Kisah Pengorbanan Para Ayah yang Bikin Kamu Nangis Rindu Orangtua

Apapun orangtua korbankan demi kebahagiaan sang anak

Tidak ada yang perlu diragukan dari perjuangan orangtua untuk kebahagiaan sang anak. Harta, jiwa, raga, dan nyawa, rela ia korbankan hanya agar melihat anaknya bisa tersenyum mendapatkan apa yang ia cita-citakan.

ayah dan anak
ayah dan anak

Mungkin itulah sedikit ungkapan untuk menggambarkan betapa besarnya jasa orang tua untuk anaknya. Seperti pada kisah-kisah menyentuh ini, dimana seorang ayah rela berjuang sekuat tenaga demi kebahagian anak-anaknya.

Kisah pemulung berjuang sekuat tenaga agar anaknya menjadi sarjana

Satu kisah menyentuh dibagikan oleh akun facebook GMB Akash. Kisah dimana seorang ayah yang bekerja sebagai pemulung, bercita-cita ingin menyekolahkan anak gadisnya sampai ke bangku kuliah.

Ia selalu menyembunyikan pekerjaannya kepada anak-anaknya. Bukan tanpa alasan, ia hanya tidak ingin melihat anaknya malu memiliki seorang ayang yang bekerja sebagai pemulung.

Kisah seorang ayah yang bekerja menjadi pemulung (jerusalembaru.blogspot.co.id)

Untuk menutupi pekerjaannya tersebut, setelah bekerja sang ayah selalu mandi di toilet umum agar saat ia pulang ke rumah, ia sudah dalam kondisi bersih. Meskipun hanya bekerja sebagai pemulung, sang ayah sangat menginginkan anak-anaknya tumbuh dengan pendidikan yang cukup.

Ia sangat berharap dengan pendidikan, kelak sang anak bisa hidup bermartabat. Tidak seperti dirinya yang selalu direndahkan, dihina, dan dipermalukan oleh orang-orang.

Sebagai seorang pemulung, tentu ia tidak memiliki uang banyak untuk ditabung. Ia pun terpaksa tidak pernah membeli baju demi anaknya bisa membeli buku dan seragam sekolah.

Kisah yang diunggah di facebook (facebook.com/gmbakash)

Namun kendala untuk mencapai cita-cita selalu ada, saat putrinya hendak masuk ke perguruan tinggi, ia kesulitan untuk mendapatkan biaya. Ia pun sempat kecewa pada dirinya sendiri dan menganggap ia sebagai ayah yang gagal.

Hingga suatu keajaiban datang, teman-teman sesama pemulung mengumpulkan uang untuk membantu biaya kuliah anaknya. Perjalanan hidup terus berlanjut hingga sang anak sudah bekerja. Kini ia membalas kebaikan sang ayah dan para pemulung lainnya dengan sering mengunjungi tempat ayahnya bekerja dengan membawa makanan untuk makan bersama.

Kisah mantan penjahat yang rela bertaubat agar anak angkatnya bisa sekolah

Kisah lain yang tidak kalah mengharukan datang dari Manila, Filipina. Dimana seorang yang lahir dari keluarga kurang mampu dibesarkan dengan kurang kasih sayang setelah sang ayah meninggal disaat ia bayi.

Ia tumbuh dewasa tanpa perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Jika ia lapar, ia tidak segan-segan untuk mencuri. tidak hanya itu baginya berkelahi sudah menjadi hal biasa. Hingga suatu ketika ia melihat ibunya ditampar oleh seseorang, dengan segera ia menikam orang tersebut tepat di dadanya, hingga dirinya masuk penjara.

Mantan preman yang bekerja sekuat tenaga untuk menyekolahkan anak angkatnya (instagram.com/humansofny)

Dengan predikat orang jahat, pencuri dan pembunuh, lantas tidak menjadikan pria bertato ini tidak mementingkan nilai kemanusiaan. Setelah ia keluar dari penjara, ia mengadopsi anak yang terlahir dengan kekurangan gizi akibat kemiskinan orang tuanya.

Kini ia bekerja sekuat tenaga agar anak angkatnya tersebut bisa mendapatkan pendidikan dan tidak seperti dirinya yang dibesarkan dalam lingkungan kejahatan.

Kisah seorang ayah menjual ginjal demi menebus ijazah sang anak

Di Indonesia, ada juga kisah haru perjuangan seorang ayah agar anaknya bisa sekolah. Ialah kisah Sugianto yang rela menawarkan ginjalnya demi bisa menebus ijazah SMP dan SMA anaknya yang ditahan oleh pihak yayasan, karena belum melakukan pelunasan pembayaran.

Sugiono dan anaknya saat menawarkan ginjal ke pengguna jalan (tempo.co)

Kisahnya bermula saat Ayu, sang anak ingin keluar dari yayasan yang selama ini ia menempuh pendidikan dari jenjang SMP sampai SMA. Namun pihak yayasan tidak membolehkan kepergian Ayu sebelum melunasi pembayaran Ijazah SMP sebesar 7 Juta, dan SMA sebesar 10 Juta.

Mendengar kabar tersebut, sang ayah yang bekerja sebagai buruh hanya bisa pasrah. Karena merasa tidak ada lagi yang bisa dijual, Sugianto pun akhirnya menawarkan ginjalnya kepada pengguna jalan di bundaran HI.

Demi sang anak apapun ia korbankan (liputan6.com)

Ketiga kisah di atas setidaknya mengingatkan kita, betapa besar perjuangan orangtua kepada anaknya. Lantas, sudahkah kita peduli dengan orangtua kita? Sudahkah kita membahagiakan mereka? Sebelum menyesal, bahagiakanlah para orangtua selagi mereka masih ada.

Written by Aulawi (Aw)

Aulawi (Aw)

Salah Seorang yang Meyakini Lucinta Luna Itu Perempuan Tulen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *