Faktanya, Pernikahan Tak Selalu Indah dan Badai Bisa Datang Kapan Saja

Sisi lain pernikahan yang baru diketahui setelah menjalani kehidupan rumah tangga

402
SHARES

Terkadang, saya ingin mengutuki para penulis dongeng di masa lampau yang hobi menggambarkan sebuah pernikahan sebagai sesuatu yang happily ever after. Kebahagiaan paripurna setelah mengarungi lautan derita. Cinderella boleh jadi menderita di masa mudanya, tapi akhirnya ia menikahi pangeran tampan dan hidup bahagia. Beast yang buruk rupa toh bisa menyunting Belle yang cantik jelita di dongeng Beauty and the Beast dan kembali menjadi pangeran rupawan. Bahkan sinetron-sinetron Indonesia pun kebanyakan mengadopsi jalan cerita yang serupa.

Benarkah pernikahan seindah itu? Sampai-sampai, sebuah acara pertemuan keluarga rasanya tak akan lengkap tanpa pertanyaan template “Kapan nikah?” untuk mereka-mereka yang masih melajang. Apakah mereka mau tanggung jawab kalau ternyata setelah menikah, semua kebahagiaan itu tak seindah yang dibayangkan? Bahkan Muzdalifah saja sudah akan bercerai untuk yang ketiga kalinya. Orang yang dulu bertanya “Kapan nikah?” padanya mungkin perlu dikirim ke lubang buaya dengan karcis satu jurusan.

Jadi, benarkah menikah itu indah?

Menemukan sisi berbeda dari pasangan

Sosok sesungguhnya dari pasangan baru akan kamu ketahui setelah menikah dengannya – youtube

Meski sering menghabiskan waktu bersama saat dulu berpacaran dengan pasanganmu kini, kamu tetap saja tidak bersamanya sesering saat sudah menikahinya. Inilah yang biasanya kerap menjadi kekagetan masing-masing, karena kamu akan menjumpai sosok pasangan yang sebenarnya. Demikian pula sebaliknya. Bukan tak mungkin, ada sejumlah kebiasan buruk pasangan yang tak kamu sukai namun justru tak bisa ia hilangkan karena sudah mengakar sejak kecil. Bagus kalau kamu bisa menerima kekurangannya. Kalau tidak?

Kehilangan me time

Ingin sendiri tak berarti bosan berdua – simplifiedandstable.com

Setelah menikah, kamu tak lagi bisa seenaknya bepergian tanpa kenal waktu. Jika dulu kamu gemar berkeliling etalase di mall atau mengerjakan hobi merakit mainan model, kini hal-hal semacam itu tak lagi bisa dilakukan sesuka hati karena ada pasangan yang harus kita pikirkan juga keberadaannya. Terkadang, kita butuh me time untuk menyegarkan kembali pikiran yang suntuk. Dan mengatakan keinginan untuk ‘menjauh’ sejenak dari keberadaan pasangan bisa jadi ide buruk kalau pasanganmu adalah orang yang posesif. Sampaikan dengan tepat, agar tidak terjadi kesalahpahaman dan berujung pertengkaran.

Memperhitungkan pengeluaran

Perhitungkan pengeluaran dengan cermat – cloudfront.net

Ketika lajang, kamu bisa merasa bebas menggunakan uang gaji untuk hal-hal yang kamu sukai. Membeli baju, mengkoleksi action figure, dan macam-macam lainnya. Setelah menikah, otomatis kamu harus mengatur pengeluaran untuk hal yang sifatnya benar-benar diperlukan, mulai dari asuransi kesehatan keluarga, tagihan listrik, belanja bulanan, dan lain sebagainya. Kamu baru bisa mengeluarkan uang untuk bersenang-senang setelah kebutuhan rumah-tangga terpenuhi. Kalau nekat mendahulukan hobi dan kesenangan, bisa berantakan deh keuangan rumah-tangga.

Jarang bergaul dengan teman

Sejak menikah, waktu bergaul dengan teman-teman otomatis berkurang – breakingnews.co.id

Harus diakui, intensitas bergaul kita dengan rekan sejawat akan berkurang. Ya mau bagaimana lagi, sekarang ada pasangan yang akan menunggu kepulanganmu di rumah. Masa iya mau terus-terusan menghabiskan waktu dengan nongkrong bersama teman di game center? Nggak jarang, kamu juga akan mulai dicap sombong karena jarang hadir di pertemuan teman-teman. Tapi nggak apa, kalau teman-temanmu masih bisa sering kelayapan, berarti mereka masih jomblo. Dan jomblo selalu diidentikkan dengan kasta terendah di negeri ini~

Homesick

Kadang, homesick melanda meski kita telah punya rumah-tangga sendiri – blogspot.com

Sebagai pasangan suami-istri, tentunya kalian ingin hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang tua. Artinya, kalian akan segera memikirkan untuk punya tempat tinggal sendiri dimana rumah-tangga kalian murni urusan kalian, tanpa orang tua terlibat mencampuri. Tetapi, kadang kita juga merasakan penat dalam mengurus rumah tangga sendiri, sehingga terbersit keinginan untuk pulang ke rumah orang tua dan kembali merasakan nikmatnya jadi anak yang diperhatikan oleh ayah-ibunya. Sah-sah saja, tapi kalau keseringan, bisa-bisa orang tuamu meragukan keseriusanmu dalam menjalani rumah tangga. Pasangan pun bisa merasa disepelekan.

Jadi bagaimana, masih ingin buru-buru menikah?

402
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~