Pondok Pesantren Waria Jogja, Bukti Nyata Bahwa Hak Beragama Itu (Masih) Ada

Nggak semua waria itu menolak beragama kok

Berada di kawasan Kotagede, Jogja, Pondok Pesantren Al Fatah kembali aktif mengasuh santri-santrinya yang kebanyakan adalah waria. Didirikan oleh KH. Hamrolie Harun pada 2008 lalu, pesantren ini awalnya dipimpin oleh Maryani, seorang waria yang berpikiran bahwa hak beragama adalah milik setiap insan manusia, termasuk waria.

Baca juga : 4 Transgender Ini Bisa Bikin Minder Cewek Tulen Karena Kecantikannya

Pondok Pesantren Al Fatah, pondok pesantren khusus untuk kaum waria di kota Jogja | brta.in

Memulai lagi lembaran baru

Peristiwa pahit pernah dialami pesantren ini pada tahun 2016 lalu. Ketika itu, satu-satunya tempat di Jogja bagi para kaum transgender untuk belajar dan memperbanyak ibadah sebagai bekal di kehidupan akhirat kelak ini pernah ditutup paksa oleh sejumlah orang yang tak senang dengan keberadaan pesantren serta penghuninya.

Para santri serius mempelajari kitab fiqih dan hadist | brta.in

Namun di awal Ramadhan 1438 H, pesantran yang sekarang dipimpin oleh Shinta Ratri ini kembali memulai lembaran barunya sebagai telaga ilmu bagi kaum transgender di kota Jogja. Berjumlah 20 waria yang berasal dari sekitaran Jogja, mereka serius mempelajari kitab fiqih dan hadist dengan bimbingan Ustad Arif Nuh Safri.

Sifat feminis yang natural

Secara umum, keputusan para santri yang mondok di Pesantren Al Fatah untuk menjadi waria atau transgender bukanlah kehendak mereka pribadi semata. Banyak dari mereka sejak kecil sudah merasakan bahwa sifat feminis telah melekat begitu naturalnya, dan beranggapan bahwa kondisi itu merupakan kodrat yang harus mereka jalani.

Sifat feminis adalah kodrat yang sudah mereka rasakan sejak kecil | brta.in

Berubah wujud demi menjalankan shalat

Sebuah pemandangan menarik terlihat saat para santri menjalankan ibadah shalat, dimana banyak diantara mereka yang lebih memilih menjadi laki-laki ‘sementara’ dan kembali ke wujud semula sebagai waria setelah selesai menjalankan shalat.

Demi menjalankan shalat, banyak dari mereka yang menjadi ‘laki-laki’ untuk sementara | brta.in

Namun, dengan segala ketidaknormalan hidup yang seperti itu, mereka tetap percaya bahwa di mata Allah SWT, keberadaan waria dan transgender sama dengan manusia lainnya. Dan mereka selalu berharap, semoga hak-hak mereka sebagai manusia bisa dihormati oleh masyarakat luas tanpa melihat bentuk dan label waria yang melekat pada diri mereka.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Meski Terlihat Sepele, Profesi Pelawak Menjadi Profesi yang Butuh Kecerdasan Tingkat Tinggi

5 Hal yang Harus Kamu Pahami dari Laki-laki Impian, Lebih Baik Menunggu atau Mencari?