Sekeren Apapun Bebek Sport Honda, Nyatanya Masih Kalah Jauh dari Sang Rival Yamaha

Honda itu.. ah, sudahlah…

566
SHARES

Anggaplah tren berkendara roda dua di Indonesia saat ini dikuasai oleh motor matic yang cantik, yang anti oper gigi, dan terbebas dari jeratan tuas kopling. Namun sebelum motor matic booming, motor bebek-lah yang merajai jalanan berlubang di seluruh negeri. Makanya, dua pabrikan motor paling sukses di Indonesia, Honda dan Yamaha, masih rela menyediakan sedikit ruang di jalur produksi mereka untuk merakit motor bebek generasi akhir. Agar terkesan lebih keren, bebek mereka pun dikasih embel-embel ‘sport’. Lantas, bebek mana yang paling ngepot?

Di tengah ramainya persaingan motor matic, motor bebek masih menyisakan pertarungannya di pasar Indonesia | youtube.com

Head to head Honda vs Yamaha

Seperti kita tahu, persaingan pasar bebek sport 150cc di Indonesia hanya dihuni oleh dua kompetitor saja, Honda dengan Supra GTR 150-nya, dan MX King 150 dari sang rival Yamaha. Sejak dimunculkan Mei tahun lalu, jelas bahwa misi utama Supra GTR adalah untuk menjegal laju kencang MX King yang sebelumnya memang melenggang sendirian tanpa perlawanan.

Namun alih-alih mampu sekadar mengusik kedigdayaan MX King di pasaran, Supra GTR justru membuat malu Honda dengan minimnya konsumen yang jatuh hati padanya. Hal ini terlihat jelas pada data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) periode Januari-April 2017.

Supra GTR 150 dan MX King 150, sepasang motor bebek dengan embel-embel ‘sport’ sebagai modal adu ngotot | warungasep.net

Pada bulan Januari, Honda hanya mampu menjual 517 unit Supra GTR, sementara MX King melenggang jauh dengan total penjualan 8.149 unit. Bahkan ketika penjualan MX King mengalami penurunan drastis menjadi 6.414 unit pada bulan Februari, angka itu masih 10 kali lebih banyak dari Supra GTR yang hanya mampu terjual 603 unit saja.

Masa kelam Supra GTR pun datang pada bulan Maret lalu ketika hanya terjual 100 unit di seluruh Indonesia. Sementara di saat yang sama, penjualan MX King relatif stabil dengan pencapaian 6.379 unit. Honda boleh senang karena penjualan bebek sport-nya kembali naik ke angka 513 unit pada bulan April, namun jagoan Yamaha malah melesat lebih kencang dengan meraih angka 8.329 unit penjualan.

Nama, kodrat, dan varian

Lantas, apa yang menyebabkan persaingan Supra GTR dan MX King tidak pantas disebut persaingan? Terlepas dari spesifikasi mesin keduanya yang memang nyaris sama, ternyata ada tiga alasan utama mengapa penjualan bebek sport Honda itu tidak ada sepersepuluhnya dari generasi terakhir Jupiter milik Yamaha.

Alasan nomor wahid adalah soal nama. Mau digenerasikan sekeren apapun, nama Supra sudah terlanjur identik dengan motor kaum bapak-bapak. Alhasil, Honda menjadi terkesan memaksakan kehendak ketika akhirnya menggunakan nama lawas itu untuk segmen kaum muda yang begitu mendambakan tunggangan energik.

Masa iya motor sekeren GTR 150 masih menggunakan nama ‘Supra’ yang lawas ini? | kemenkeu.go.id

Kedua, adalah tentang kodrat bebek sebagai motor operasional. Supra GTR lebih menjual super performance, akselerasi cepat, dan pengendalian mumpuni, namun melupakan hal-hal dasar yang dibutuhkan motor bebek operasional, seperti bagasi yang lapang dan jok nan empuk. Bahkan, tagline ‘bebek adventure’ yang disematkan pada motor ini pun sangat rancu. “Bebek adventure kok nggak punya bagasi, kan lucu…”

Bebek advanture tapi kok tak ber-bagasi? | ultan.org

Yang terakhir adalah perihal pilihan varian. Supra GTR yang tak laku itu, sama sekali tidak menyediakan varian dengan velg jari-jari seperti yang dulu dilakukan MX King, saat masih mengadopsi nama Jupiter MX 135. Velg jari-jari atau racing adalah selera, jadi bukankah sudah menjadi kewajiban produsen untuk menawarkan selera itu?

Ingat, tidak semua konsumen menyukai velg racing | paultan.org

Akhir kata, meskipun Indonesia sudah dijajah motor matic yang memang cantik, anti oper gigi, dan terbebas dari jeratan tuas kopling, namun sisa-sisa kekuasaan motor bebek masih tetap ada. Bisa jadi, masa dimana kata ‘bebek’ jauh lebih familiar sebagai roda dua ketimbang salah satu unggas berkaki dua itu akan kembali lagi. Syaratnya, para produsen motor di Indonesia bisa lebih ngerti apa yang didambakan konsumen daripada memaksakan ego yang tidak relevan. Seperti kisah pilu Supra GTR 150, misalnya.

566
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."