Mengkhawatirkan, Peringkat Kecerdasan Anak Indonesia Terus Merosot. Kira-kira Kenapa ya?

Kira-kira kenapa yah, pelajar Indonesia semakin bodoh?

Meskipun jumlah sarjana, dan anak terpelajar di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan, namun secara kualitas pelajar di negara kita justru mengalami kemerosotan.

Saat ini, secara kualitas kecerdasan, pelajar Indonesia masih tertinggal jauh dari beberapa negara tetangga kita, seperti Singapura, Jepang, atau Yordania.

Data tersebut sebagaimana didapatkan dari hasil riset yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), yang dilakukan tiga tahun sekali secara global.

pelajar stres dengan sistem pendidikan (tribunnews.com)

Dari riset tersebut, Indonesia menduduki peringkat ke 62 dari 71 negara. Hal ini sangat tertinggal jauh dari Singapura, yang menduduki peringkat pertama, disusul kemudian Jepang.

Adapun sistem peniliain riset ini melalui metode khusus dengan alat ukur kombinasi kemampuan membaca, sains, dan matematika, pada pelajar usia 15 tahun. Yang tidak kalah mengkhawatirkan, sejak tahun 2000, Indonesia selalu mengalami penurunan. Sedangkan negara lainnya mengalami trend peningkatan di peringkat ini.

kualitas pelajar di Indonesia (tamarpl.files.wordpress.co)

Menurut Head of Marketing Kraft Heinz ABC, South East Asia, Dhiren Amin, pada tahun 2000 yang lalu, kecerdasan anak Indonesia pernah menduduki di peringkat ke 38. Namun kini, di tahun 2018, peringkat kecerdasan anak Indonesia menurun drastis dan posisinya cukup mengkhawatirkan. Mengingat Indonesia merupakan negara yang besar dan kaya.

Adapaun menurut Marketing Manager Kraft Heinz ABC, Anisa Ardila Putri mengatakan, terus menurunnya posisi peringkat kecerdasan anak Indonesia di internasional tidak hanya dipengaruhi oleh penilaian membaca, sains, dan matematika.

Menurunnya kualitas pelajar di Indonesia – www.jakartashimbun.com

Namun menurut Anisa, ada penilaian lain yang tidak kalah penting. Yakni pengaplikasian pemahaman pelajaran di kehidupan sehari-hari. Jadi, tidak sedikit anak Indonesia yang sebenarnya ia berprestasi di bangku sekolah. Namun di kehidupan sehari-hari, ia justru gagal dalam bersosialiasi.

Padahal, tujuan pendidikan paling utama ialah mengatur bagaimana hubungan antar manusia bisa terjalin dengan baik.

Untuk meluapkan kegembiraannya banyak pelajar yang mencoret-coret seragamnya (sumutpos.co)

Jika kita berkaca dengan beberapa negara yang memiliki kualitas pendidikan sangat baik, maka ada beberapa aspek yang memang menjadi faktor merosotnya kualitas pendidikan kita.

Dimulai dari sistem pendidikan yang masih berpegang pada sistem kolot. Padahal sistem tersebut sudah kurang relevan dengan ilmu pengetahuan yang mengalami perkembangan begitu cepat dan pesat. Seperti adanya sistem ujian nasional yang hal ini justru tidak dipakai di negara dengan kualitas pendidikan terbaik seperti Singapura, maupun Finlandia.

Apapun alasannya, tawuran hanya akan merusak masa depan pelakunya. (youtube.com)

Kedua, pergaulan pelajar kita juga perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Tentu kita masih ingat dengan sebuah laporan jurnasil luar negeri yang menyatakan Indonesia merupakan surganya rokok bagi anak-anak, khususnya usia pelajar.

Ketiga, kualitas dan kesejateraan dewan pengajar yang sampai saat ini belum juga terselesaikan. Tidak dipungkiri, peran guru sangat berpengaruh terhadap kualitas pelajar kita.

Pelajar merokok masih banyak ditemui hingga saat ini,
bahkan pelajar putri dan pelajar SD (gws17galih.blogspot.com)

Jadi, jika negara ingin memiliki pelajar yang berkualitas, maka dewan pengajar kita perlu diperhatikan kualitas dan kesejahteraannya.

Written by Amin Aulawi (Aw)

Amin Aulawi (Aw)

Salah Seorang yang Meyakini Lucinta Luna Itu Perempuan Tulen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *