Ketika Jakarta Menjadi yang Terburuk dalam Mengolah Air dan Memanfaatkannya, Masih Layakkah Disebut Ibukota?

Ingatlah bahwa kita merupakan generasi bahagia yang tak perlu merasakan bagaimana merebut kemerdekaan. Maka, seharusnya kita bisa mengupayakannya dengan lebih gampang

Air merupakan sektor paling vital untuk kehidupan dan ekonomi. Air dinilai sebagai hal yang memiliki pengaruh terbesar terhadap ekonomi, lingkungan dan manusia. Kota yang mampu mengelola air dengan kreatif dan hati-hati akan menjadi kota yang lebih hidup, aman dan mempunyai daya saing. Belum lama ini, Arcadis, sebuah lembaga konsultan dan desain lingkungan mengeluarkan Sustainable Cities Water Index (Indeks Kota dengan Keberlanjutan Air).

(Via rovicky.wordpress.com).
(Via rovicky.wordpress.com).

Arcadis meneliti bagaimana 50 kota terkemuka di dunia mengelola air untuk keuntungan jangka panjang. Meliputi bagaimana mereka mengelola air untuk menarik peluang bisnis, memenuhi kebutuhan warganya hingga menggenjot pertumbuhan ekonomi. Juga bagaimana air memberikan rasa aman, mudah diakses, terlindungi dari polusi dan dapat diandalkan untuk sanitasi.

Ketahanan, efektivitas, dan kualitas

Laporan Arcadis memberikan fakta bahwa kota-kota di Eropa unggul dalam mengelola air. Rotterdam, Kopenhagen dan Amsterdam menjadi tiga kota terbaik. Ada tiga elemen yang diukur dalam indeks ini, yaitu ketahanan, efektivitas dan kualitas.

1. Ketahanan

Elemen ini mengukur kesiapan sebuah kota menghadapi kelangkaan dan kelebihan air. Termasuk juga ketahanan menghadapi banjir dan bencana karena perubahan iklim, erosi, penurunan tanah hingga urbanisasi. Berdasarkan elemen ketahanan, Jakarta ada di posisi 38.

(Via beritasatu.com).
(Via beritasatu.com).

2. Efektivitas

Efektivitas mengukur bagaimana sebuah kota mengelola suplai air. Air yang bersih adalah sumber daya berharga untuk kesehatan dan kehidupan. Maka, elemen ini penting bagi sebuah kota untuk melayani, memproduksi dan mendistribusikan air untuk warganya. Salah satu ukuran sederhana adalah tingkat kebocoran dalam pelayanan air. Dalam hal efektivitas, Jakarta menduduki peringkat 46.

(Via kompas.com).
(Via kompas.com).

3. Kualitas

Yang terakhir adalah kualitas. Elemen ini mengukur bagaimana sebuah kota menyediakan suplai air bersih dan sehat untuk warganya. Ukuran ini menjadi penting karena kualitas air dan sanitasi menentukan tingkat kompetitif sebuah kota. Kota-kota di negara maju sudah bisa mencapainya. Namun di negara-negara berkembang, elemen ini masih jadi tantangan besar. Jakarta ada di posisi 45 untuk urusan kualitas ini.

(Via palyja.co.id).
(Via palyja.co.id).

Jakarta menduduki ranking ke-3 terbawah

Setelah ketiga elemen di atas digabungkan, Jakarta berada di posisi 47 atau ke-3 dari bawah dari total 50 kota. Ibukota negara kita ini masih kalah dibanding dua kota di Benua Afrika, Nairobi dan Johannesburg. Peringkat ini lebih buruk dari posisi tahun lalu dimana secara umum Jakarta duduk di posisi 45 pada tahun 2015.

(Via arcadis.com).
(Via arcadis.com).

Lantas, masihkah kita semua (dan warga Jakarta pada khususnya) masih harus bangga dengan ibukota tercinta ini? Masih pantaskah kita lantang menyebut bahwa inilah pusat Indonesia dan memamerkan pada dunia? Dan masihkah, kita bisa terus tertawa lepas seperti tidak pernah terjadi apa-apa? Ingatlah bahwa kita merupakan generasi bahagia yang tak perlu merasakan bagaimana merebut kemerdekaan. Maka, seharusnya kita bisa mengupayakannya dengan lebih gampang.


Silahkan share dan berkomentar tentang pendapatmu di bawah ini.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *