Soal Plagiasi Afi Nihaya, Pantaskah Jika Kita Kemudian Mem-bully-nya?

I’m sorry, I’m not perfect. And I will never be. (Afi Nihaya)

Apa kamu tahu salah satu dampak yang akan timbul ketika kita berbagi informasi di media sosial? Adalah duplikasi informasi. Kalau memang beritanya benar sih tak masalah, karena tentu banyak manfaatnya. Yang menjadi masalah adalah, saat ini banyak orang yang tidak sadar telah melakukan duplikasi di media sosial. Mengapa? Karena media sosial adalah media sosial.

Afi Nihaya dan permintaan maaf soal plagiasi yang dilakukannya. | newsjs.com

Evolusi internet dan teknologi telah membuat informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Media sosial, misalnya, mampu memberikan kita kemudahan untuk berbagi dan mencari informasi dengan cepat, kapan pun, dan di mana pun. Sedangkan dahsyatnya teknologi, sanggup memberi kita kemudahan untuk menyalin tulisan, gambar, dan video.

Sayangnya, di Indonesia sendiri kemajuan internet dan teknologi tidak diimbangi dengan kemajuan literasi. Akibatnya, jelas, adalah menjamurnya berita bohong alias hoax serta praktek plagiasi yang berlangsung sangat cepat, tanpa disadari, dan tanpa perasaan bersalah.

Meskipun sudah banyak terjadi sejak lama, namun plagiasi baru benar-benar muncul ke permukaan setelah orang-orang tidak sepakat dengan beberapa postingan Afi Nihaya yang dianggap menyalin tulisan-tulisan asli milik orang lain tanpa kode etik yang dibenarkan. Maka, mereka pun menyerang Afi dengan menggunakan isu plagiasi.

Literasi bangsa Indonesia sangat rendah

Ketika kamu mendapat sebuah pesan yang berisi selamat Idul Fitri, pernahkah kamu berpikir siapa penulis pertamanya? Seratus persen pasti tidak. Yang kamu pikirkan adalah, pesan itu cukup bagus, lalu secara massal meneruskannya ke daftar kontak, list teman Facebook, juga follower Twitter dan Instagram. Seperti itulah plagiasi, yang berarti kita semua melakukannya.

Di media sosial, kita semua melakukan plagiasi. | theverge.com

Itu semua terjadi karena literasi bangsa Indonesia sangat rendah. Saya tekankan sekali lagi, LITERASI BANGSA INDONESIA SANGAT RENDAH! Kalau saja kita punya kemampuan yang baik dalam membaca dan menangkap maksud dari ide yang disampaikan secara visual, baik itu dalam tulisan, gambar, atau video, pasti kita tidak akan begitu saja membagikan informasi yang sudah kita terima.

Makna literasi yang sebenar-benarnya

Kamus online Merriam-Webster mendefinisikan literasi dari istilah latin ‘literature’ dan bahasa inggris ‘letter’ sebagai kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang berarti kemampuan mengenali dan memahami ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).

kalau mau mengkaji, kata literasi mengandung makna yang luar biasa kompleksnya. | zetizen.com

National Institute for Literacy, mengartikan literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Ini adalah makna literasi dari perspektif yang lebih kontekstual, karena terkandung makna bahwa definisi literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Education Development Center (EDC) mengungkapkan bahwa literasi bukan hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis, namun juga kemampuan seseorang untuk menggunakan semua potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan kalimat yang lebih sederhana, literasi berarti kemampuan seseorang dalam hal membaca kata dan dunia.

Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman. Sedangkan pemahaman paling umum dari literasi adalah keterampilan membaca dan menulis, terlepas dari di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya.

Masih dari UNESCO, dari data tahun 2012, indeks tingkat membaca orang Indonesia hanya 0,0001. Itu artinya, dari 1000 penduduk Indonesia hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Itu artinya, dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia hanya ada 250.000 orang yang mempunyai minat baca. Hitung-hitungan ini sangat berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta pada tahun 2014.

Lebih ngeri lagi, survei yang dilakukan sejak 2003 hingga 2014 oleh Central Connecticut State University di New Britain yang bekerja sama dengan sejumlah peneliti sosial, menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca.

Ini masih diperparah oleh hasil survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia, yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2012. Hasil surveinya, hanya 17,66% anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca. Sementara yang memiliki minat menonton mencapai 91,67%.

Lantas, pantaskah Afi di-bully?

Rendahnya tingkat literasi penduduk Indonesia ini, sepertinya tidak berlaku bagi Afi. Karena kalau pun dia mengambil tulisan orang lain, itu artinya dia sudah membaca dan memilah mana yang bagus untuk diunggah di akun media sosialnya. Dia sudah bisa membaca dengan benar, meskipun belum bisa menulis dengan benar.

Afi sudah bisa membaca dengan benar, meskipun belum bisa menulis dengan benar. | cewekbanget.id

Paragraf di atas memang terkesan membela Afi. Ya, saya memang membela dia, namun tidak dengan plagiasi yang dia lakukan. Dia salah, saya pernah salah juga. Dan ketika pada akhirnya dia meminta maaf, bukankah sudah menjadi hak saya untuk memaafkannya?

Bacaan Afi itu banyak, banyak sekali. Namun ilmunya belum cukup untuk mengimbangi kemampuan berfikir intelektualnya. Artinya, ibarat bunga, dia belum mekar sempurna. Dia masih membutuhkan banyak waktu dan guru.

Lantas, pantaskan Afi dan anak-anak berbakat lainnya dikebiri keberaniannya? Sedang kita sendiri sering lupa dan bahkan tidak sadar melakukan kesalahan yang sama. Demi masa depan Indonesia, mari, biarkan bunga-bunga itu mencapai kesempurnaan mekarnya.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Akuilah, Terkadang Bullying Merupakan Aktivitas yang Menyenangkan

Tak Perlu Berlebihan, Membanggakan Prestasi Anak Juga Bisa Berdampak Buruk