Perjalanan Pulang Selalu Terasa Lebih Cepat Daripada Saat Berangkat, Inilah Penjelasan Ilmiahnya

Kamu pasti pernah banget ngalamin hal ini, sudah tau alasannya?

406
SHARES

Kamu yang suka berpergian ke tempat-tempat baru, mungkin pernah merasakan hal yang satu ini. Dimana waktu perjalanan pulang terasa lebih cepat dibandingkan dengan waktu saat keberangkatan. Misal saja, kamu pergi ke Bandung dari Jakarta, meskipun dengan rute yang sama dan membutuhkan waktu yang sama, namun perjalanan pulang ke Jakarta terasa lebih cepat dibandingkan saat berangkat ke Bandung.

perjalanan pulang terasa lebih cepat (akupaham.com)

Hal demikian menurut para ilmuan disebut dengan gejala “return trip effect”, atau efek perjalanan pulang. Banyak teori dan spekulasi yang membahas tentang terjadinya “return trip effect”  ini. Beberapa diantaranya ialah teori yang dikemukakan oleh para ahli berikut.

Teori familiaritas, teori tertua untuk “return trip effect”

Teori pertama dan tertua yang membahas tentang “return trip effect”, ialah teori familiaritas. Pada teori ini menjelaskan bagaimana “return trip effect” bisa terjadi kepada manusia. Hal itu disebabkan karena, saat perjalanan pergi otak masih asing dengan kondisi jalan, kondisi pemandangan pinggir jalan, dan titik-titik penting yang berada sepanjang jalan. Seperti trafic light, dan rambu-rambu lainnya.

Teori familiaritas perjalanan (lakeybanget.com)

Namun saat perjalanan pulang, otak sudah memahami kondisi jalan, dan sudah merekam apa-apa yang ada di sepanjang perjalanan itu. Hal inilah yang membuat otak merasa familiar dengan jalan tersebut dan bisa memprediksi titik-ttik penting sepanjang perjalanan. Saat kondisi tersebut, menyebabkan perjalanan pulang lebih terasa cepat. Biasanya saat mengalami hal ini, kamu akan berkomentar “kok tiba-tiba udah sampai titik ini saja yah, gak terasa!

Sebenarnya, jarak tempuh dan waktu tempuh antara perjalanan pergi dan perjalanan pulang itu sama saja. Namun karena kondisi otak yang sudah familiar dengan perjalanan pulang, membuat seakan-akan waktu tempuh keduanya berbeda.

Teori Pelanggaran Harapan Niels, kritik atas teori familiaritas

Sebelumnya, untuk menjawab terkait fenomena “return trip effect”, masyarakat sejak tahun 1950an hanya menjawab dengan teori familiaritas. Teori ini pun bertahan hingga bertahun-tahun tanpa ada yang coba menguji validitas teori tersebut. Baru pada tahun 2011, seorang  psikolog Universitas Tilburg, Belanda, yaitu Niels van de Ven, mempublikasikan teori barunya sebagai kritik atas teori familiaritas yang sudah berlaku sejak lama.

Teori peanggaran harapan Niels, kritik atas teori familiaritas yang banyak kekurangan (hipwee.com)

Niels awalnya melakukan kritik atas teori familiaritas. Sebab menurut Niels, jika fenomena  “return trip effect” bisa terjadi karena adanya pengenalan otak terhadap kondisi lingkungan jalan dan titik-titiknya, maka seharusnya hal itu tidak berlaku untuk perjalanan pada pesawat terbang. Sebab pada pesawat terbang perjalanan tidak mengenal kondisi jalan dan titik-titik penting perjalanan, seperti trafick light dan rambu-rambu lalu lintas. Sebab dalam jendela pesawat terbang hanya terlihat awan dan langit.

Namun nyatanya, saat Niels melakukan uji coba terhadap beberapa kelompok orang yang berpergian dengan menggunakan pesawat, mereka masih mengalami fenomena  “return trip effect”, atau efek perjalanan pulang tersebut.

Menurut Niels, teori familiaritas tidak berlaku dalam uji coba perjalanan dengan pesawat terbang (google.com)

Pada uji cobanya tersebut, Niels akhirnya mengemukakan jika  “return trip effect” terjadi bukan karena familiaritas otak terhadap kondisi jalan, namun karena adanya persepsi dan ekspetasi dari seseorang itu sendiri.

Niels kemudian menamai teorinya ini dengan sebutan teori pelanggaran harapan. dinamai teori pelanggaran harapan karena pada intinya,  “return trip effect” terjadi karena adanya tidak kesesuaian antara persepsi, ekspetasi dan realitas.

Menurut Niels adanya return trip effect karena ekpetasi dan realitas tidak sesuai (solusisehatku.com)

Misal saja, saat orang melakukan perjalanan pergi, maka ia akan optimis sampai tujuan dengan cepat dan menyenangkan. Namun karena fikiran optimis tersebut, otak akan memberontak agar cepat sampai, pada akhirnya perjalanan berangkat akan terasa lebih lama. Namun saat perjalanan pulang, otak akan mengalami hal pesimis.

Teori Richard A. Block

Teori selanjutnya yang menjelaskan tentang  “return trip effect” ialah teori yang dikembangkan oleh Richard A. Block. Ia merupakan seorang psikolog dari Montana State University. Teori yang ditawarkan oleh Richard terdengar lebih simple dan logis. Menurut Richard, adanya  “return trip effect” disebabkan oleh rasa keinginan seseorang yang menginginkan cepat sampai saat melakukan perjalanan berangkat.

Menurut Richard, adanya return trip effect disebabkan karena saat pergi seseorang cenderung ingin cepat sampai (lakeybanget.com)

Menurut Richard, seseorang biasanya akan menginginkan cepat sampai saat melakukan perjalanan pergi. Namun saat perjalanan pulang ia akan lebih santai. Hal inilah yang membuat konsentrasi waktu lebih banyak saat perjalanan pergi. Sehingga waktu terasa lebih lama.

Dari ketiga teori tersebut, para psikiater maupun ilmuan di dunia tidak ada yang mengatakan kemutlakan pada satu teori. Bahkan banyak yang menganggap, beberapa teori tersebut merupakan satu-kesatuan untuk menjawab fenomena  “return trip effect”.

406
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penikmat Dunia, Perindu Surga,