3 ‘Prasangka’ Orang Terhadap Mereka yang Tak Mengadakan Resepsi Pernikahan

Serba salah memang hidup di Indonesia~

Pada dasarnya, inti dari sebuah pernikahan adalah ketika janji suci atau ijab terucap, doa restu dari orang tua mengalir, hingga adanya dokumen sah di mata agama dan negara. Pesta setelahnya bukanlah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan. Meski bagi sebagian besar orang, resepsi masih jadi patokan sahnya pernikahan. Utamanya di Indonesia, menikah tanpa resepsi sama halnya dengan sayur tanpa garam.

Resepsi pernikahan (Instagram @inspirasipengantinmuslim)

Ada beberapa alasan masuk akal mengapa seseorang ogah mengadakan resepsi pernikahan. Misalnya saja untuk menghemat biaya, tak ingin melibatkan campur tangan orang lain dalam prosesi sakralnya, hingga punya misi lain selain pesta belaka. Sayangnya orang-orang tak benar-benar bisa memahami sekian alasan tersebut. Mereka memiliki persepsi berbeda tentang pernikahan tanpa resepsi. Apa saja?

Pernikahan yang buru-buru karena alasan tak diinginkan

Tak bisa dipungkiri berbagai macam pikiran negatif pasti menghampiri jika ada orang menikah secara diam-diam tanpa pesta. Salah satunya tuduhan hamil duluan. Tak heran sih, mengingat fenomena saat ini banyak yang hamil di luar nikah dan merasa malu mengadakan resepsi. Oleh karena itu yang menikah secara normal tanpa ada apa-apa namun tak ingin resepsi, ikut kecipratan tuduhan tersebut.

Hamil duluan (Instagram @d.ior_)

Tapi misalnya saja terbukti tidak hamil di luar nikah, pasti ada saja yang berpikiran buruk. Entah di aborsi lah atau bahkan melahirkan dulu sebelum menikah. Serba salah, bukan? Kalau sudah muncul persepsi seperti itu mau dijelaskan seperti apapun tak akan mengubah pikiran mereka.

Dianggap pelit dan tak mampu mengadakan resepsi

Pernikahan tanpa pesta memang paling bisa menimbulkan pemikiran buruk dari orang lain. Selain tuduhan hamil duluan, kamu dan keluarga bisa dianggap pelit bahkan tak mampu mengadakan resepsi. Bahkan beberapa ada yang berpikir kalian bangkrut dan tak bisa membiayai pesta meski hanya sederhana.

Dikira pelit (sheknows.com)

Memang sinetron banget dan penuh drama. Mereka tak ingin tau apa alasan sesungguhnya kamu nikah tanpa resepsi. Orang-orang hanya butuh prasangka-prasangka yang bisa dijadikan bahan obrolan. Tak peduli benar atau tidak yang penting bisa jadi topik bahasan.

Sakit hati, dikira nggak mau ngundang

“Eh kamu udah nikah to? Kok nggak undang-undang aku?”
“Hehe emang nggak ngadain resepsi kok”
“Ah mana mungkin, undangannya terbatas ya? Kirain aku bakalan diundang”
“Emang nggak ada resepsi kak”
“Oh okedeh”

Sakit hati (media.glamour.com)

Padahal bukan teman dekat, ketemu aja jarang, atau malah cuma kenal lewat media sosial. Tapi dia sangat ingin ikut andil dalam pernikahan yang kamu selenggarakan, bahkan memastikan kalau dirinya akan diundang. Padahal kamu sendiri tidak mengadakan resepsi. Lalu apa yang terjadi, dia sakit hati.

Bahkan bagi orang yang mengadakan resepsi sederhana pun masih saja menerima rasa sakit hati karena tidak diundang. Meski sudah dijelaskan undangannya terbatas atau hanya untuk keluarga saja. Bagi orang-orang yang menganggap dirinya penting, alasan tersebut tak bisa diterima. Padahal juga tak mungkin kamu mau mengundang semua orang kan?

Mengadakan resepsi atau tidak, itu hak kalian. Tak perlu perduli dengan apa yang dipikirkan atau persepsi mereka yang negatif. Menikah saja dengan cara kalian sendiri, tak perlu mengutamakan gengsi apalagi hanya untuk menyenangkan orang lain.

Written by Erinda

"You can if you think you can"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *