5 Alasan Mengapa PR Benar-Benar Buruk Bagi Masa Depan Anak

PR selalu membawa pro dan kontra. Ada yang setuju agar anak tidak banyak main. Padahal, main sendiri adalah kebutuhan anak.

Waktu masih sekolah dulu, saya termasuk murid yang paling rajin mengerjakan PR. Saya tidak pernah dihukum guru hanya karena lupa mengerjakan PR. Yah.. biar pun kadang saya harus menyelesaikannya di kelas bersama teman-teman sebelum bel masuk berbunyi.

Tapi, sejujurnya saya jauh lebih senang kalau Bapak dan Ibu Guru tidak memberikan PR. Mengapa? Karena apapun bentuknya, PR bisa membuat anak stress dan merasa dikekang. Lebih jauh, ada lima alasan lagi mengapa PR benar-benar buruk bagi masa depan anak.

PR bisa membuat anak stress dan merasa dikekang. | philly.com

1. PR membuat anak TERLALU memprioritaskan kegiatan sekolah

Rata-rata, seorang anak menghabiskan waktu selama tiga sampai lima jam sehari untuk mengerjakan PR. Jelas, hal ini benar-benar bisa menjadi sumber tekanan pemicu stress pada anak.

Ingat, sekolah adalah salah satu tempat untuk belajar dan menempa diri agar anak-anak sadar siapa diri mereka, kemampuan apa yang mereka miliki, dan paham bagaimana cara menggunakan kemampuan itu untuk masa depan yang lebih baik.

Mengerjakan PR bisa menjadi sumber tekanan pemicu stress pada anak. | onicedesign.it

Sekolah hanyalah salah satu tempat, bukan satu-satunya tempat untuk belajar dan menempa diri. Jadi, mari kita hapus stigma bahwa sekolah adalah segalanya. Setelah pulang sekolah, anak-anak harus bertemu dengan orangtua dan orang-orang di lingkungannya. Itulah hubungan sosial yang harus lebih di-explore anak sejak dini.

2. PR membuat anak lebih TIDAK bertanggung jawab

Kata orang, PR bisa membuat anak lebih bertanggung jawab. Kalau memang benar demikian, maka jangan pernah mengingatkan anak atau keponakanmu untuk mengerjakan PR. Jangan ada pertanyaan-pertanyaan seperti ini lagi:

“Nak, ada PR nggak?”
“Dek, udah ngerjain PR belum?”
“Nak, jangan lupa cek dulu sebelum tidur, siapa tahu ada PR yang belum kamu kerjain.”

Selama masih ada orangtua yang mengingatkan anak untuk mengerjakan PR, selama itu juga PR gagal membuat anak lebih bertanggung jawab. | today.com

Jadi, kata siapa PR bisa membuat anak lebih bertanggung jawab kalau kita sebagai orang yang lebih tua masih saja harus mengingatlkan mereka?

3. PR membuat anak MALAS belajar

Faktanya, anak-anak harus belajar dari pagi sampai siang –bahkan sore– di sekolah. Setiap hari mereka berkutat dengan hafalan, materi penuh teori, rumus-rumus yang lebih sering disampaikan dengan cara yang sangat membosankan; dan ceramah yang terlalu panjang..

Terlalu banyak PR membuat anak muak dengan kata ‘belajar’. | slate.com

Sesampainya di rumah –belum sempat istirahat–, mereka sudah harus berangkat ke tempat kursus untuk berkutat dengan pelajaran akademis, sampai malam. Kesialan mereka belum berhenti, karena malamnya harus belajar (lagi) materi pelajaran untuk esok, sekalian mengerjakan PR.

Dari perspektif ini, jelas bahwa PR justru menambah beban anak. PR membuat mereka malas belajar, dan gagal meningkatkan keinginan mereka untuk giat belajar. Bahkan, terlalu banyak PR membuat mereka muak dengan kata ‘belajar’.

4. PR membuat anak BODOH mengatur waktu

Setelah membaca poin ke-3 di atas, tidak perlu dijelaskan lagi betapa sibuknya anak-anak dengan urusan akademis mereka. Maka pertanyaannya, bagaimana mungkin PR bisa membuat anak belajar mengatur waktu? Saking sibuknya, mereka bahkan tidak punya waktu untuk me time.

Kamu sendiri sebagai orang tua sulit mendapatkan waktu berkualitas bersama anak-anak. Kamu mungkin berdalih, mengerjakan PR bersama merupakan waktu berkualitas juga. Tapi masalahnya, waktu berkualitas itu bukan waktu dimana kamu dan anak-anak membicarakan tugas sekolah.

Waktu berkualitas bukanlah waktu dimana orangtua dan anak-anak membicarakan tugas sekolah. | parents.com

Waktu berkualitas adalah waktu untuk saling berbagi kesulitan, keluhan, membangun karakter, dan ngobrol santai untuk membangkitkan gairah hidup yang sempat redup karena berbagai urusan.

Bagaimana dengan weekend? Apa kamu benar-benar yakin selalu bisa menghabiskan akhir pekan bersama anak-anak? Bukankah yang sering terjadi, mereka justru lebih suka pergi main bersama teman-temannya?

Tunggu, apakah Anda yakin anak-anak saat weekend bersama Anda? Atau mereka malah lebih suka jalan bareng teman-temannya? Cara terbaik melatih anak mengatur waktu adalah membiasakan mereka mengerjakan hal-hal yang bervariasi. Bukan mengerjakan PR sebanyak mungkin.

5. PR adalah bukti bahwa seorang guru TIDAK percaya diri

Mengecek pemahaman siswa terhadap suatu materi adalah tugas guru. Dengan kata lain, guru yang terbiasa memberikan banyak PR untuk anak didiknya adalah guru yang tidak percaya diri dengan kemampuannya mengajarnya.

Anak-anak diminta memahami sendiri materi yang sudah diberikan pada siang hari dengan cara memberikan PR sebanyak mungkin. Kemudian, esoknya guru akan memeriksa PR itu. Beberapa anak mungkin mendapatkan nilai 100, tapi guru tidak tahu apakah PR itu dikerjakan anak sendiri atau:

  • dikerjakan di tempat kursus dengan bantuan tutor
  • dibantu orangtuanya

Maka, apakah fenomena memuakkan seperti itu bisa dikatakan sebagai ‘mengukur pemahaman anak terhadap sebuah materi’? Jelas tidak. Karena sekali lagi, satu-satunya pihak yang bisa menentukan anak paham atau tidak hanyalah guru. Bukan nilai PR yang mengesankan.

Yang bisa menentukan anak paham materi pelajaran atau tidak hanyalah guru. | thoughtco.com

Pada akhirnya, PR selalu membawa pro dan kontra. Ada yang setuju agar anak tidak banyak main. Padahal, main sendiri adalah kebutuhan anak.

Hanya ada tiga kebutuhan kebutuhan materi pelajaran yang harus diberikan pada anak, yaitu:

  1. Kuantitas — Anak membutuhkan banyak pengetahuan
  2. Variasi — Anak membutuhkan pengetahuan yang beragam karena materi monoton bisa membunuh keinginan belajar
  3. Kualitas — Anak membutuhkan pengetahuan dan gaya belajar bermutu, bukan sekedar buku teks yang penuh teori dan sulit diterapkan di dunia nyata.

Dengan tulisan ini, semoga tidak ada lagi guru yang terobsesi memberi banyak PR, dan semakin banyak orangtua yang tak lagi bertanya “sudah ngerjain PR belum?” Tapi, “tadi main apa ?” “Siapa yang usil di sekolah?” atau “jajan apa aja nak hari ini, Ibu dibeliin nggak?”

Serta seabreg pertanyaan manis lain yang anak-anak banget.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Demi Kebaikan, Mari Berhenti Ngomongin Teman Dari Belakang

Sebenarnya, Ada 6 Alasan Kenapa Berbohong Itu Perlu