Orang yang Paling Bahagia Adalah Mereka yang Tak Butuh Pembuktian di Media Sosial

Karena bagi mereka kebahagiaan ada di dunia nyata, bukan dunia maya

Bisa dibilang, media sosial saat ini menjadi kebutuhan “pokok” bagi sebagian orang. Tak hanya sebagai sarana komunikasi, medsos juga difungsikan untuk mencari rezeki serta pembuktian dan eksistensi diri.

Baca juga : Soal Cinta Sejati, Inilah 3 Ciri Utama dari Cinta Sejati. Kamu Merasakan Ketiganya?

Orang bahagia tak butuh pembuktian di media sosial (thoughtcatalog.files.wordpress.com)

Karena itu, rasanya sudah sangat biasa melihat postingan atau status yang berbau pamer bersliweran di timeline maupun beranda. Kebanyakan orang-orang akan memposting sesuatu yang menunjukkan kebahagiaan, momen istimewa, apa yang dialami, hingga kegiatan sehari-hari. Tujuannya jelas, untuk mendapatkan apresiasi dan pengakuan dari orang lain.

Namun, dengan melakukan pembuktian di media sosial apakah bisa menjadi jaminan kebahagiaan yang sesungguhnya? Karena nyatanya, orang yang benar-benar bahagia tidak perlu membuktikannya, apalagi diumbar di media sosial.

Yang benar-benar bahagia lebih sibuk di dunia nyata

Bisa dibilang, orang yang hidupnya bahagia cenderung jarang menunjukkan diri di media sosial. Bukan karena tak ada yang bisa dibagikan. Sebaliknya, orang bahagia lebih sibuk di dunia nyata hingga hanya memiliki sedikit waktu untuk dunia maya. Lagipula, ia merasa tak perlu memamerkan kebahagiaan hanya untuk mendapat perhatian banyak orang.

Yang benar-benar bahagia lebih sibuk di dunia nyata (rd.com)

Orang yang bahagia juga tak ingin buang-buang waktu. Ia merasa aktivitasnya di dunia nyata jauh lebih penting dan menyenangkan daripada hanya duduk dan menatap layar media sosial. Yang paling penting, kebahagiaan yang dia rasakan tidak perlu dibuktikan. Cukup dirasakan diri sendiri dan orang-orang terdekat.

Tau mana yang jadi prioritas

Orang yang bahagia sadar betul bahwa masalah dan urusan pribadi tidak sepantasnya diumbar untuk khalayak umum. Ia memiliki prioritas siapa saja yang berhak tau dan siapa saja yang harus ikut merasakan apa yang ia rasakan, terutama kebahagiaan.

Tau mana yang jadi prioritas (psychologies.co.uk)

Oleh karena itu, orang seperti ini lebih memilih menghabiskan waktu bersama orang terdekat secara nyata daripada terpaku pada layar menanggapi orang-orang yang belum tentu dikenal.

Jika orang-orang terdekat sudah merasakan kebahagiaan seperti yang ia rasakan, itulah pembuktian yang sebenarnya. Ia tak butuh apresiasi dan pujian dari orang lain, selain orang tersayang.

Tapi bukan berarti dia tak mau berurusan dengan media sosial

Baginya, media sosial hanya sebatas wadah berbagi informasi, bukan untuk mengumbar masalah pribadi. Bijak menjadi kunci penting baginya. Misalnya saja ingin memposting foto traveling, orang bahagia selalu bicara tentang destinasi, bukan pamer wajah sendiri. Berbagi informasi tentang lokasi, atau sekedar mengungkapkan kekaguman menjadi poin penting dalam caption.

Tapi bukan berarti dia tak mau berurusan dengan media sosial (skim.gs)

Media sosial juga menjadi wadah penting untuk menyebar kebaikan dan berbagi manfaat. Daripada untuk menyombongkan prestasi, orang bahagia lebih memilih untuk membagikan motivasi dan inspirasi yang bisa membantu membangkitkan semangat orang lain.

Jadi, tak pernah muncul di medsos bukan berarti hidup tidak bahagia atau tidak berwarna. Bisa jadi orang-orang yang “bersembunyi” ini memiliki kehidupan yang jauh lebih menyenangkan daripada mereka yang hanya sibuk pencitraan dan mencari pembuktian.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Erinda

“You can if you think you can”

Daripada Dijadikan Kelemahan, Akan Lebih Bijak Jadikan Mantan Sebagai Motivasi Menuju Kebahagiaan

Belajarlah Mengatasi Cemburu Agar Kamu Tak Terus-menerus Murung Seperti Itu