Perlukah Kita Memboikot Starbucks Karena Mereka Mendukung LGBT?

Tak hanya Starbucks, puluhan merek lain yang familiar dengan keseharian kita juga mendukung LGBT

168
SHARES

Saat membaca judul artikel ini, mungkin banyak dari kalian yang sudah kadung panas. Maklum, topik yang dibahas kali ini soal LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Apapun yang berkaitan dengan LGBT di Indonesia adalah melulu soal kontra, dan bicara soal kontra, berita terbaru seputar LGBT berkaitan dengan warung kopi gaul kebanggan anak nongkrong Indonesia: Starbucks.


Warung kopi berlogo putri duyung itu belakangan ini tengah gencar diserang oleh warganet di Indonesia. Penyebabnya jelas: CEO Starbucks, Howard Mark Schultz diketahui mendukung kesetaraan kaum LGBT. Pengurus Muhammadiyah dan Sekjen MUI Anwar Abbas pun menyerukan boikot pada gerai kopi internasional yang pertama hadir di Indonesia pada 2002 itu.

Perusahaan pendukung LGBT tak hanya Starbucks

Gara-gara ajakan untuk memboikot Starbucks, warganet Indonesia pun terpecah dalam dua kubu, yakni yang mendukung dan yang menentang. Mereka yang mendukung boikot tentu saja menggunakan dalih dukungan terhadap LGBT sebagai senjatanya. Bagaimanapun juga, LGBT adalah sesuatu yang dianggap tabu baik oleh agama maupun norma kemasyarakatan. Dukungan Starbucks pada kaum LGBT menjadi kekhawatiran tersendiri bagi sekelompok orang, karena dana yang masuk ke Starbucks dikhawatirkan akan disalurkan juga pada gerakan-gerakan yang mendukung LGBT. Ini juga bukan kali pertama Starbucks diancam boikot karena mendukung LGBT. Pada tahun 2012, Starbucks sempat diboikot oleh National Organization for Marriage, sebuah grup Kristen tradisionalis di Amerika Serikat, karena salah seorang eksekutif Starbucks menyatakan dukungannya pada legalisasi pernikahan sesama jenis.

Apple menyatakan dukungannya pada kaum LGBT – 9to5mac.files.wordpress.com

Sementara bagi mereka yang menolak boikot pada Starbucks, ada senjata tersendiri yang digunakan untuk melawan mereka yang mendukung boikot. Salah satunya adalah melalui daftar perusahaan asing lain yang terang-terangan mendukung LGBT. Mulai dari Apple, Microsoft, Google, Coca-Cola, Hodna, Adidas, Ford, Nike, Motorola dan masih banyak lagi. Ibarat kata, jika Apple saja telah mendukung kaum LGBT, lantas kenapa kamu-kamu yang memboikot Starbucks tidak ikut memboikot Apple dan malah bangga memakai produk-produk terkini lansiran Apple? Tak hanya itu, ada juga ‘senjata’ lain yang digunakan: “kalau kamu tidak pernah minum kopi di Starbucks, lantas kenapa khawatir uangmu disalurkan untuk kegiatan LGBT?”. Demikianlah warganet, selalu punya opini masing-masing dan selalu saling serang.

Starbucks dan petani kopi Indonesia

Seruan boikot Starbucks yang dinilai tebang pilih itu sebenarnya lebih masuk akal jika diarahkan ke hal lain. Maksudnya, tentu kita bisa bersama-sama membikot Starbucks, namun dengan konteks Starbucks bisa mengancam kelangsungan hidup petani kopi Indonesia. Sudah sejak lama kita semua tahu bahwa beberapa varian kopi Indonesia menjadi primadona di luar negeri. Starbucks pun memahami hal ini. Mereka mengimpor biji kopi dari Indonesia, menyangrainya di negara lain, lantas di ekspor kembali ke Indonesia dan dijual dengan harga selangit saat disajikan. Baik dalam bentuk minuman siap saji atau kemasan.

Beberapa kopi terbaik Indonesia jadi primadona di Starbucks – rumahmesin.com

Sejumlah negara lain pun pernah menyerukan boikot pada Starbucks karena hal ini. Starbucks disebut tidak menerapkan fair trade dengan petani kopi atau bahkan bisa mengancam pertumbuhan kedai kopi lokal. Bagi kamu yang belum tahu, perdagangan fair trade bisa memangkas mata rantai perdagangan yang berimbas pada keuntungan lebih baik bagi petani. Dengan sistem ini, konsumen diberikan tawaran untuk mengurangi kemiskinan petani atau penghasil produk saat mereka berbelanja. Produk berlabel fair trade biasanya dijual lebih mahal, tetapi marginnya dinikmati penghasil produk.

Warung kopi lokal nggak kalah kok dengan Starbucks – airyrooms.com

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran. Oleh karenanya, kalau kamu berkeras ingin memboikot Starbucks karena alasan mereka mendukung LGBT, maka boikot juga perusahaan lain yang menyatakan dukungannya pada kaum LGBT. Tapi kalau kamu tak mampu melakukannya karena masih gemar naik mobil Honda, pakai sepatu Adidas dan hobi pasang status galau di Facebook, maka tak usah memboikotnya karena alasan LGBT, tapi berbarislah untuk memboikot Starbucks demi kesejahteraan petani kopi Indonesia. Saya sih oke-oke saja kalau Starbucks bangkrut, yang penting kedai kopi lokal berkualitas di Indonesia terus bertambah dan mampu berkontribusi bagi kelangsungan hidup petani kopi.

168
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~