Perjuangan Seorang Anak Demi Menafkahi Ibu dan 7 Adiknya, Semangatnya Luar Biasa!

Salut!

Kekerasan terhadap muslim Rohingya memang ramai diberitakan beberapa waktu yang lalu. Dan nampaknya hingga kini pun, muslim Rohingya masih belum bisa menemukan kedamaian dan kehidupan sejahtera. Dibalik berbagai berita yang menyesakkan dada tentang Rohingya, ada satu kisah yang cukup menyentuh dari seorang anak berusia 12 tahun.

Baca juga : 4 Kasta yang Nggak Sadar Telah Tercipta dan Dilestarikan di Sekolah

Nur Hafes (Thomson Reuters Foundation News)

Kisah ini tentang seorang anak berusia 12 tahun bernama Nur Hafes. Dilansir dari laman reuters.com, Hafes merupakan salah satu pengungsi Rohingya di kamp Palong Khali, Bangladesh. Di usianya yang masih sangat belia, Hafes harus berjuang untuk membantu ibu dan 7 adiknya mencari nafkah. Bagaimana caranya? Hafes hanya mengandalkan sebuah payung.

Setiap harinya, dari pagi hingga petang, Hafes bekerja sebagai ojek payung untuk orang-orang yang berkunjung ke kamp pengungsian di mana ia tinggal. Dari menawarkan ojek payung ini, Hafes bisa mendapatkan uang untuk hidup sehari-hari.

Penghasilan dari ojek payung (nydailynews.com)

Tidak terlalu banyak, hanya sekitar 50 sampai 100 Taka atau setara dengan 0,6 dollar sampai 1,1 dollar (Rp8 sampai Rp15 ribu). Hasil yang diperoleh ini digunakan untuk membeli makan dan minum bagi ibu dan 7 orang adiknya. Tidak jarang Hafes pulang dengan tangan hampa tanpa sepeserpun uang.

Sudah sekitar 2 bulan Hafes menjadi ojek payung di sekitar pengungsian. Tak hanya jadi ojek payung, Hafes juga mengaku senang membantu orang-orang yang ada di sekitarnya. Meski masih sangat muda, Hafes yang menggemari sekolah dan sepak bola ini tergolong memiliki pemikiran dewasa, tidak seperti anak-anak seusianya.

Hasilnya untuk membeli makan dan minum (reutersmedia.net)

Menurut ibu Hafes, Rabia Khatun, di usianya yang baru 12 tahun Hafes sudah mengerti apa itu tanggungjawab. Tingkahnya tidak lagi seperti anak kecil, melainkan bertindak matang layaknya orang dewasa. Tak hanya mencari nafkah, Hafes juga bisa melindungi keluarganya dengan baik. Tak jarang dia mengajak 7 adiknya bermain dan belajar bersama di pengungsian.

Hafes dan ibu serta 7 adiknya (Thomson Reuters Foundation News)

Kisah Hafes ini telah menyentuh hati ribuan pengguna media sosial, bahkan orang-orang di seluruh dunia yang peduli dengan nasib etnis Rohingya. Meski dalam keadaan serba kekurangan da di bawah tekanan, Hafes tetap semangat dan tak pernah mengeluh.

Semoga saja Hafes dan etnis Rohingya lainnya bisa segera mendapatkan kehidupan yang jauh lebih layak.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Erinda

“You can if you think you can”

Inspiratif, 7 Bocah Ini Sudah Mengharumkan Nama Bangsa di Usianya yang Masih Belia

Bertahan dalam Hubungan yang Menyedihkan Itu Bukanlah Cinta, Tapi Ketakutan