebuah bisnis yang mengatasnamakan pendidikan anak.

Baca juga : Wow, Harga Selembar Daun Pisang di Jepang Bikin Melongo! Bisa Jadi Peluang Ekspor Kita Ngga Ya?

Menurutnya,  anak tidak seharusnya disekolahkan sebelum memasuki usia yang tepat, dan PAUD atau lembaga pendidikan usia dini sejenis lainnya adalah sebuah tren bisnis semata yang memanfaatkan keinginan orang tua untuk mempersiapkan anak sebaik mungkin sebelum masuk sekolah dasar. Benarkah demikian?

Usia bermain

Lewat cuitan di Twitter, dr. Jiemi memaparkan alasannya menganggap bahwa anak tidak seharusnya mendapat pendidikan usia dini. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget, dr. Jiemi menyebutkan bahwa anak baru bisa berpikir konkirt di usia 7 tahun. Artinya, anak berpikir tentang konsep, situasi konkrit, belajar tentang tanggung jawab baru di usia ini.

Teori perkembangan kognitif Piaget (twitter)

Itulah sebabnya dr. Jiemi mengatakan bahwa pada usia dini, anak tidak seharusnya mengenal sekolah. Anak seharusnya menikmati masa bermain, dan taman bermain terbaik adalah kedua orang tuanya. Menurut dr. Jiemi, orang tua tak seharusnya mengedepankan ego demi mempunyai anak yang dianggap cerdas karena sudah menguasai baca, tulis, maupun berhitung pada usia dini.

Pro PAUD

Melalui apa yang diutarakan dr. Jiemi tadi, banyak juga orang yang tak sependapat dan justru memilih untuk mendukung PAUD. Salah satunya adalah Prof. Lydia Freyani Hawadi yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan Nasional RI periode 2012-2014.

PAUD memberi rangsangan pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak (Via ugm.ac.id)

Menurut Prof. Lydia, sebaiknya anak-anak usia 2-6 tahun diikutkan PAUD karena di tempat ini anak-anak mendapat pengalaman, sosialisasi, serta pengajaran pada masa terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka. Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa esensi dari PAUD adalah pemberian rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh-kembang anak dan dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar.

Biaya pendidikan

Ketika dr. Jiemi menyebutkan jika PAUD adalah sebuah bisnis yang mengatasnamakan pendidikan anak, besar kemungkinan ia merujuk pada anggaran tambahan biaya pendidikan yang harus dikeluarkan orang tua jika memutuskan bahwa anaknya perlu mendapatkan pendidikan usia dini sebelum mencapai usia pendidikan wajib.

Menurut dr. Jiemi, PAUD adalah bisnis yang mengatasnamakan pendidikan anak (twitter)

Prof. Lydia pun mengakui bahwa ada persepsi tentang biaya yang membuat orang tua ragu memasukkan anaknya ke PAUD. Padahal, menurutnya PAUD bahkan dapat dilakukan secara tidak formal dengan dukungan pemerintah yang dilakukan di tempat-tempat umum seperti rumah ibadah atau posyandu. Hal ini pun sudah mulai jamak ditemui di banyak daerah, sehingga kurang tepat jika menggeneralisir PAUD sebagai sebuah bisnis yang mengatasnamakan pendidikan anak.

Selain itu, kekhawatiran bahwa PAUD akan mengajarkan calistung (baca, tulis, berhitung) pada anak usia dini sebenarnya juga sudah dilarang oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) No 17/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Syarat memilih PAUD

Kembali pada topik pro dan kontra PAUD, semuanya kembali pada persepsi masing-masing. Pada dasarnya, betul bahwa anak usia dini tidak seharusnya diajarkan pengetahuan yang belum bisa diterimanya dengan baik dan lebih tepat jika hari-harinya dipenuhi dengan aktivitas bermain. Namun perlu diperhatikan juga bahwa melalui PAUD, anak juga bisa belajar bersosialisasi dengan lingkungannya.

Pastikan untuk mengetahui terlebih dahulu segala hal tentang calon PAUD bagi anak (usahainvestasi.com)

Jadi jika akhirnya memilih untuk memasukkan anak ke PAUD, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama adalah lokasi PAUD yang tidak terlalu jauh dari rumah agar anak tidak capek dan bisa fokus mengikuti PAUD; kedua, memilih PAUD yang punya pengajar berkompeten dan memahami teknik pengajaran PAUD, serta ketiga, kurikulum PAUD harus jelas dan bisa membekali anak dengan nilai-nilai dasar yang positif.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Kisah Erix Soekamti, Vokalis Band Punk yang Dirikan Sekolah Gratis Karena Dendam Pribadi

Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Ini Alasan Dibalik Botakmya Kepala Upin & Ipin